Category Archives: Mikir

The answer to the 1 + 1 + 1 … puzzle

One plus one plus one

Iklan

“Zero Tolerance”

Pagi ini, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi terhadap saya.

Dalam perjalanan ke kantor, ban mobil saya kempis. Saya merasakan getaran yang tidak biasa di ban belakang sebelah kanan, dan kemudian ada pengendara motor yang menunjuk ke arah ban saya. Segera saya menepi, keluar dari mobil dan mengecek ban. Ternyata ban sudah kempis total. Entah kempis perlahan-lahan, atau tiba-tiba langsung kempis total. Saat itu, saya masih ingat untuk mengunci pintu kendaraan.

Ya, itu adalah prosedur standar yang saya terapkan: jika ada masalah di jalan, menepilah jika situasi tidak terlalu rawan; dan selalu kunci pintu mobil. Kebetulan lokasi kejadian sudah dekat dengan kantor, dan pastilah banyak rekan-rekan kantor yang lewat di tempat itu. Jadi saya tidak ragu untuk menepi, dan saya merasa sudah melakukan langkah pengamanan secukupnya dengan mengunci pintu mobil.

Kemudian saya mengeluarkan dongkrak dan mencoba menurunkan ban cadangan. Ketika harus membuka pintu belakang (mobil yang saya pakai jenis mobil penumpang multiguna), saya membuka kuncinya secara manual (bukan dengan central lock). Jadi pintu samping masih aman. Tetapi karena alarm berbunyi (karena pintu belakang dibuka), saya membuka central lock. Kemudian saya mengendorkan baut roda dan mencoba menurunkan ban cadangan. Tetapi ada masalah dengan engkol untuk menurunkan ban cadangan. Jadi saya menelpon rekan kantor untuk minta bantuan. Sambil menunggu datangnya bala bantuan, saya berdiri di belakang mobil dengan posisi menghadap mobil, sehingga saya akan bisa melihat kalau ada orang mendekat.

Sejauh ini belum ada masalah. Saya menggeser ransel saya, yang tadinya ada di jok tengah sebelah kiri, ke lantai sebelah kanan. Tetapi saya tidak mengunci pintu. Karena saya merasa saya dalam posisi siaga mengawasi lingkungan sekitar. Apalagi ketika dua rekan kantor datang dan mulai membantu membongkar ban yang kempes serta menurunkan ban cadangan, saya merasa sudah aman.

Nah di sinilah masalahnya. Ketika satu rekan sedang memasang ban, saya berjongkok sambil mengawasinya. Satu rekan lagi juga sedang jongkok di belakang mobil. Tiba-tiba terasa ada seseorang menaiki mobil karena kedudukan m0bil bergoyang. Rekan yang sedang di belakang tadi segera berdiri dan melihat pintu tengah kanan sudah terbuka, dan dia melihat seseorang berlari dari arah mobil menuju sepeda motor yang menunggu beberapa meter di depan mobil, membawa sesuatu yang seperti ransel. Ransel saya.

Singkat cerita, ransel tersebut raib dengan isi yang cukup berharga dan bernilai.

Yang perlu saya bahas di sini adalah prosesnya. Hanya satu kesalahan saya: tidak mengunci pintu, dan merasa aman dengan adanya teman. Dan satu kesalahan kecil inilah yang menyebabkan musibah tersebut. Bukan karena saya tidak tahu mengenai risiko bahaya kecurian dengan modus seperti itu, tetapi karena saya lalai menerapkan prosedur pencegahannya.

Ada istilah “Murphy’s Law” yang bunyinya kira-kira “Anything that can go wrong, will go wrong“. Maksudnya, kira-kira: jangan menganggap bahwa suatu bencana atau musibah tidak akan terjadi. Kita tidak akan tahu kapan bencana atau musibah terjadi, oleh karena itu kita harus siap siaga setiap saat. Kita harus menetapkan dan melaksanakan prosedur untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun seringkali orang mengabaikan prosedur semacam ini dengan dalih “ah, aman kok. Nggak akan terjadi apa-apa”.

