Category Archives: Komputer

Mengubah dan Menggabungkan Beberapa Berkas JPG menjadi Satu Berkas PDF

Kadang kita perlu mengubah beberapa berkas gambar (misalnya dalam format JPG) menjadi satu berkas PDF agar lebih mudah membacanya. Misalnya hasil pindaian dokumen atau komik yang diunduh dari internet. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana dengan fasilitas yang sudah tersedia di Mac OS.

Pertama, tentunya siapkan dulu berkas gambarnya. Diasumsikan bahwa Anda sudah memindai dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format gambar (JPG, PNG dll). Atau Anda mengunduh berkas gambarnya dari internet. Sebagai contoh di sini, saya pakai komik H2O yang bisa diunduh gratis di http://kolamkomik.com/.

Screenshot 2012-12-12 at 16.51.16

Setiap berkas JPG adalah satu halaman komik. Perhatikan bahwa penamaan berkas sudah diatur supaya halamannya urut. Berkas paling atas adalah halaman sampulnya.

Di jendela Finder tersebut, ketik Cmd-A (select All). Atau kalau di folder tersebut ada berkas lain yang tidak mau digabungkan, pilih berkas yang mau digabungkan dengan tetikus.

Lalu buka berkas-berkas tersebut dengan Preview. Kalau Preview adalah aplikasi default untuk membuka berkas JPG, Anda tinggal mengetik Cmd-O. Kalau tidak, klik-kanan pada berkas yang dipilih, lalu pilih “Open with…” dan pilih Preview.

Screenshot 2012-12-12 at 16.56.02Preview akan membuka semua berkas tadi dalam satu jendela. Langkah berikutnya, ubah berkas tersebut menjadi PDF. Klik di kolom thumbnail (kolom kiri) atau klik salah satu thumbnail, lalu tekan Cmd-A (select All).

Sebelum lanjut ke langkah berikutnya, kita perlu pastikan dulu bahwa semua berkas gambar mempunyai resolusi yang sama. Kalau tidak, ketika diubah menjadi PDF nanti ukuran halamannya bisa bervariasi, walaupun ukuran pikselnya sama. Pilih menu Tools –> Adjust size… Jika berkas-berkas gambar tadi mempunyai resolusi yang tidak seragam, maka kotak “Resolution” akan berisi tulisan “Multiple Values”. Kotak ini harus berisi suatu nilai. Masukkan suatu nilai antara 50 s.d. 200 — cobalah bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang paling nyaman dilihat.

Lalu pilih menu File –> Export Selected Images… Pilih “PDF” untuk formatnya, dan pilih folder untuk menyimpan berkas PDF (bisa di folder yang sama dengan berkas aslinya). Sekarang semua berkas telah berubah menjadi PDF, tetapi masih terpisah-pisah. Tutup jendela Preview (Cmd-W atau File–>Close).

Untuk menyatukan berkas-berkas PDF tadi, buka folder tempat menyimpan berkas PDF tadi. Pilih semua berkas (Cmd-A), lalu klik-kanan, pilih “Open with…” dan pilih Preview.app. (Kalau aplikasi default di komputer Anda untuk membuka berkas PDF adalah Preview.app, maka pada langkah di atas Anda tinggal tekan Cmd-O).

Sekarang semua berkas PDF akan terbuka dalam satu jendela Preview.app. Ingat bahwa semua berkas masih terpisah-pisah. Klik ikon di kiri atas dan pilih “Contact Sheet”.

Screenshot 2012-12-12 at 17.06.48Tekan Cmd-A. Lalu tekan tombol Command dan klik di berkas pertama (yang nantinya akan menjadi halaman pertama buku komik ini).

Screenshot 2012-12-12 at 17.10.46

Sekarang, seret (click-drag) berkas mana saja (kecuali berkas pertama), lalu jatuhkan di thumbnail berkas pertama. Perhatikan bahwa ikon pointer tetikus akan berubah menjadi tanda tambah, yang artinya ada proses salin-rekat terhadap berkas pertama.

Screenshot 2012-12-12 at 17.13.43

Perhatikan bahwa berkas pertama sekarang berisi sekian banyak halaman. Secara default (untuk versi Preview.app sejak Mac OS Lion) berkas tersebut sudah disimpan sebagai berkas PDF multi-halaman. (Saya tidak tahu apakah trik ini berlaku di Preview.app pra-Mac OS Lion; seandainya iya, mungkin masih harus Save-as secara manual).

