Mengubah dan Menggabungkan Beberapa Berkas JPG menjadi Satu Berkas PDF

Kadang kita perlu mengubah beberapa berkas gambar (misalnya dalam format JPG) menjadi satu berkas PDF agar lebih mudah membacanya. Misalnya hasil pindaian dokumen atau komik yang diunduh dari internet. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana dengan fasilitas yang sudah tersedia di Mac OS.

Pertama, tentunya siapkan dulu berkas gambarnya. Diasumsikan bahwa Anda sudah memindai dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format gambar (JPG, PNG dll). Atau Anda mengunduh berkas gambarnya dari internet. Sebagai contoh di sini, saya pakai komik H2O yang bisa diunduh gratis di http://kolamkomik.com/.

Screenshot 2012-12-12 at 16.51.16

Setiap berkas JPG adalah satu halaman komik. Perhatikan bahwa penamaan berkas sudah diatur supaya halamannya urut. Berkas paling atas adalah halaman sampulnya.

Di jendela Finder tersebut, ketik Cmd-A (select All). Atau kalau di folder tersebut ada berkas lain yang tidak mau digabungkan, pilih berkas yang mau digabungkan dengan tetikus.

Lalu buka berkas-berkas tersebut dengan Preview. Kalau Preview adalah aplikasi default untuk membuka berkas JPG, Anda tinggal mengetik Cmd-O. Kalau tidak, klik-kanan pada berkas yang dipilih, lalu pilih “Open with…” dan pilih Preview.

Screenshot 2012-12-12 at 16.56.02Preview akan membuka semua berkas tadi dalam satu jendela. Langkah berikutnya, ubah berkas tersebut menjadi PDF. Klik di kolom thumbnail (kolom kiri) atau klik salah satu thumbnail, lalu tekan Cmd-A (select All).

Sebelum lanjut ke langkah berikutnya, kita perlu pastikan dulu bahwa semua berkas gambar mempunyai resolusi yang sama. Kalau tidak, ketika diubah menjadi PDF nanti ukuran halamannya bisa bervariasi, walaupun ukuran pikselnya sama. Pilih menu Tools –> Adjust size… Jika berkas-berkas gambar tadi mempunyai resolusi yang tidak seragam, maka kotak “Resolution” akan berisi tulisan “Multiple Values”. Kotak ini harus berisi suatu nilai. Masukkan suatu nilai antara 50 s.d. 200 — cobalah bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang paling nyaman dilihat.

Lalu pilih menu File –> Export Selected Images… Pilih “PDF” untuk formatnya, dan pilih folder untuk menyimpan berkas PDF (bisa di folder yang sama dengan berkas aslinya). Sekarang semua berkas telah berubah menjadi PDF, tetapi masih terpisah-pisah. Tutup jendela Preview (Cmd-W atau File–>Close).

Untuk menyatukan berkas-berkas PDF tadi, buka folder tempat menyimpan berkas PDF tadi. Pilih semua berkas (Cmd-A), lalu klik-kanan, pilih “Open with…” dan pilih Preview.app. (Kalau aplikasi default di komputer Anda untuk membuka berkas PDF adalah Preview.app, maka pada langkah di atas Anda tinggal tekan Cmd-O).

Sekarang semua berkas PDF akan terbuka dalam satu jendela Preview.app. Ingat bahwa semua berkas masih terpisah-pisah. Klik ikon di kiri atas dan pilih “Contact Sheet”.

Screenshot 2012-12-12 at 17.06.48Tekan Cmd-A. Lalu tekan tombol Command dan klik di berkas pertama (yang nantinya akan menjadi halaman pertama buku komik ini).

Screenshot 2012-12-12 at 17.10.46

Sekarang, seret (click-drag) berkas mana saja (kecuali berkas pertama), lalu jatuhkan di thumbnail berkas pertama. Perhatikan bahwa ikon pointer tetikus akan berubah menjadi tanda tambah, yang artinya ada proses salin-rekat terhadap berkas pertama.

Screenshot 2012-12-12 at 17.13.43

Perhatikan bahwa berkas pertama sekarang berisi sekian banyak halaman. Secara default (untuk versi Preview.app sejak Mac OS Lion) berkas tersebut sudah disimpan sebagai berkas PDF multi-halaman. (Saya tidak tahu apakah trik ini berlaku di Preview.app pra-Mac OS Lion; seandainya iya, mungkin masih harus Save-as secara manual).

Selesai. Tutup jendela Preview.app tadi, lalu kembali ke folder tempat penyimpan berkas PDF tadi. Berkas pertama sudah berisi halaman-halaman dari berkas yang lainnya. Anda bisa menghapus berkas PDF selain berkas halaman pertama tadi, yang sekarang sudah menjadi buku yang lengkap.

NB: terima kasih untuk para pembuat komik H2O yang menyediakan komik gratis ini.

Iklan

“Zero Tolerance”

Pagi ini, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi terhadap saya.

Dalam perjalanan ke kantor, ban mobil saya kempis. Saya merasakan getaran yang tidak biasa di ban belakang sebelah kanan, dan kemudian ada pengendara motor yang menunjuk ke arah ban saya. Segera saya menepi, keluar dari mobil dan mengecek ban. Ternyata ban sudah kempis total. Entah kempis perlahan-lahan, atau tiba-tiba langsung kempis total. Saat itu, saya masih ingat untuk mengunci pintu kendaraan.

Ya, itu adalah prosedur standar yang saya terapkan: jika ada masalah di jalan, menepilah jika situasi tidak terlalu rawan; dan selalu kunci pintu mobil. Kebetulan lokasi kejadian sudah dekat dengan kantor, dan pastilah banyak rekan-rekan kantor yang lewat di tempat itu. Jadi saya tidak ragu untuk menepi, dan saya merasa sudah melakukan langkah pengamanan secukupnya dengan mengunci pintu mobil.