Asas zero tolerance (dalam konteks manajemen risiko)  adalah sikap disiplin dalam menerapkan prosedur, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Ketika suatu prosedur dikompromikan — seperti yang saya lakukan di atas — maka terbuka peluang terjadinya bahaya, yang bisa menimbulkan kerugian materi dan cedera, atau bahkan kematian. Maka itu, marilah kita terapkan sistem zero tolerance ini!

NB: musibah juga bisa terjadi karena faktor luar sepenuhnya, yang di luar kendali kita, sehingga apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, mungkin tidak akan bisa menghindarkan kita dari kejadian itu atau pun mengurangi dampaknya. Bukan berarti kita hanya bisa pasrah, tetapi kita harus terus waspada dan taat kepada prosedur yang sudah ada.

PS: ada satu lagi kelalaian saya dalam kasus ini, yaitu belum membuat cadangan (backup) data di laptop, yang ikut raib bersama ransel saya. Sebelumnya saya sudah mempunyai kebiasaan membuat cadangan data secara teratur. Tetapi, ketika saya menggunakan komputer baru (yang baru saya pakai 2 bulanan), sistem backup yang lama tidak sesuai dan harus dimodifikasi. Dan, saya selalu berpikir: “nanti, kalau sudah ada waktu, saya akan bikin sistem backup untuk komputer yang baru ini“. Sayangnya janji ini terlambat terlaksana… sangat terlambat.

What’s a birthday?

To some people, birthdays don’t matter — they see a birthday as just another day in their lives. This makes sense; after all, what’s the difference between a birthday and any other day?

To me, a birthday can be an excuse for making someone feel important and special — just for that day. (Pity those who are born on 29th February — it’s as if they’re only one-fourth as important and special as others).

A birthday is very personal, as opposed to the communal religious holidays or national holidays that are observed (and possibly celebrated) with fellow adherents or citizens. Birthdays are unique to every person (although not absolutely unique –more than one persons can have the same birthday). Saying “happy birthday” to a person is much more personal than saying “happy holiday” during the person’s observed holy day. Remembering a person’s birthday takes more effort than just remembering a commonly celebrated holiday.

It follows that receiving a birthday wish can make a person feel important or special because it shows that people care enough about him or her, regardless of whether he or she expected to be recognized or not. Likewise, if you want to show someone that you respect or care about him/her, give him/her a birthday message. It could be as simple as calling or greeting in person; sending a text message, email or some other form of electronic communication; or you can show your attention by giving gifts — your wallet is the boundary.

So, what’s a birthday? While it’s not mandatory to celebrate or even remember, on the other hand it’s a day when you can make someone feel special and important; that you respect or care about the person. Try to remember the birthdays of people who matters to you — your family, relatives, friends, colleagues, work mates, clients — and send them timely birthday wishes.

If you’re having your birthday, just keep an open mind. People may or may not know your birthday; they might know but forgot or don’t realize it, so don’t expect to get too much attention on that day. However, to those who give you birthday wishes — or even go to the full extent of arranging a party for you — you should appreciate their attention. Even if they got your birth date wrong — it still take some effort from them to send you a birthday wish.

Real vs. virtual birthdays

I have two birthdays: my real-life birthday, and my virtual birthday.

My real-life birthday is easy to explain: that was the day my biological mother gave birth to me.

My virtual birthday is a bit problematic. It started when some internet sites required their subscribers/users to declare their birth dates when registering to use the services.

Personally, I don’t feel comfortable disclosing my personal details on the internet (unless it is legally required, and even then I would argue first). I don’t mind sharing my personal information with my friends and relatives, or with people with even the slightest acquaitance; but when it’s recorded online, there’s a chance that the information might be leaked to people with whom I don’t have (or don’t wish to have) any business.