Selesai. Tutup jendela Preview.app tadi, lalu kembali ke folder tempat penyimpan berkas PDF tadi. Berkas pertama sudah berisi halaman-halaman dari berkas yang lainnya. Anda bisa menghapus berkas PDF selain berkas halaman pertama tadi, yang sekarang sudah menjadi buku yang lengkap.

NB: terima kasih untuk para pembuat komik H2O yang menyediakan komik gratis ini.

Convert scanned documents to editable text – For Free!

Notice: see the update at the bottom of this post because there has been some changes with how Google Docs works.

Sometimes you have scanned documents and want to convert the image into text for easy editing. “Optical Character Recognition” (OCR) softwares have been available for a long time for this purpose. However, the effectiveness of OCR software is usually proportional to the price — better result, higher price and v.v.

There’s one free alternative, though. Google docs. Here’s how.

1. Have a Google account (you can borrow someone else’s, but really, why not create your own if you don’t have one?)

2. After logging in to your Google account, go to https://docs.google.com

3. Click the “upload” button

You can upload single files or folders containing several files. For now let’s try just one file.

4. After you select your file(s), a dialog box will appear.

Check the “Convert text from PDF and image files to Google documents” option which starts the magic.

5. When the upload is successful and finished, it will appear in your list of documents.

6. Now initiate download. Check the checkbox in front of the file’s name. Then click the “More” button (it would be invisible if no files are selected). Choose “Download” from the drop-down menu.

7. Another dialog will appear to confirm the download and choose the format. Since you’d want to edit the file in a text editor or word processor, choose the format that you prefer (there are plain text, rich text, HTML,  MS Word and Open Document formats). Then click Download.

8. Voila, your document is ready for text editing! (Look in your browser’s default download folder.)

Caveat:

  1. With any OCR software, the success rate depends on the quality of the scan, in particular the contrast, sharpness, resolution, and alignment.
  2. There are limits on how big and how many files you can upload at a time.
  3. If you’re concerned about your file’s secrecy, delete the document from Google doc after you’ve downloaded the OCR-ed file. However, I can’t guarantee that Google will not keep a copy in its cache, and whether it will not make it public. If this doesn’t comfort you, then you’d better buy your own OCR software.

Update 2012/08/06

Google docs has slightly changed the interface during upload. Now there’s no more confirmation dialog for the upload settings; instead, it will upload your files right away. While the upload is still in process, you’ll see the upload progress window; there on the top bar of this window you’ll see “Settings”, if you click on this, a drop down menu will appear with three options. Check the “Convert text from uploaded PDF and image files” option for the OCR.

Update 2015/09/18

Google Docs is now called Google Drive, but Google Docs is still there in Google Drive (go figure). Anyway, OCR still works, albeit through different steps. Now you just upload your scanned texts on to your Google Drive. It will be stored as graphics in Drive. Open your Drive folder where you keep the image. Right-click on the file, then choose “open with — Google Docs”. A new Google Docs document will be opened in a new tab or window with the texts from your image.

Mencegah Tabel Terpotong di Dokumen

Jika dalam sebuah dokumen word processor terdapat tabel, terkadang tabel itu terpotong batas halaman sehingga bagian atas tabel itu muncul di bagian bawah halaman, dan bagian bawah tabel muncul di awal halaman berikutnya. Hal ini seringkali tidak diinginkan, karena mengurangi estetika dokumen. Kecuali jika tabel itu memang sangat panjang sehingga terpaksa harus dilanjutkan di halaman berikutnya. Ada cara untuk mencegah pemenggalan tabel dalam dokumen, seperti diuraikan di bawah ini.

NB: Jangan lakukan langkah di bawah ini untuk tabel panjang yang memang tidak bisa muat dalam satu halaman, karena bisa menyebabkan bagian bawah tabel tidak kelihatan sama sekali.

OpenOffice.org Write

OOo Write memberikan opsi untuk mencegah pemenggalan tabel. Caranya, klik pada tabel, lalu buka menu “Tabel” — “Tabel Properties…”. Di bawah tab “Text flow”, kosongkan pilihan “Allow table to split accross pages and columns”, lalu klik OK. Maka secara otomatis tabel ini akan dijaga supaya tidak terpenggal.