Kemudian saya mengeluarkan dongkrak dan mencoba menurunkan ban cadangan. Ketika harus membuka pintu belakang (mobil yang saya pakai jenis mobil penumpang multiguna), saya membuka kuncinya secara manual (bukan dengan central lock). Jadi pintu samping masih aman. Tetapi karena alarm berbunyi (karena pintu belakang dibuka), saya membuka central lock. Kemudian saya mengendorkan baut roda dan mencoba menurunkan ban cadangan. Tetapi ada masalah dengan engkol untuk menurunkan ban cadangan. Jadi saya menelpon rekan kantor untuk minta bantuan. Sambil menunggu datangnya bala bantuan, saya berdiri di belakang mobil dengan posisi menghadap mobil, sehingga saya akan bisa melihat kalau ada orang mendekat.

Sejauh ini belum ada masalah. Saya menggeser ransel saya, yang tadinya ada di jok tengah sebelah kiri, ke lantai sebelah kanan. Tetapi saya tidak mengunci pintu. Karena saya merasa saya dalam posisi siaga mengawasi lingkungan sekitar. Apalagi ketika dua rekan kantor datang dan mulai membantu membongkar ban yang kempes serta menurunkan ban cadangan, saya merasa sudah aman.

Nah di sinilah masalahnya. Ketika satu rekan sedang memasang ban, saya berjongkok sambil mengawasinya. Satu rekan lagi juga sedang jongkok di belakang mobil. Tiba-tiba terasa ada seseorang menaiki mobil karena kedudukan m0bil bergoyang. Rekan yang sedang di belakang tadi segera berdiri dan melihat pintu tengah kanan sudah terbuka, dan dia melihat seseorang berlari dari arah mobil menuju sepeda motor yang menunggu beberapa meter di depan mobil, membawa sesuatu yang seperti ransel. Ransel saya.

Singkat cerita, ransel tersebut raib dengan isi yang cukup berharga dan bernilai.

Yang perlu saya bahas di sini adalah prosesnya. Hanya satu kesalahan saya: tidak mengunci pintu, dan merasa aman dengan adanya teman. Dan satu kesalahan kecil inilah yang menyebabkan musibah tersebut. Bukan karena saya tidak tahu mengenai risiko bahaya kecurian dengan modus seperti itu, tetapi karena saya lalai menerapkan prosedur pencegahannya.

Ada istilah “Murphy’s Law” yang bunyinya kira-kira “Anything that can go wrong, will go wrong“. Maksudnya, kira-kira: jangan menganggap bahwa suatu bencana atau musibah tidak akan terjadi. Kita tidak akan tahu kapan bencana atau musibah terjadi, oleh karena itu kita harus siap siaga setiap saat. Kita harus menetapkan dan melaksanakan prosedur untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun seringkali orang mengabaikan prosedur semacam ini dengan dalih “ah, aman kok. Nggak akan terjadi apa-apa”.

Asas zero tolerance (dalam konteks manajemen risiko)  adalah sikap disiplin dalam menerapkan prosedur, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Ketika suatu prosedur dikompromikan — seperti yang saya lakukan di atas — maka terbuka peluang terjadinya bahaya, yang bisa menimbulkan kerugian materi dan cedera, atau bahkan kematian. Maka itu, marilah kita terapkan sistem zero tolerance ini!

NB: musibah juga bisa terjadi karena faktor luar sepenuhnya, yang di luar kendali kita, sehingga apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, mungkin tidak akan bisa menghindarkan kita dari kejadian itu atau pun mengurangi dampaknya. Bukan berarti kita hanya bisa pasrah, tetapi kita harus terus waspada dan taat kepada prosedur yang sudah ada.

PS: ada satu lagi kelalaian saya dalam kasus ini, yaitu belum membuat cadangan (backup) data di laptop, yang ikut raib bersama ransel saya. Sebelumnya saya sudah mempunyai kebiasaan membuat cadangan data secara teratur. Tetapi, ketika saya menggunakan komputer baru (yang baru saya pakai 2 bulanan), sistem backup yang lama tidak sesuai dan harus dimodifikasi. Dan, saya selalu berpikir: “nanti, kalau sudah ada waktu, saya akan bikin sistem backup untuk komputer yang baru ini“. Sayangnya janji ini terlambat terlaksana… sangat terlambat.

Convert scanned documents to editable text – For Free!

Notice: see the update at the bottom of this post because there has been some changes with how Google Docs works.

Sometimes you have scanned documents and want to convert the image into text for easy editing. “Optical Character Recognition” (OCR) softwares have been available for a long time for this purpose. However, the effectiveness of OCR software is usually proportional to the price — better result, higher price and v.v.

There’s one free alternative, though. Google docs. Here’s how.

1. Have a Google account (you can borrow someone else’s, but really, why not create your own if you don’t have one?)

2. After logging in to your Google account, go to https://docs.google.com

3. Click the “upload” button

You can upload single files or folders containing several files. For now let’s try just one file.

4. After you select your file(s), a dialog box will appear.

Check the “Convert text from PDF and image files to Google documents” option which starts the magic.

5. When the upload is successful and finished, it will appear in your list of documents.

6. Now initiate download. Check the checkbox in front of the file’s name. Then click the “More” button (it would be invisible if no files are selected). Choose “Download” from the drop-down menu.

7. Another dialog will appear to confirm the download and choose the format. Since you’d want to edit the file in a text editor or word processor, choose the format that you prefer (there are plain text, rich text, HTML,  MS Word and Open Document formats). Then click Download.

8. Voila, your document is ready for text editing! (Look in your browser’s default download folder.)

Caveat:

  1. With any OCR software, the success rate depends on the quality of the scan, in particular the contrast, sharpness, resolution, and alignment.
  2. There are limits on how big and how many files you can upload at a time.
  3. If you’re concerned about your file’s secrecy, delete the document from Google doc after you’ve downloaded the OCR-ed file. However, I can’t guarantee that Google will not keep a copy in its cache, and whether it will not make it public. If this doesn’t comfort you, then you’d better buy your own OCR software.

Update 2012/08/06

Google docs has slightly changed the interface during upload. Now there’s no more confirmation dialog for the upload settings; instead, it will upload your files right away. While the upload is still in process, you’ll see the upload progress window; there on the top bar of this window you’ll see “Settings”, if you click on this, a drop down menu will appear with three options. Check the “Convert text from uploaded PDF and image files” option for the OCR.