I suppose the purpose of asking users’ birth dates is to verify the users’ identity in the case of lost password. Suppose someone registered to xyz.com and then forgot his/her password. He or she can then ask the website administrator to issue a new password, and the administrator can ask him/her some questions to verify that he/she is the genuine person. One of the question might the user’s birth date, with the assumption that only the genuine person would know one’s birth date. This is the only legitimate technical reason that I can imagine as being behind the policy. Still, I don’t think it’s right. Personal information should remain personal, despite the website administrators’ promises not to disclose the information, or the option to display or hide such information.

Therefore I came up with a solution: the virtual birthday. It’s an arbitrary (but consistent) date that I entered as my birth date when registering to a web service. To keep the lie minimum, I chose the same month and year as my real-life birthday (thereby avoiding giving the false perception of my age). So the “birthday” you see on my internet profile might actually be my virtual birthday.

Did I deceive anybody personally? I apologize if I did, and assure you I did not have any malicious intent in doing so. Particularly to those who, in good faith, sincerely wished me a happy birthday and many happy returns on my virtual birthday. I appreciate the attentions and intentions they offered me, as if it was my real birthday. I trust that they would have offered the same well wishes on my real birthday, had they known my real birth date. So please don’t feel deceived if you wished me happy birthday on my virtual birthday; I appreciate it all the same.

Did I violate some terms and conditions? I admit I did, but please don’t tell the website administrators, OK? 🙂

“Berbahasa jang Satoe”, atau “Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean”?

Apakah anda ingat teks Sumpah Pemuda?

Mungkin ada yang mengatakan sebagai berikut:

Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku:

berbangsa satu, bangsa Indonesia;

bertanah air satu, tanah air Indonesia;

berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Mungkin urut-urutannya tidak sama, tetapi kebanyakan orang akan mengatakan “berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Benarkah demikian?

Ternyata tidak. Teksi asli Soempah Pemoeda menyebutkan:

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Perhatikan bahwa ada perbedaan substansial antara “menjunjung bahasa persatuan” (teks asli) dan “mengaku berbahasa satu” (teks yang sering diajarkan di sekolah; entah saduran siapa). Perbedaannya: “menjunjung bahasa persatuan” tidak berarti menafikan atau menabukan penggunaan bahasa yang lain. Kita masih bisa menggunakan bahasa daerah, bahasa asing, bahkan bahasa kontemporer atau bahasa ‘gaul’.

Kesalahkaprahan di atas mungkin hasil indoktrinasi Orde Baru yang ingin membuat segalanya serba seragam, termasuk dalam hal berbahasa. Maka itu orang-orang yang pernah mengalami hidup di jaman Orde Baru pasti ingat frasa “berbahasa yang baik dan benar”, yang kemudian diartikan bahwa bahasa yang “baik dan benar” itu adalah yang seperti di buku teks resmi pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Karena adanya indoktrinasi “bahasa yang baik dan benar” itu, banyak orang lantas menjadi latah untuk berbahasa. Di satu sisi, harus diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih berkembang, tidak seperti bahasa-bahasa lain yang telah mapan, terdokumentasi dengan baik dan terbakukan. Di sisi lain, penutur Bahasa Indonesia pun sebenarnya banyak yang masih belajar bahasa tersebut. Atau lebih tepatnya: banyak penutur Bahasa Indonesia yang sebenarnya belum fasih berbahasa Indonesia. Mereka merasa menggunakan Bahasa Indonesia (yang berbeda dari bahasa asing maupun bahasa daerah), tetapi sebenarnya yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dengan pengaruh-pengaruh lokal dan asing, serta “improvisasi” bahasa yang terjadi secara lokal dan temporer.

Akibat ketidakfasihan berbahasa Indonesia tersebut, timbullah kegagapan ketika orang dipaksa berbahasa baku; misalnya ketika menjawab pertanyaan ujian di sekolah atau perguruan tinggi, memberikan sambutan dalam forum resmi, menyapa orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi atau dihormati, menulis atau berbicara di media massa arus utama, dan lain-lain. Bentuk-bentuk kegagapan di antaranya:

  • menggunakan kata-kata yang kedengarannya “baku”, tetapi tidak pada tempatnya. Misalnya menggunakan untuk menghindari akhiran “-in”, maka menggunakan akhiran “-kan” dan “-i” tetapi terbalik-balik penempatannya
  • mati-matian menghindari istilah asing, walaupun istilah asing yang dihindari sebetulnya sudah menjadi istilah serapan yang baku
  • mengindonesiakan istilah asing secara mengada-ada, misalnya “garden” menjadi “gardena” pada nama-nama properti.