Microsoft Word

MS Word agak sedikit kurang praktis dalam hal ini, karena tidak ada opsi seperti pada OOo Write yang diuraikan di atas. Jalan keluarnya adalah dengan menggunakan opsi format paragraf. Caranya: pilih baris pertama hingga baris kedua dari bawah pada tabel. Lalu buka menu “Format” — “Paragraph”. Di bawah tab “Line and Page Breaks”, centang pilihan “Keep with next”. Pilihan “Keep with next” pada suatu paragraf menyebabkan paragraf tersebut selalu bersatu dengan paragraf di bawahnya. Dengan demikian, baris-baris dalam tabel itu selalu bersatu dengan baris di bawahnya. Awas, baris terakhir dalam tabel jangan diformat “Keep with next”, karena ini akan menyebabkan keseluruhan tabel tergandeng dengan paragraf di bawah tabel.

Menambahkan karakter khusus di “formula editor” OpenOffice

OpenOffice.org adalah sebuah paket program aplikasi perkantoran yang setara dengan Microsoft Office. Setara dalam pengertian bahwa fungsi-fungsi utama Microsoft Office dapat dijalankan oleh OpenOffice.org, yaitu mengedit dokumen perkantoran, membuat lembar hitungan dan membuat/menayangkan bahan presentasi.

Salah satu bagian dari OpenOffice.org adalah Formula Editor, yang kira-kira sama dengan Equation Editor di MS Office. Sama dalam pengertian bahwa fungsinya sama-sama untuk membuat/mengedit persamaan matematis; tetapi berbeda dalam penggunaan. Formula editor di OOo lebih mirip TeX, yaitu menggunakan kode-kode tertentu untuk membangun karakter atau bentuk rumus tertentu. Contohnya, untuk membuat rumus berikut:

formula

kita harus mengetikkan kode berikut pada Formula Editor:

y = {a x^2 + b x^3} over sqrt{sin(%alpha)}

Bagi yang sudah terbiasa menggunakan TeX, mungkin cara membuat rumus seperti di atas tidak terlalu aneh, tetapi mungkin kelihatan rumit bagi yang terbiasa menggunakan Equation Editor di MS Office yang menyediakan editor grafis.

Salah satu hal yang agak ‘kurang’ di OOo adalah palet atau katalog untuk karakter-karakter khusus, misalnya huruf-huruf Yunani dan simbol-simbol matematis. OOo memang menyediakan palet atau katalog untuk menambahkan karakter-karakter khusus tersebut.

pallette

Tampak di atas, palet untuk huruf-huruf Yunani. Ada set lain untuk simbol-simbol matematis. Masalahnya, palet untuk simbol matematis hanya menyediakan sedikit pilihan simbol. Bagaimana kalau kita mau memasukkan simbol yang belum ada di dalam palet? Kita bisa menambahkannya sendiri dengan langkah-langkah berikut. Contohnya, saya mau menambahkan karakter “kira-kira sama dengan” atau “≅”

  1. Dari menu Equation Editor, pilih Tools → Catalog.pallette-symbol
  2. Klik “Special” di bawah “Symbol set”. Klik “Edit…”.edit_symbols
  3. Ketik nama karakter di kotak “Symbol”, misalnya “approx”.
  4. Klik karakter untuk “approx” di tabel karakter.
  5. Karakter yang dipilih akan muncul di kotak kanan bawah.
  6. Klik “Add”
  7. Simbol yang baru sudah masuk ke katalog dan siap digunakan.pallette-symbol_added

Upgrade OpenOffice.org 3.1 di openSUSE 11.1

openSUSE 11.1 adalah versi terbaru distro tersebut pada saat posting ini dibuat. Distro tersebut sudah menyertakan OpenOffice.org (OOo) versi 3.0. Namun pada saat ini sudah terbit OOo versi 3.1, yang mempunyai beberapa fitur baru dibandingkan 3.0.

Berikut ini adalah langkah-langkah instalasi OOo 3.1 di openSUSE 11.1 dengan menggunakan repository di internet.