Update 2015/09/18

Google Docs is now called Google Drive, but Google Docs is still there in Google Drive (go figure). Anyway, OCR still works, albeit through different steps. Now you just upload your scanned texts on to your Google Drive. It will be stored as graphics in Drive. Open your Drive folder where you keep the image. Right-click on the file, then choose “open with — Google Docs”. A new Google Docs document will be opened in a new tab or window with the texts from your image.

Menentukan ‘toleransi’ alat ukur

Di milis forumkalibrasi@yahoogroups.com muncul sebuah pertanyaan: “bagaimana cara menentukan toleransi alat jika alat tersebut benar2 baru dan baru akan dikalibrasi?”

Sebelum membahas “bagaimana menentukan toleransi alat ukur”, kita bahas dulu makna “toleransi”.

Tolerate yang menjadi akar kata tolerance (toleransi), oleh New Oxford American Dictionary diartikan kira-kira “mampu menanggung sesuatu (yang buruk) tanpa efek buruk”. Kalau diartikan lebih bebas, toleransi berarti: kemampuan menerima suatu penyimpangan (dari kondisi ideal) tanpa terjadinya efek yang buruk.

Dalam dunia industri, toleransi merupakan bagian dari spesifikasi suatu produk. Dalam konteks ini, toleransi dapat diartikan “besarnya perbedaan antara kondisi aktual dibandingkan kondisi ideal, sejauh bahwa perbedaan tersebut tidak sampai mengakibatkan kegagalan fungsi maupun penurunan fungsi yang signifikan”. Misalkan sebuah komponen mesin mempunyai spesifikasi ukuran 90 mm dengan toleransi ±0,1 mm. Ini berarti bahwa komponen tersebut masih dapat berfungsi dengan baik asalkan ukurannya di antara 89,9 mm dan 90,1 mm.

Setelah melalui proses produksi, hasil yang diharapkan adalah suatu produk yang memiliki ukuran atau sifat-sifat lain sesuai spesifikasi dan toleransi yang telah ditetapkan. Karena itu dilakukan pengujian mutu terhadap produk tersebut, dengan cara melakukan pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan spesifikasi tadi. Jika hasil pengukuran menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai ukuran sesuai dengan spesifikasi, maka produk tersebut dinyatakan “sesuai dengan spesifikasi”.

Di dalam proses pengukuran tadi, terdapat sumber-sumber ketidakpastian pengukuran, sehingga hasil pengukuran pun mempunyai nilai ketidakpastian pengukuran. Maka dalam paradigma terbaru, penilaian kesesuaian (conformity assessment) harus memperhitungkan nilai ketidakpastian dan nilai pengukuran. Suatu produk baru dapat dikatakan “sesuai dengan spesifikasi” jika memenuhi ketentuan:

E + U ≤ T

dengan:

  • E = penyimpangan dari spesifikasi (absolut)
  • U = nilai ketidakpastian pengukuran (pada tingkat kepercayaan 95 persen)
  • T = toleransi untuk produk tersebut (absolut)

Dengan kata lain, nilai ketidakpastian pengukuran harus lebih kecil daripada toleransi yang diberikan untuk produk yang diukur. Idealnya nilai ketidakpastian pengukuran besarnya sepersepuluh dari toleransi, atau dalam kondisi terburuk, nilai ketidakpastian pengukuran diharapkan tidak lebih dari sepertiga toleransi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa “toleransi” berkaitan dengan produk yang diukur, bukan dengan alat ukurnya. Untuk alat ukur, VIM (kosakata metrologi internasional) 2008 memberikan istilah maximum permissible error (MPE). Antara MPE dan toleransi memang ada kesamaan makna, tetapi dianjurkan untuk tidak dicampuraduk.

Kembali ke proses di atas, maka seharusnya urutan yang benar adalah:

  • spesifikasi dan toleransi (T1) untuk sebuah produk ditetapkan;
  • pengukuran terhadap produk tersebut dilakukan dengan sistem pengukuran yang mempunyai ketidakpastian pengukuran (U1) cukup kecil dibandingkan toleransi T1;
  • alat ukur yang dipakai dalam sistem pengukuran tersebut dikalibrasi menggunakan sistem kalibrasi yang dapat memberikan nilai ketidakpastian pengukuran (U2) lebih kecil daripada U1;
  • dan seterusnya.

Jadi, pada saat kita akan mengalibrasi alat ukur, harus sudah jelas dulu berapa MPE (bukan toleransi) untuk alat ukur tersebut. Baru kita mengevaluasi ketidakpastian pengukuran dari kalibrasi tersebut, supaya kita bisa menilai apakah ketidakpastian pengukuran tersebut memadai (cukup kecil) dibandingkan MPE-nya.

Ibaratnya, kalau mau mengemudikan sebuah kendaraan, tentukan dulu tujuannya! Jangan mulai menjalankan kendaraan kalau kita belum tahu ke mana tujuannya. “Toleransi objek ukur” adalah tujuan yang ingin dicapai; pengukuran atau kalibrasi alat ukur dan evaluasi ketidakpastian adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.

How my Gmail account got hacked into

My Gmail account got hacked into.

You’ve probably received a number of emails from people you know or people with whom you have exchanged emails, but the content of the emails is suspicious. This is a common occurrence in which someone’s email account has been used without his/her consent by someone else, often with malicious intent. In short, we say his/her email account has been hacked into. The hacker uses the hacked account to (1) spread spam messages, or (2) spread malware (commonly known as “virus”, although not all malwares are virus). Either way, it’s unpleasant for both the original email account owner and the recipients of such emails.

This can happen in several ways:

  1. The hacker sends an email to the target, posing as an “administrator” of the email provider; tricking the account owner to disclose their account name and password (and also other irrelevant information such as age, phone number, mother’s maiden name etc.). The target, not being able to distinguish a legit notice from a bogus one, dutifully disclosed the said information. The hacker then gains the target’s email account name and password, and can now log in to the account and send spam emails. This method is commonly known as “phishing”.
  2. The victim’s computer has been infiltrated by “spyware program”, which is a program designed to record the victim’s activity on the computer; especially what internet address he/she visits and what keys are pressed on the keyboard. With this method, it is possible for the spyware to record the victim’s email password when the victim attempts to log in to his/her email account. The spyware then send this information to its owner, who then gains control of the victim’s email account. Else, the spyware may send email from within the victim’s computer, using the credentials it gained from the victim. How did the spyware got in the victim’s computer in the first place? As any malware, it can enter the victim’s computer when somebody installs or downloads unsecured program on the computer.