Contoh-contoh kegagapan tersebut mestinya bisa diatasi jika kita memahami intisari bahasa: bahasa adalah alat komunikasi. Pembakuan tatabahasa dan istilah dilakukan agar ada kesamaan pemahaman, sehingga tujuan komunikasi tersebut tercapai. Mengindonesiakan istilah-istilah asing saja tidak menjadikan suatu tuturan atau tulisan menjadi “Bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Demikian juga dengan penafian terhadap istilah-istilah dari bahasa daerah. Maka istilah “bahasa yang baik” adalah bahasa yang sesuai dengan konteks dan latar belakang penutur/pendengar atau penulis/pembacanya. Sedangkan “bahasa yang benar” adalah bahasa yang tatabahasanya mengacu kepada tatanan yang sudah dibakukan dan diterima secara umum. Therefore, using foreign languages in part of a speech is not a taboo, as long as it still uses the proper grammar in its own context. (Catatan: penggunaan kalimat berbahasa Inggris tadi tidaklah terlalu perlu, namun dilakukan hanya sebagai contoh saja.)

Kembali ke topik awal. Sekali lagi, kita menjunjung bahasa persatuan, tetapi tidak membinasakan bahasa daerah dan tidak menjauhi bahasa asing. Lebih jauh lagi, yang disebut bahasa persatuan itu — Bahasa Indonesia — adalah bahasa yang dinamis dan masih berkembang. Interaksi dengan bahasa asing dan bahasa daerah akan memperkaya Bahasa Indonesia, oleh karena itu tidak perlu ditabukan. Di sisi lain, penggunaan tatabahasa dan kosakata yang logis adalah hal yang utama; janganlah merusak bahasa dengan penggunaan kata-kata yang tidak tepat makna, atau susunan kalimat yang tidak runtut.

Selamat berbahasa dengan baik dan benar.

100% Bebas Asap Rokok

Catatan: Tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang digalang oleh Priyadi

Kepada: pengelola tempat-tempat umum

Penelitian ilmiah tentang bahaya perokok pasif telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun. Tidak ada keraguan bahwa merokok secara pasif sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, menyebabkan kanker dan banyak penyakit pernafasan serta kardiovaskuler pada anak-anak serta orang dewasa, dan tidak jarang mempercepat kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berkesimpulan bahwa asap rokok, sekecil apapun jumlahnya, tetaplah berbahaya. Rekomendasi WHO tentang hal ini mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok adalah dengan memberlakukan peraturan 100% bebas asap rokok bagi tempat-tempat umum.

Hak untuk mendapatkan udara bersih, bebas dari asap rokok adalah hak umat manusia.

Dengan demikian, kami meminta anda untuk melindungi kesehatan pegawai, pekerja dan masyarakat umum dengan cara menerapkan peraturan yang 100% melarang merokok di tempat-tempat umum. Kami percaya, langkah ini adalah langkah yang sangat penting untuk melindungi kesehatan kita dan anak-anak kita semua.

Tertanda,

A. Praba Drijarkara (probodj)

Mengubah, menerima, atau keluar?

Jika anda tidak suka atau tidak puas dengan suatu kondisi di lingkungan anda (bisa tempat kerja, tempat tinggal, organisasi, komunitas, atau bahkan negara), apa yang bisa anda lakukan? Pada dasarnya, ada tiga macam pilihan: mengubah keadaan tersebut, menerima keadaan tersebut, atau keluar dari lingkungan tersebut.