Pertama, pastikan bahwa koneksi internet sudah disetel dengan benar. Jika menggunakan proxy, atur dulu di Yast — Network services — Proxy. Centang “Enable proxy”, tulis alamat proxy dan nomor portnya dengan format http://alamat.proxy:nomorport. Masukkan username dan password untuk proxy di tempat yang sesuai. Klik “Finish”.

Langkah berikutnya, kita pergi ke Terminal dan buka ritsluiting alias Zypper. Untuk main di Terminal, kita harus jadi superuser alias root. Urutan perintahnya seperti di bawah ini.

su

zypper ar http://download.opensuse.org/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/ openoffice

zypper mr -r openoffice

zypper up -t package -r openoffice

Kalau alamat repo di atas tidak berfungsi atau susah diakses, bisa coba alamat repo dalam negeri: http://dl2.foss-id.web.id/opensuse/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/

Setelah perintah terakhir diketikkan, ada beberapa prompt yang harus dijawab. Setelah itu proses downOOo3.1load paket dari repo akan berlangsung (sekitar 124 MB). Kalau sambungan internet lancar, proses akan berjalan sendiri hingga tuntas.

Sekarang OOo 3.1 sudah siap dipakai 🙂

Thanks to bung Vavai dan bung Andi Sugandi untuk petunjuknya di milis id-opensuse.

zypper ar
http://download.opensuse.org/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/openoffice

zypper mr -r openoffice

zypper up -t package -r openoffice

Membuat cadangan data Address Book.app secara otomatis

Saya kehilangan data alamat di Address Book.app.

Awalnya, ketika sedang mensinkronkan Address Book.app dengan ponsel SE K618, muncul dialog yang mengatakan (kira-kira) “ada konflik data antara Address Book dengan data di ponsel”. Tanpa membaca teliti (karena sebelumnya sudah sering muncul peringatan seperti itu, dan biasanya saya iyakan saja), maka saya iyakan dialog itu.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah: data Address Book.app kosong melompong. Dan ketika saya cek ponsel, ternyata phonebook di ponsel pun kosong melompong. Mungkin terjadi konflik data antara Address Book.app dan ponsel, tetapi entah kenapa jadi kedua-duanya disapu habis.

Untungnya, sebelumnya saya pernah mem-backup data Address Book.app; sayangnya, backup terakhir adalah 5 bulan yang lalu. Artinya, saya kehilangan nomor-nomor yang baru saya tambahkan dalam lima bulan terakhir!

Apa lacur? Data sudah hilang, tidak akan kembali. Yang saya pikirkan sekarang: bagaimana cara membuat backup secara rutin dan otomatis. Sayangnya, saya belum pakai Leopard, jadi tidak punya Time Machine. Solusinya, saya bikin sistem otomatis sendiri untuk mem-backup file yang berisi database Address Book.app

Saya mulai dengan membuat workflow di Automator.app yang kira-kira isinya:

  1. Get Specified Finder Items. Finder item yang dipilih adalah file AddressBook.data dan AddressBook.data di folder home/Library/Application Support/AddressBook.
  2. Copy Finder Item ke suatu folder yang terpisah.
  3. Rename file tersebut dengan format “yyyy-dd-mm-filenameasli
  4. Save workflow ini sebagai app.

Lalu buat recurring event di iCal, misalnya seminggu sekali setiap Jumat pagi. Di alarm, pilih “Open file”, kemudian pilih file workflow.app yang dibuat di atas. Voila! Dengan sistem ini, data Address Book saya akan terbackup secara rutin. Jika sewaktu-waktu Address Book.app crash lagi dan menghilangkan data, saya tinggal menyalin file AddressBook.data yang lama.

Upgrade Memory Macbook

Setelah sekian lama menggunakan Macbook 1st gen (1,8 GHz) dengan RAM standar (512MiB), saya merasakan bahwa konfigurasi ini terlalu cémén untuk menjalankan beberapa aplikasi besar secara simultan. Aplikasi yang rutin saya gunakan bersamaan adalah Camino, Thunderbird dan OpenOffice, plus beberapa utility. Terasa sekali kalau sudah membuka dokumen yang agak besar di OpenOffice dan kemudian ingin pindah ke aplikasi lain, ada jeda waktu yang cukup mengganggu. Hal ini saya perkirakan karena memori yang kurang besar, sehingga prosesor harus memindah-mindahkan data dari RAM ke HD.

Jadi, sudah saatnya tambah RAM.