Back to my story: so how did I found out that my account has been hacked, and what did I do about it?

This morning when I tried to check my Gmail account, it says that an “unusual activity” has been detected on my account. Gmail  wouldn’t allow me to check my inbox right away; instead it asked me to verify my account by sending a code to my phone through SMS; I then had to enter this code through Gmail. When the verification passed, Gmail asked me to change my password, which I did. After that I was able to enter my Gmail account.

Upon checking my inbox, I found one email supposedly sent by me, to a number of email addresses to which I have sent email in the recent weeks. My Gmail activity log shows one access from Argentina around the time that email was sent. The content of the email was meaningless sentences with one link to a web page, which I did not bother to open. The most pleasant discovery was that Gmail blocked all these outgoing email! So none of these spams were delivered to the intended recipients.

Gmail 1, hacker 0.

So how did I got hacked? Since I normally only access my Gmail from my macbook (which I did not share with anybody except my wife, and that is very rarely; and I still believe that macs are malware proof) and my mobile phone (which I never lend to anybody either), there’s little chance anybody could have snooped on my password. But I recall that two days ago, I accessed my Gmail from my wife’s computer, and that’s the only instance in the past 30 days that I accessed my Gmail other than through my macbook or my phone. I’ve used my wife’s computer a few times before to access my Gmail, and knowing that my wife is not the type of person who likes to experiment with software, it’s not likely that she is directly responsible for letting in the spyware in her computer. But what about other people who used her computer?

So I checked my wife’s computer, and sure enough: someone installed a software, which is not familiar to me, and not likely to be related to my wife’s activity. I also checked the download history, and found out that someone had been accessing a website which hosts movie files, and a movie (looks like an anime) had been downloaded to the computer. Then I asked my wife, and she confirmed that two days ago someone (a member of our extended family) had borrowed her computer.

Though I cannot ascertain that this person is the culprit, there is a large probability that he might have been. Maybe the software he downloaded was contaminated with malwares. I can’t be sure, but it’s possible.

For now, I advised my wife not to use her computer to check her email for a while, whilst I learn how to get rid of the spyware. I’m not a Windows user, so I’m not used to dealing with malwares like this.

Lessons from this story:

  1. Be careful with spywares and any malware in general. If you use a malware-prone operating system, exercise care by not downloading or installing softwares except the ones you trust. Pirated softwares and media files (movies and music) are one of the most vulnerable entry point of malwares. Use a software to detect, block and remove malwares; or change to a malware-proof operating system.
  2. Use an email provider with good protection. In my case, I have proven that Gmail is good at preventing spam through its system. Another popular free email provider, however, is notorious for letting such attack goes on and on (look at your inbox, and you might observe that such email that you receive are all, if not mostly, from that email provider).

Note 1: I use the term “hacker” in neutral tone; there are good hackers and bad hackers. Obviously I’m talking about bad hackers here.

Note 2: I’m not affiliated to  Gmail/Google nor Apple.

Mencegah Tabel Terpotong di Dokumen

Jika dalam sebuah dokumen word processor terdapat tabel, terkadang tabel itu terpotong batas halaman sehingga bagian atas tabel itu muncul di bagian bawah halaman, dan bagian bawah tabel muncul di awal halaman berikutnya. Hal ini seringkali tidak diinginkan, karena mengurangi estetika dokumen. Kecuali jika tabel itu memang sangat panjang sehingga terpaksa harus dilanjutkan di halaman berikutnya. Ada cara untuk mencegah pemenggalan tabel dalam dokumen, seperti diuraikan di bawah ini.

NB: Jangan lakukan langkah di bawah ini untuk tabel panjang yang memang tidak bisa muat dalam satu halaman, karena bisa menyebabkan bagian bawah tabel tidak kelihatan sama sekali.

OpenOffice.org Write

OOo Write memberikan opsi untuk mencegah pemenggalan tabel. Caranya, klik pada tabel, lalu buka menu “Tabel” — “Tabel Properties…”. Di bawah tab “Text flow”, kosongkan pilihan “Allow table to split accross pages and columns”, lalu klik OK. Maka secara otomatis tabel ini akan dijaga supaya tidak terpenggal.

Microsoft Word

MS Word agak sedikit kurang praktis dalam hal ini, karena tidak ada opsi seperti pada OOo Write yang diuraikan di atas. Jalan keluarnya adalah dengan menggunakan opsi format paragraf. Caranya: pilih baris pertama hingga baris kedua dari bawah pada tabel. Lalu buka menu “Format” — “Paragraph”. Di bawah tab “Line and Page Breaks”, centang pilihan “Keep with next”. Pilihan “Keep with next” pada suatu paragraf menyebabkan paragraf tersebut selalu bersatu dengan paragraf di bawahnya. Dengan demikian, baris-baris dalam tabel itu selalu bersatu dengan baris di bawahnya. Awas, baris terakhir dalam tabel jangan diformat “Keep with next”, karena ini akan menyebabkan keseluruhan tabel tergandeng dengan paragraf di bawah tabel.

Main Tebak Kata di Twitter dengan @skrembelbot

@Skrembelbot adalah sebuat bot di Twitter yang menyajikan permainan #AcakKata. Dari namanya, bisa diduga @skrembelbot berasal dari istilah skrembel (mungkin dari scramble atau mengacak) dan bot (program). Tadinya saya mengira bot ini dibuat dan dikelola oleh Ivan Lanin, tapi mungkin saya salah. Kelihatannya, bot ini dibuat dan dikelola oleh @pengelana.

Permainan #AcakKata sendiri cukup sederhana: bot akan menyajikan sederet huruf yang diacak (misalnya btau); huruf-huruf tersebut harus disusun hingga membentuk suatu kata yang bermakna dalam Bahasa Indonesia (misalnya batu, buta, tabu, tuba, dll.). Cara bermainnya: cukup follow atau lihat liniwaktu @skrembelbot dan lihat tweet terbaru yang berisi soal. Jika ingin menjawab, cukup reply atau kirim tweet dengan format:

@skrembelbot <jawaban>

Saat ini bot juga bisa menerima jawaban dengan format

<jawaban> RT @skrembelbot blablabla

tetapi menurut saya ini jadi tidak mendidik bagi orang yang suka menggunakan RT untuk reply.

