Category Archives: Koreana

Semester Pertama di UST

Tidak terasa sudah dua bulan lebih saya memulai program PhD di University of Science and Technology (UST) di Daejeon, Korea Selatan.

Seperti saya ceritakan di tayangan sebelumnya, UST agak berbeda dengan universitas konvensional. Pertama, UST hanya menyelenggarakan program pascasarjana (Master dan PhD), tidak ada program sarjana. Semua program pascasarjana tersebut berbasis riset, tidak ada yang sepenuhnya berbasis kuliah. Kedua, program studinya diselenggarakan bekerja sama dengan lembaga-lembaga riset di Korea Selatan. Jadi sebagian besar perkuliahan tidak dilakukan di kampus UST, melainkan di lembaga-lembaga riset mitranya. Tentunya juga kegiatan risetnya, yang disesuaikan dengan kegiatan riset yang sedang berjalan di lembaga riset tersebut.

Sistem kerjasama ini memberikan keuntungan timbal balik. Lembaga-lembaga riset mitra UST mendapat keuntungan yaitu dapat mempekerjakan para mahasiswa sebagai peneliti tamu. Di sisi lain, para mahasiswa UST mendapat kesempatan melakukan riset aktual di lembaga riset yang mengelola riset-riset paling canggih di Korea Selatan. Dengan menggandengkan UST dengan lembaga-lembaga riset, maka para mahasiswa yang sudah berhasil merampungkan risetnya di lembaga mitra tersebut bisa memperoleh gelar pascasarjana.

Beasiswa untuk para mahasiswa disediakan oleh lembaga-lembaga riset tersebut. Besarnya beasiswa bulanan sangat mencukupi biaya kebutuhan hidup, biaya studi (termasuk uang kuliah), serta biaya tiket pesawat pulang pergi.

Dalam skema kerja sama ini, UST menyebut lembaga-lembaga mitra tersebut sebagai “kampus”; jadi kalau seorang mahasiswa UST disebut berlokasi di “Kampus A”, maksudnya adalah riset mahasiswa tersebut dilakukan di Lembaga A, dan Lembaga A itu pula yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa tersebut.

Daejeon

Daejeon adalah sebuah kota metropolitan di Korea Selatan, kota terbesar kelima di negara tersebut. Salah satu keistimewaannya adalah banyaknya lembaga-lembaga riset di kota ini, baik milik pemerintah maupun perusahaan swasta. Kemajuan teknologi Korea Selatan dalam dua puluh tahun terakhir sudah dikenal secara luas, dan tentunya kemajuan teknologi ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya kegiatan riset yang serius. Maka tidak salah jika UST berpusat di kota ini. Banyak lembaga penelitian mitra UST yang berlokasi di kota ini.

Peta Korea Selatan

Peta Korea Selatan

KRISS

Korea Research Institute of Standards and Science (KRISS) adalah lembaga metrologi nasional Korea Selatan, yaitu lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan standar pengukuran acuan di negara tersebut. Sesuai fungsinya, lembaga ini merupakan counterpart lembaga tempat saya bekerja di Indonesia, yaitu Pusat Penelitian Metrologi, LIPI. Karena kesamaan fungsi itulah maka saya memilih KRISS sebagai kampus saya di UST.

NB: Di tayangan sebelumnya, sudah saya ceritakan proses ketika saya melamar program beasiswa ini melalui calon pembimbing saya, seorang peneliti senior di KRISS yang juga profesor di UST.

Kampus KRISS terletak di sebelah utara kota Daejeon, di dalam sebuah kawasan yang disebut Daedeok Innopolis, yaitu kawasan tempat berdirinya beberapa lembaga penelitian. Selain gedung administrasi dan gedung-gedung laboratorium, terdapat juga fasilitas pendukung seperti kantin, restoran, bank, gedung dan lapangan olahraga, tempat penitipan anak, dan asrama atau wisma tamu.

Denah Kampus KRISS

Denah Kampus KRISS

Kehidupan sehari-hari di KRISS

Kebetulan Kampus UST juga berlokasi di dalam kompleks KRISS, jadi saya tidak perlu pergi jauh dalam kegiatan perkuliahan karena saya tinggal di asrama KRISS. Dari asrama ke gedung laboratorium maupun ke kampus UST hanya perlu jalan kaki 5 menit saja.

Dengan situasi seperti ini, maka irama hidup saya sehari-hari tidak terlalu seperti mahasiswa, melainkan lebih mirip seperti pegawai KRISS. Setiap hari saya datang ke ruang kerja di KRISS (yang disediakan untuk peneliti tamu) dengan jadwal seperti jam kerja normal, yaitu pukul sembilan pagi hingga pukul enam sore. Pada semester pertama ini saya hanya mengambil dua kuliah; satu kuliah inti yang diadakan di KRISS (dan diajar oleh staf peneliti KRISS), dan satu kuliah pendukung, yaitu pelajaran bahasa Korea, di UST. Jadi kalau tidak ada kuliah, maka saya menghabiskan waktu di ruang kerja.