1. MENGUBAH:

Coba lihat, apa yang salah dengan lingkungan atau komunitas tersebut, sehingga menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan? Ketidaktahuan? Ketidaktaatan? Ketidakpedulian? Keegoisan? Lalu, apa yang bisa diperbuat untuk memperbaiki keadaan tersebut? Cobalah melakukan perubahan dari dan oleh anda sendiri. Kemudian ajaklah orang lain (secara komunal atau melalui struktur organisasi) untuk ikut mewujudkan perubahan itu. Mungkin anda perlu pengetahuan teknik tertentu — carilah orang yang kompeten atau cobalah pelajari bidang tersebut. Mungkin juga anda perlu dukungan politik — sekali lagi, carilah orang yang punya akses politik, atau mungkin anda juga harus belajar berpolitik.

Contohnya: Jika di jalan di depan rumah anda banyak sampah, bagaimana mengubahnya? Mungkin anda sendiri harus membiasakan tidak membuang sampah sembarangan. Kemudian mengajak tetangga-tetangga untuk berbuat hal yang sama. Langkah berikutnya berkoordinasi dengan pengurus lingkungan atau kelurahan untuk mengurus sistem pembuangan sampah.

Oh, ya. Melakukan perubahan mungkin membutuhkan proses yang panjang.

2. MENERIMA:

Seandainya anda sudah mencoba melakukan hal di atas (mengubah), dan ternyata perubahan yang diharapkan itu tidak tercapai, lalu bagaimana? Mungkin anda harus mencoba lagi. Mencoba lebih keras, atau mencari cara lain. Jika tidak tercapai juga, bagaimana?

Atau, jika anda tidak mau mencoba melakukan perubahan, bagaimana?

Ya, anda harus menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah (entah karena memang tidak bisa diubah, atau karena memang anda sendiri tidak mau mencoba mengubahnya). Nah, kalau anda tidak mau menerimanya? Ada satu pilihan lagi, yaitu…

3. KELUAR:

Ya, kalau kondisinya tidak bisa diubah, dan anda tidak bisa hidup nyaman dalam lingkungan dan kondisi seperti itu, mau apa lagi? Keluar dari lingkungan/komunitas tersebut adalah pilihan logis berikutnya. Setelah keluar, ke mana? Mungkin anda bisa pindah ke lingkungan atau komunitas lain. Mungkin anda harus membentuk komunitas yang baru (seperti orang-orang partai yang setiap tahun membuat partai baru karena konflik dengan partainya yang lama).

Keluar dari suatu komunitas dan membentuk komunitas baru tidak selalu bermakna negatif. Barangkali komunitas baru itu akan bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Barangkali anda sendiri bisa lebih berkembang di komunitas yang baru tersebut.

4. MENGGERUTU:

Oh, maaf. Ini sebetulnya bukan pilihan keempat dari pertanyaan di atas. Tapi dalam kenyataannya, inilah yang sering dilakukan orang yang tidak puas dengan kondisi di suatu lingkungan. Mereka tidak mau atau tidak mampu membuat perubahan, tapi tidak mau berbesar hati menerima kondisi itu dan pula tidak berani mengorbankan kenyamanan untuk pergi dan pindah ke lingkungan baru. Sebagai pelepasannya, mereka menggerutu dan bergunjing.

Menggerutu tidak sama dengan memprotes atau mengritik, atau pun mengeluh. Protes dan kritikan adalah bagian dari proses menuju perubahan (lihat pilihan no. 1 di atas). Sedangkan menggerutu sebetulnya bukan sekedar perbuatan, melainkan lebih mencerminkan sikap kejiwaan orang tersebut yang tidak bisa menerima keadaan dan juga tidak mau mengakui ketidakmampuannya mengubah keadaan.

KESIMPULAN:

Anda ingin menjadi agen pengubah, atau berbesar hati menerima kenyataan, atau anda mau menjadi pionir menjajal dunia baru, atau anda cuma mau jadi penggerutu? Saran saya: pilih salah satu dari ketiga pilihan pertama, tapi jangan ambil pilihan keempat.