Penilaian

Setiap soal bernilai sebanyak jumlah huruf dalam kata tersebut. Bot akan mengumumkan jawaban yang benar dan nama pemain yang mendapat skor. Jika ada lebih dari satu orang yang menjawab dengan benar, maka penjawab pertama yang benar akan mendapat nilai penuh; dua orang berikutnya (dengan jawaban yang benar) mendapat nilai masing-masing satu.

Jika setelah limabelas menit belum ada jawaban yang benar, maka bot akan mengumumkan jawaban yang benar (tentu saja tanpa pemenang). Setelah itu bot akan menampilkan soal berikutnya.

Anagram

Beberapa soal mempunyai anagram lebih dari satu (misalnya uatb bisa berarti batu, buta, tabu, tuba, buat, baut), tetapi tentu saja jawabannya harus sesuai dengan soalnya. Di sini kadang kita terkecoh: merasa menjadi yang pertama mengirimkan jawaban yang benar, ternyata jawaban yang benar beda dengan yang kita jawab.

Sumber Soal

Soal-soal #AcakKata diambil dari basisdata Kateglo, yaitu sebuah situs yang menyajikan kamus, tesaurus dan glosarium. Maka kata-kata yang menjadi soal adalah lema-lema yang ada dalam kamus, khususnya KBBI III. Karena sumbernya soalnya terbuka, maka kita bisa mencari jawaban soal di situs ini pula. Misalnya kita menebak jawaban suatu soal, tetapi tidak yakin bagaimana ejaannya, kita bisa mengeceknya di Kateglo. Jika dikatakan bahwa lema tersebut tidak ada, maka bisa dipastikan jawaban itu pasti salah. Jawaban yang diumumkan oleh @skrembelbot juga disertai tautan ke laman Kateglo yang menjelaskan lema yang menjadi jawaban soal.

Manfaat

Ada beberapa manfaat permainan ini: menambah perbendaharaan kata, mengasah otak, mengisi waktu, dan tentu saja having fun. Apalagi dengan unsur persaingan (karena pemain dengan nilai tertinggi diumumkan secara berkala), maka permainan ini menjadi semakin menarik.

Siasat

  1. Gunakan perambah dengan beberapa jendela; satu membuka twitter, satu membuka Kateglo. Atau gunakan Twitter client untuk membuka twitter. Saya sendiri mengakses Twitter lewat Seesmic Web. Kalau pakai Seesmic, saya cukup klik sekali di tombol reply, ketik jawaban, tekan enter dan jawaban sudah terkirim.
  2. Soal dengan lebih dari 8 huruf biasanya kata serapan asing, dan biasanya mempunyai imbuhan atau berupa kata majemuk. Tebak dulu imbuhannya (misalnya poli-, -logi, -itas, -tif dll) baru tebak kata dasarnya.
  3. Kata asli Bahasa Indonesia atau bahasa daerah jarang yang diakhiri dengan -j, -d, v.
  4. Jika ada huruf n, g, k biasanya huruf-huruf itu letaknya di tengah kata (bukan di awal atau di akhir), misalnya ***ngk***. Begitu juga dengan pasangan m-b, m-p, n-t, n-d, n-j, n-c. Baru susun huruf-huruf lain sebelum dan sesudah pasangan huruf-huruf itu.
  5. Setelah mengirim jawaban, tunggu kira-kira 1 menit untuk me-refresh liniwaktu. Kalau jawaban kita benar (atau kalau ada orang lain yang menjawab duluan dengan benar), jawabannya akan tampil. Tapi jika lebih dari 2 menit setelah kita mengirim jawaban dan jawabannya belum diumumkan, kemungkinan besar jawaban kita salah. Cari jawaban lain!
  6. Bisa saja kita menggunakan program atau script untuk mencari semua kemungkinan jawaban (bagi yang mahir, saya kira tidak susah membuatnya) dan secara otomatis mengirimkan jawabannya. Tetapi cara ini tentu tidak adil buat pemain lain yang memang ingin menikmati permainan, bukan bersaing dengan bot. Jadi saya tidak menyarankan cara ini. (Oh ya, sempat ada bot yang terdeteksi ikut main; bot ini lalu di-blacklist oleh pengelola. Tetapi bot ini kemudian bisa dijadikan contekan karena dia tetap mengirimkan jawaban walaupun tidak dihiraukan oleh @skrembelbot. Kelihatannya sekarang sudah tidak ada yang main pakai bot lagi.)
  7. Mmmm… apa lagi ya? Ya main sajalah, nikmati permainannya! Oh ya, jangan cuma menghitung skor, tetapi kalau ketemu kata yang belum akrab, sempatkan membaca penjelasannya di Kateglo.

 

Jerman, April 2010

Bagaimana bisa sampai ke Jerman

Saya tergabung dalam sebuah kelompok riset antarnegara yang dipimpin seorang peneliti dari NMIJ-AIST Jepang dan melibatkan peneliti dari NIMT Thailand serta KIM-LIPI Indonesia. Kelompok ini mempunyai kerja sama penelitian yang didanai oleh NEDO, salah satu lembaga sponsor penelitian di Jepang. Kerja sama ini berlangsung dari tahun 2008 dan akan berlangsung hingga awal 2011. Topik penelitian yang sedang dikerjakan adalah pembuatan sistem standar sudut dengan ketelitian sangat tinggi (<0,3″). Sebetulnya penelitian ini sudah dilakukan oleh si pemimpin kelompok (Dr. Watanabe) dan hasilnya sudah dipatenkan. Yang dilakukan dalam kerja sama ini adalah pembuatan duplikat instrumen standar yang sudah dirancang; duplikat ini diberikan masing-masing ke NIMT dan KIM-LIPI dan menjadi basis uji banding antarnegara. Dengan adanya instrumen standar ini, maka NIMT dan KIM-LIPI dapat melakukan kalibrasi besaran sudut dengan tingkat ketelitian yang hampir menyamai NMIJ, dan menjadi salah satu lembaga metrologi dengan kemampuan pengukuran tertinggi di dunia untuk besaran sudut.