Setiap hari saya makan siang dan malam di kantin KRISS, termasuk juga di akhir pekan. Kantin ini menyediakan makanan dengan harga tidak mahal. Ini menguntungkan karena secara ekonomis terjangkau dengan uang tunjangan saya, dan lebih praktis dibandingkan harus memasak sendiri. Jenis masakannya cukup bervariasi dan bergizi seimbang. Untungnya saya tidak punya pantangan atau larangan makan makanan tertentu, jadi saya hampir tidak pernah punya masalah dengan menu yang disajikan.

Menu makan siang sehari-hari di kantin KRISS

Menu makan siang sehari-hari di kantin KRISS. Selalu ada nasi, daging/ikan/telur, sayur, dan tentunya kimchi.

Asrama atau wisma tamu KRISS disediakan untuk peneliti tamu (termasuk para mahasiswa UST di kampus KRISS). Ada kamar yang berkapasitas satu orang, ada yang dua orang. Kamar untuk satu orang dikhususkan untuk tamu jangka pendek dan peneliti pascadoktoral. Setiap kamar mempunyai kamar mandi sendiri. Di dalam kamar tersedia tempat tidur beserta kasur, meja kerja dan kursi, lemari pakaian dan lemari barang. Oh ya, ada sambungan internet dengan kecepatan hingga 100 Mbps, gratis. Kamar untuk satu orang dilengkapi dengan dapur kecil. Sarana umum yang tersedia adalah dapur sekaligus ruang makan, ruang cuci dengan mesin cuci yang bisa dipakai bebas biaya, dan ruang olahraga dengan perangkat latihan kebugaran lengkap yang juga bisa dipakai secara gratis. Penghuni bertanggung jawab atas kebersihan kamar masing-masing, tidak ada petugas yang membersihkan kamar secara rutin. Semua fasilitas ini dapat dinikmati oleh penghuni dengan membayar biaya bulanan yang cukup murah, yaitu 80 ribu won per orang untuk kamar berkapasitas dua orang, dan 150 ribu won untuk kamar tunggal.

Kamar di asrama ini ternyata sangat nyaman di musim dingin. Saat ini suhu udara di luar bisa mencapai 0 °C, tetapi suhu udara di dalam kamar terjaga di atas 21 °C (cukup hangat jika kita sudah terbiasa dengan udara dingin). Selain karena menggunakan dinding ganda dan jendela ganda sebagai isolator panas, juga ada sistem pemanas ruang yang ditanam di bawah lantai kamar.

Ya, begitulah kehidupan sehari-hari saya saat ini di KRISS, Daejeon.

Discovering Korea

I often got asked why I chose to do my PhD in Korea, not in some other countries more famous for their technological advances. So here’s the story.

My first encounter with Korea was in 2003 when I attended the annual meeting of the Asia Pacific Metrology Programme (APMP). APMP is the regional forum of national metrology institutes in the Asia Pacific region, and the institute where I work is a member of that organization. In the 2003 meeting of the APMP in Singapore, I saw a presentation by an expert from KRISS, the national metrology institute of South Korea. That was the first time I learn anything about Korea, and my first impression was that the South Korean metrology institute was quite an advance one, on par with the most advanced metrology institutes in Asia-Pacific region.

My second encounter was when I attended a three-week course in Korea about standardization, sponsored by the Korean International Cooperation Agency (KOICA) in 2004. The training program consists of classroom lectures, technical tours to industry, cultural experience and sight seeings (in approximately equal proportions). Naturally after spending three weeks in a country and exposed to its culture and nature, and eating the food, you’d grow a fondness of the country, right? To summarize, in three weeks I learnt that South Korea is quite an advanced country with interesting culture.

During the course I had a chance to visit KRISS, and I met again with the expert who made the presentation at the 2003 meeting. His name was Dr Chu-Shik Kang, and he was the head of the length metrology laboratory of KRISS, so he was my counterpart. He gave me a special tour of his lab.

Then in 2005, my institute got a visitor from KRISS, whose mission is to foster cooperation with national metrology institutes in developing countries. I was informed that KRISS had a special link with the University of Science and Technology (UST) in Korea, which enables people to get a postgraduate degree from the university by doing research work in KRISS.

The good thing about doing postgraduate study at UST is that students work mainly in the partnering research institute, doing research as well as routine work in the host institute. UST has this cooperation with several Korean research institutes. The host institutes provide stipend for the student, as if the student was an employee of the host institutes. They also pay the tuition fee to UST. The allowance is quite generous too.

I got further opportunity to work with Chu-Shik when the APMP organized an interlaboratory comparison activity for metrology institutes in developing countries. I was the coordinator of the comparison, and Chu-Shik was my mentor or coach. During the four-year program I met him several times. He was also appointed as a consultant when my institution had a major development program.

Sometime in 2006 I asked Chu-Shik about the possibility of doing PhD at KRISS/UST. Unfortunately at that time, he said that there was no research project in his department that could accommodate such undertaking, so I hold back my desire to get a PhD.

Anyway several years later, I asked him again about this idea. This time — I’m not sure whether an opportunity has been opened up in his department, or because he took pity on me — he answered that there is a possibility to do PhD in his department. So in 2014 I put in the application to UST, and was finally accepted. So here I am now, doing PhD in Daejeon, Korea, in the field of Science of Measurement.