Saya mulai dengan mengamati diskusi di milis id-mac dan id-apple. Dari situ saya mempelajari spesifikasi RAM yang cocok untuk Macbook. Selain itu saya juga mengetahui bahwa supaya kerja RAM optimal, maka harus dipasang dua keping yang identik. Jadi untuk membuat kapasitas total RAM menjadi 2GiB, maka harus dipasang dua keping masing-masing 1GiB.

Kemudian saya melihat-lihat beberapa toko online untuk mengetahui kisaran harga. Harga SODIMM 1GiB berkisar di USD 22. Jadi untuk menjadi 2 GiB, saya perlu dana kira-kira Rp 500 ribuan. Dari beberapa website saya juga mempelajari cara membongkar Macbook untuk mengganti RAM. Cukup sederhana, kelihatannya. Tapi… saya masih agak ragu mau membongkar Macbook. Kalau komputer desktop saya sudah biasa; kalau laptop, saya belum pernah membongkar.

Akhirnya saya putuskan pergi ke Ratu Plaza saja. Di sana ada beberapa toko penjual produk Apple. Toko pertama saya datangi dan saya tanyai, “Punya memori buat Macbook?” Dijawab, ada. Berapa? 759 ribu rupiah. Mereknya apa? V-gen. “OK, saya lihat-lihat dulu ya” saya berbasa-basi. Lalu saya ke toko Apple yang lain. Di sebuah toko, saya mengulang pertanyaan di atas. Anehnya, jawabannya sama persis! Saya timbang-timbang, 759 ribu masih di atas anggaran yang saya siapkan. Jadi saya mau mencoba menawar.

Saya kembali ke toko pertama. “Yang tadi, barangnya ada?” Ada. Bisa kurang nggak? “Wah nggak bisa kurang. Tapi kalau mau coba, kita cariin di toko. Kalo kita yang datang, biasanya dikasi murah”. OK, boleh juga dicoba, saya pikir. Lalu salah satu teknisi toko itu pergi ke toko yang menjual komponen komputer generik. Tidak jauh-jauh, toko sebelahnya saja.

Di toko ini, ada memory Kingston 1 GiB dengan spesifikasi yang sesuai untuk Macbook. Berapa duit? Tertulis di label harganya: Rp 265.000. Tapi si engkoh pemilik toko memberikan harga Rp 210.000 sekeping. Deal? Deal! Saya bayar Rp 420.000 untuk 2 keping Kingston 1 GiB, lalu kembali ke toko Apple tadi. Saya berikan Macbook saya dan memori yang baru dibeli tadi ke si teknisi tadi. Nggak lama, dia keluar lagi dari bengkelnya. Si putih Macbook saya sudah 4 kali lebih pintar. “Nih, periksa dulu system profilenya. Sudah 2 GiB kan?” Dan sesuai tampilan di layar, memang sudah terpasang memori 2 x 1 GiB. Si teknisi meminta 100 ribu rupiah sebagai jasa. Fair enough, saya pikir. Kalau saya tahu cara memasangnya, tentu saya bisa menghemat 100 ribu rupiah. Tetapi kalau bukan karena teknisi itu, belum tentu saya bisa dapat harga murah untuk RAMnya. Jadi, total saya menghabiskan Rp 520.000 dan waktu setengah jam saja untuk menggembungkan RAM dari 512 MiB menjadi 2 GiB.

Sekarang menjalankan beberapa aplikasi sekaligus menjadi ringan. Saya bisa berpindah-pindah dari OpenOffice, Thunderbird dan Camino tanpa jeda waktu. Waktu startup untuk OpenOffice 3.0 RC1 juga menjadi jauh lebih cepat.

NB. Parkir di Ratu Plaza sucks (parkir basement ditutup).

Open Source + MacBook untuk Presentasi

Saya diminta untuk membuat sebuah presentasi oleh sebuah perusahaan. Tentunya untuk melakukan presentasi, harus ada materi visual untuk menunjangnya (hare gene geto loh!). Standar de facto untuk membuat bahan presentasi adalah Microsoft Powerpoint. Nah, di sini saya punya masalah karena saya tidak punya lisensi MS Office, sedangkan saya sudah berkomitmen untuk sedapat mungkin tidak menggunakan program bajakan. Jalan keluarnya, menggunakan program presentasi yang lisensiya tidak berbayar.