Salah satu kegiatan dalam kerja sama ini adalah melakukan eksibisi di Pekan Raya Hannover atau Hannover Messe. Sesuai namanya, pameran ini diadakan di kota Hannover, Jerman dan berlangsung pada tanggal 19 hingga 23 April 2010. Semua anggota kelompok ini hadir dalam pameran ini — Watanabe-san, Watcharin dan Ketsaya dari NIMT, serta saya sendiri. Seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh NEDO. Keikutsertaan kami di acara ini bukan sesuatu yang sama sekali terpisah — AIST (lembaga induk NMIJ) secara rutin ikut dalam pameran ini, dan tahun ini pun AIST hadir memamerkan hasil-hasil penelitian dari berbagai lembaga penelitian di bawah naungannya.

Keikutsertaan kami dalam pameran ini adalah suatu kebetulan yang baik, karena kami dapat menyempatkan untuk menyambangi lembaga mitra kami di Jerman, yaitu PTB. Kampus PTB terletak di kota Braunschweig yang tidak jauh dari Hannover. Karena itu rencana perjalanan kami dibuat agar tiba di Jerman tanggal 15 April sehingga kami dapat berkunjung ke PTB di Brauschweig pada tanggal 16 April. Rute penerbangan saya adalah Jakarta-Frankfurt (tiba tanggal 15 April pagi) dan transfer pesawat terbang untuk Frankfurt-Hannover, dilanjutkan dengan mobil ke Braunschweig. Sedangkan rekan-rekan dari Jepang dan Thailand dijadwalkan tiba dari Tokyo dan Bangkok (secara terpisah) ke Muenchen pada tanggal 15 April sore, kemudian pindah pesawat ke Hannover dan selanjutnya menyusul ke Braunschweig.

Gunung berapi

Apa lacur, ternyata terjadi peristiwa letusan gunung berapi di Islandia yang menyebabkan gangguan pada lalu lintas penerbangan. Gunung berapi tersebut memuntahkan abu yang melayang di udara dan tertiup angin hingga ke melintasi daerah Eropa utara. Abu itu tidak menghalangi pandangan, tetapi jika terhisap mesin jet pesawat, dapat menyebabkan kemacetan. Selain itu, abu tersebut bersifat abrasif sehingga dapat merusak badan pesawat. Karena itu, otoritas penerbangan di beberapa negara Eropa utara melarang penerbangan di wilayahnya. Saya beruntung bahwa saya bisa menjalani rute perjalanan saya sesuai rencana hingga tiba di Braunschweig, dan baru tahu tentang musibah tersebut dari mitra kerja yang saya temui di PTB pada siang hari tanggal 15 April. Saya jadi bertanya-tanya tentang nasib rekan-rekan saya dari Jepang dan Thailand.

Di depan gerbang PTB

Di depan gerbang PTB

Benar saja, besok paginya tanggal 16 (sedianya kami merencanakan untuk berangkat dari hotel di Braunschweig ke PTB pukul 10.00), saya mendapat telpon dari Watanabe-san, mengabarkan bahwa dia dan rekan-rekan dari Thailand sudah tiba di Muenchen, tetapi tidak bisa melanjutkan ke Hannover dengan pesawat terbang, karena penerbangannya dibatalkan. Akibatnya mereka menginap di Muenchen dan pagi tanggal 16 berangkat ke Braunschweig naik kereta. Kereta itu penuh sesak karena demikian banyaknya penerbangan di Eropa yang dibatalkan. Akhirnya mereka tiba di Braunschweig pukul 14.00. Walaupun agak sedikit terlambat, agenda hari itu (kunjungan dan diskusi dengan kolega di PTB) bisa terlaksana juga.

Tanggal 17 (hari Sabtu) kami meninggalkan Braunschweig menuju Hannover. Kami akan mengikuti pekan raya Hannover dari Senin hingga Jumat, dan dijadwalkan pulang hari Sabtu tanggal 24 April.

Ketika pekan raya dimulai, ternyata rombongan dari AIST (selain Watanabe-san) belum tiba. Mereka direncanakan tiba hari Minggu tanggal 18, tetapi karena penutupan bandara, maka mereka tidak bisa berangkat ke Jerman atau bahkan ke Eropa. Maka kelompok kami berempat mendapat tugas dadakan: menyiapkan anjungan AIST selain barang-barang pameran kelompok kami sendiri. Untungnya anjungan AIST tidak memamerkan banyak alat-alat peraga; kebanyakan yang dipamerkan adalah poster dan brosur. Barang-barang ini sudah dipaketkan dari Jepang jauh hari sebelumnya, sehingga bisa tiba di tempat pameran pada waktunya. Maka sepanjang pameran, kelompok kami merangkap tugas menjadi duta AIST yang menjaga anjungan ini.

Hannover Messe

Ini adalah sebuah pameran dagang (trade fair), yang konon adalah pekan raya dagang terbesar sejagad. Saya tidak punya data berupa angka, tetapi jika dibandingkan dengan bangsal pameran yang ada di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, maka Hannover Messe ini menggunakan total ruangan seluas 20 kali bangsal di PRJ. Ada ratusan peserta dari Jerman dan mancanegara. Bukan hanya industri atau badan usaha yang ikut pameran, tetapi juga lembaga pendidikan dan lembaga nirlaba lainnya.

Begitu besarnya area pameran ini, mungkin perlu sedikitnya dua hari penuh untuk bisa melihat semua anjungan pameran. Memang belum tentu semua anjungan akan menarik perhatian pengunjung tertentu, karena orang yang datang ke pameran dagang umumnya sudah mempunyai bidang minat tertentu. Yang datang ke pekan raya ini tampaknya kebanyakan pebisnis; di luar itu, tampak pula kalangan akademik dan beberapa rombongan anak sekolah. Karena luasnya tempat pameran, banyak pengunjung berkeliling naik skuter alias otopet.

Karena Jerman bisa dibilang salah satu pusat teknologi maju dunia, maka pameran ini memperlihatkan berbagai teknologi termaju di bidangnya masing-masing. Namun yang dipamerkan tidak semata-mata teknologi canggih. Anjungan dan bilik peserta pameran umumnya diisi dengan prototipe atau contoh produk; dari per dan sekrup berukuran milimeter, hingga komponen mesin dan peralatan pabrik produk besi tuang berdiameter 3 meter!

Banyak anjungan berlomba menarik minat pengunjung, salah satu caranya dengan menawarkan barang-barang promosi. Yang paling banyak ditawarkan adalah pena dan permen, selain tentu saja katalog (baik yang berupa buku maupun cakram digital). Banyak juga yang menawarkan “gimmick” berupa permainan. Ada juga yang menawarkan minuman dan kudapan gratis, bahkan beberapa anjungan dilengkapi bar yang menyediakan bir dan anggur.

Anjungan AIST tempat kami berpameran, seperti saya ceritakan di atas, tidak menampilkan banyak hal selain poster dan brosur. Maka tidak banyak yang kami lakukan sementara menjaga anjungan, kecuali untuk pengunjung yang khusus bertanya tentang hasil riset yang dipamerkan kelompok kami. Dan karena tidak terlalu banyak yang mampir bertanya, maka kami berempat bisa bergantian berkeliling melihat-lihat pameran yang lain.

Braunschweig

Kita kembali dulu ke Braunschweig. Ini adalah sebuah kota yang tidak terlalu besar (penduduknya sekitar 280.000 jiwa). Saya mendapat kesempatan berkeliling di kotanya pada hari Sabtu tanggal 17 (sebelum berangkat ke Hannover). Pusat kotanya tidak terlalu luas, sehingga bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Seperti lazimnya kota-kota tua di Jerman atau Eropa pada umumnya, banyak gedung-gedung tua berumur ratusan tahun seperti gedung pemerintahan dan gereja. Gedung-gedung itu bukan hanya khas dalam bentuknya, tetapi terutama dalam ukurannya. Saya melihat beberapa gereja yang menara dan atapnya sangat tinggi dan temboknya amat tebal, padahal kapasitas jemaatnya tidak terlalu besar. Artinya, gereja-gereja itu memang dirancang dengan megah, bukan sekedar untuk menampung sebanyak mungkin jemaat. Bukan cuma ukuran dan bentuk, hiasan-hiasannya pun sangat kaya dan indah, baik berupa kaca berwarna, ukiran-ukiran dan patung, maupun lukisan-lukisan. Mungkin ini dapat menjadi cermin religiusitas orang Jerman pada jaman dahulu.

Sebuah gedung tua di Braunschweig

Sebuah gedung tua di Braunschweig

Transportasi di Braunschweig tampak sangat teratur. Alat pengangkut publik berupa tram dan bus kota beroperasi dengan jadwal teratur dan kondisinya sangat baik. Walaupun Jerman terkenal sebagai penghasil mobil-mobil berkualitas tinggi, bukan berarti penduduknya bergantung kepada kendaraan bermotor. Cukup banyak penduduknya yang tidak canggung menggunakan sepeda untuk bepergian di sekeliling kota. Di semua tempat umum dan kantor hampir pasti ada banyak sepeda yang terparkir rapi. Jalur-jalur sepeda telah disediakan berdampingan dengan trotoar dan jalan mobil. Di pusat kota, beberapa jalan ditutup untuk kendaraan pada umumnya (kecuali kendaraan tertentu) sehingga pejalan kaki merasa nyaman.

Makanan

Iskender kebab

Iskender kebab

Makanan paling khas Jerman adalah daging panggang dan sosis, dan lebih khusus lagi, porsinya cukup besar. Salah satu variannya adalah “currywurst”, sosis besar dengan kuah dan bumbu kari. Tentu saja ada banyak macam makanan yang lain di sana. Untuk makan siang, saya paling suka roti baguet (roti bundar besar berkulit agak keras) yang diisi potongan daging dan sayur-sayuran. Relatif murah dan cukup mengenyangkan. Sempat juga merasakan makanan Turki berupa Iskender Kebab (daging kambing yang dipanggang vertikal, diiris-iris dan disiram kuah dan yoghurt). Memang, banyak sekali warga keturunan Turki sehingga banyak juga restoran dan kios makanan Turki.

Kawasan Turki di Braunscweig

Kawasan Turki di Braunscweig

Saya mendapat teh gratis – mungkin karena saya bisa mengucapkan “çay” (teh dalam bahasa Turki). Saya juga sempat merasakan makanan Yunani, yang agak mirip makanan Turki (maklumlah negaranya tidak terpisah jauh). Selain itu semua, tentunya ada juga makanan Asia (beberapa kali “terpaksa” makan makanan Asia karena rekan dari Thailand tidak suka makanan Eropa).

Satu lagi yang khas Jerman adalah bir. Walaupun saya tidak terlalu suka bir, saya sempat mencoba bir yang dibuat di sebuah bar di Braunschweig (bukan buatan pabrik). Ya karena saya bukan penggemar bir, maka saya tidak bisa berkomentar tentang rasanya.

Gereja

Di Hannover, karena masuk hari Minggu, saya menyempatkan diri mengikuti Misa di Gereja St. Elisabeth. Seperti yang saya ceritakan di atas, gereja ini juga mempunyai arsitektur yang sangat megah walaupun ukurannya tidak terlalu besar (lebih kecil daripada Gereja Katedral Bogor). Saya mengikuti misa pagi jam 9.30. Umat yang menghadiri misa ini mungkin tidak sampai 200 orang. Banyak orang-orang tua, tetapi ada juga beberapa keluarga muda dengan anak-anak mereka. Jadi walaupun (konon) jumlah umat beragama di Eropa cenderung turun, tetapi ada harapan bahwa masih ada generasi penerusnya.

Pasar

Di pusat kota Braunschweig maupun Hannover, saya tidak menemukan hipermarket besar yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari secara lengkap. Yang saya perhatikan, ada banyak toko yang ragam barangnya lebih sedikit, tetapi saling melengkapi. Selain itu, masih ada pasar tradisional tempat penduduk berbelanja. Ya, pasar tradisional dalam pengertian adanya penjual-penjual yang membuka lapak-lapak dengan jenis dagangan yang khusus. Hanya saja, lapak-lapak itu berupa gerobak (trailer) atau mobil bak yang diparkir di sebuah lapangan. Di sinilah orang membeli sayur-mayur dan buah-buahan segar, daging, roti, bumbu-bumbu dan bahan pangan lainnya. Pasar ini terasa sangat hidup, tidak seperti hipermarket yang efisien tetapi seperti tanpa nyawa.