Masalah lainnya adalah, saya pengguna komputer Mac. (Walaupun komputer Mac saat ini sudah bisa menjalankan MS Windows, kembali ke prinsip awal – saya tidak ingin menggunakan bajakan sedangkan saya tidak punya lisensi Windows). Jadi saya butuh program yang bisa berjalan di atas MacOS.

OK, pilihannya adalah Keynote, OpenOffice dan NeoOffice. Keynote adalah program presentasi yang dibundle dengan MacOS 10.4 (yang sudah terinstalasi di komputer MacBook saya). Walaupun program tersebut cukup menarik, sayangnya program yang dibundle hanya versi perkenalannya; untuk menggunakan dalam jangka waktu panjang, saya harus membeli lisensinya. Jadi Keynote bukan pilihan saya. Mungkin kalau sudah ada cukup rejeki untuk membeli lisensinya, saya akan menggunakan Keynote.

Screenshot OpenOffice Impress di X11

OpenOffice adalah program yang sudah saya gunakan selama tiga tahun terakhir ini karena komputer kerja saya di kantor menggunakan Linux. OpenOffice tersedia versi MacOSnya, tetapi memerlukan plaform X11 yaitu window manager yang dibuat untuk operating system berbasis Unix. Kelemahan X11 hanya dalam tampilan: tidak seindah platform Aqua aslinya MacOS. Secara umum hal tersebut tidak mengganggu; namun khusus untuk presentasi OpenOffice Impress, ada hal yang mengganggu yaitu menu bar MacOS tetap tampil ketika masuk mode Slide Show. Bahkan Dock pun ikut tampil.

Jadi, pilihan jatuh pada NeoOffice. Segera saya mengunduh NeoOffice versi terbaru dan menginstalnya di MacBook. NeoOffice adalah port dari OpenOffice yang tidak menggunakan X11, tapi langsung berjalan di Aqua. Artinya, tampilannya persis sama dengan aplikasi asli MacOS, tidak seperti OpenOffice X11 yang masih kelihatan (dan bertingkah laku) seperti layaknya program berbasis Unix.

Setelah saya coba menjalankan presentasi (yang sudah saya buat di OpenOffice) di NeoOffice, ada masalah kecil yaitu beberapa teks tidak muncul dengan baik dalam moda slide show. Saya menduga karena font yang saya pakai di OpenOffice tidak tersedia di MacOS, tapi setelah saya ganti fontnya ternyata masih tidak bisa muncul. Lalu saya membuat template baru di NeoOffice dan memindahkan isi presentasi yang sudah saya buat ke template ini. Akhirnya tampilan presentasi bisa keluar seperti aslinya, tanpa gangguan menu bar seperti pada OpenOffice X11.

Ada gangguan sedikit (mungkin bug) ketika membuka file presentasi NeoOffice. Beberapa kali keyboardnya menjadi tidak berfungsi sehingga saya tidak bernavigasi menggunakan keyboard. Satu lagi kelemahan NeoOffice: lambat (dibandingkan OpenOffice X11).

Oh ya, sebelum saya teruskan: kenapa saya repot-repot harus menggunakan komputer saya sendiri untuk melakukan presentasinya? Bukankah biasanya panitia menyediakan komputer dan projektor LCD? Ya, memang. Tetapi juga, biasanya program yang tersedia hanya PowerPoint. Kenapa tidak membuat filenya di OpenOffice dan disimpan dengan format PowerPoint? Karena seringkali animasinya menjadi kacau ketika dibuka di OpenOffice. Jadi, saya ingin tetap menggunakan format asli OpenOffice. Nah, belum tentu di komputer panitia tersedia program yang bisa membuka file berformat OpenOffice.

Kembali ke cerita. Setelah berhasil menjalankan presentasi OOo Impress yang manis dengan MacBook, rintangan terakhir adalah hardware MacBook yang tidak punya koneksi VGA. Jadi saya harus membeli adaptor mini-DVI untuk VGA seharga 296000 rupiah. Biarlah, nanti kan setelah presentasi dapat amplop.

OK, sekarang saya siap untuk presentasi [hampir] di mana pun ada projektor LCD – tanpa software bajakan! Bonusnya: banyak audiens yang terpana menatap komputer putih bergambar apel menyala yang saya gunakan!!