Telekomunikasi

Fasilitas telekomunikasi tentu saja bukan masalah di negara maju seperti Jerman. Yang menjad masalah — bagi saya — adalah biayanya. Hotel tidak menyediakan fasilitas internet secara gratis di kamar, dan biayanya (khususnya di hotel yang saya tempati di Braunschweig) cukup mahal. Untuk bertelepon, penyedia layanan ponsel yang saya gunakan di Indonesia tidak mempunyai fasilitas jelajah (roaming), dan kalau pun bisa jelajah, mungkin biayanya cukup tinggi juga. Karena itu saya membeli kartu prabayar di Jerman. Saya membeli paket prabayar dari penyedia jaringan O2 seharga €5 dan kemudian menambahkan ‘pulsa’ senilai €15. Dengan kartu prabayar ini, saya bisa menelpon gratis ke sesama pengguna O2 dan juga ke telepon sambungan tetap (fixed line) di Jerman. Ada beberapa paket internet yang ditawarkan: 9ct per menit, €3,50 per hari, atau €10 per bulan. Yang paling penting buat saya, saya masih bisa tetap mengakses internet dari ponsel dan juga bisa menelpon ke nomor lokal dengan biaya lebih murah daripada menggunakan fasilitas jelajah kartu telepon Indonesia.

Episode berikutnya:

Apakah saya akan bisa pulang naik pesawat seperti dijadwalkan tanggal 24 April?

Bersambung… (kalau sempat)

Glosarium

NMIJ – National Metrology Institute of Japan, lembaga metrologi nasional Jepang

AIST – National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, lembaga riset pemerintah Jepang yang menaungi berbagai pusat penelitian

NIMT – National Institute of Metrology, Thailand, lembaga metrologi nasional Thailand

KIM-LIPI – Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrology – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga metrologi ilmiah nasional Indonesia

PTB – Physikalisch Technische Bundesanstalt, lembaga metrologi nasional Jerman

Satuan ons dan pons: masih bisakah digunakan di Indonesia?

Sistem pengukuran di Indonesia mempunyai dasar hukum utama Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal (UUML 2/1981). Pasal 2 undang-undang ini menyatakan “Setiap satuan ukuran yang berlaku sah harus berdasarkan desimal, dengan menggunakan satuan-satuan SI“. SI (singkatan dari le Systeme International d’Unites atau Sistem Internasional Satuan) adalah suatu sistem yang mendefinisikan satuan-satuan pengukuran yang digunakan secara universal oleh negara-negara anggota Konvensi Meter. Dengan begitu, sesuai UUML 2/1981 maka satuan ukuran yang dapat digunakan secara sah di Indonesia adalah satuan-satuan SI, yaitu: meter (untuk besaran panjang), kilogram (massa), sekon (waktu), amper (arus listrik), kelvin (suhu), kandela (kuat cahaya), mole (kuantitas zat). UUML 2/1981 juga menjabarkan kelipatan (multiple) dan pecahan (submultiple) untuk tiap-tiap satuan ukuran, yaitu berupa prefiks mili-, kilo- dan sebagainya.

Di luar SI, kita mengenal sistem satuan lain misalnya sistem Inggris, yang menggunakan satuan foot untuk panjang dan pound untuk berat. Sistem ini diadopsi menjadi sistem pengukuran yang digunakan di Amerika Serikat (AS). Di Inggris sendiri, sistem ini kemudian dimodifikasi menjadi sistem Imperial. Maka ada sedikit perbedaan antara foot dan pound yang digunakan di AS dan di Inggris saat ini, tetapi tidak terlalu jauh berbeda dengan foot dan pound dalam sistem Inggris yang awal: 1 foot kira-kira sama dengan 0,3 meter, dan 1 pound kira-kira sama dengan 0,4 kilogram.

Ada juga sistem pengukuran yang digunakan di Belanda sebelum sistem Metriks, yang menggunakan satuan yang mirip dengan satuan dalam sistem Inggris yaitu “ons” dan “pond”. Satu ons Belanda pada awalnya kira-kira sama dengan 31 g dan satu pond kira-kira sama dengan 0,48 kilogram. Setelah Belanda menggunakan sistem Metriks, secara resmi satuan ons dan pond tidak digunakan; namun dalam praktek sehari-hari, nama satuan ons dan pond masih digunakan dengan nilai yang disesuaikan dengan satuan metrik, yaitu ons menjadi sama dengan 100 gram dan satu pond menjadi sama dengan 0,5 kilogram. Perlu ditegaskan bahwa ini adalah “ons Belanda” dan “pon/pond Belanda”, tidak sama dengan “ons/ounce Inggris” atau “pond/pound Inggris”.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa satuan “ons” dan “pon/pond” tidak termasuk satuan resmi di Indonesia. Mungkin lebih tepat kalau satuan “ons Belanda” dan “pon/pond Belanda” disebut sebagai satuan “tradisional” yang bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari karena aspek sejarahnya, tetapi tidak bisa digunakan untuk keperluan resmi atau hal-hal yang bersifat legal. Contohnya, timbangan yang digunakan untuk keperluan perdagangan harus menggunakan satuan gram atau kilogram, tidak boleh menunjukkan satuan ons. Begitu juga barang-barang yang dijual dalam keadaan terbungkus (BDKT), jika bobotnya dituliskan pada kemasannya, harus dituliskan dalam satuan gram atau kilogram. Hal ini adalah amanat undang-undang yang berlaku saat ini.

Untuk keperluan pendidikan, seyogianya pendidik mengajarkan satuan ukuran yang legal, yaitu satuan SI. Satuan non-SI (dalam hal ini ons dan pon) boleh saja diajarkan sebagai sejarah, dengan penegasan bahwa satuan tersebut bukan satuan yang sah secara hukum.

Rujukan:

[1] Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal
[2] SI Brochure: http://www.bipm.org/en/si/si_brochure/
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_units_of_measurement
[4] Otoritas metrologi

Diproteksi: Daftar Alamat dan Silsilah Anggota Keluarga Besar Partoatmodjo

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: