“Zero Tolerance”

Pagi ini, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi terhadap saya.

Dalam perjalanan ke kantor, ban mobil saya kempis. Saya merasakan getaran yang tidak biasa di ban belakang sebelah kanan, dan kemudian ada pengendara motor yang menunjuk ke arah ban saya. Segera saya menepi, keluar dari mobil dan mengecek ban. Ternyata ban sudah kempis total. Entah kempis perlahan-lahan, atau tiba-tiba langsung kempis total. Saat itu, saya masih ingat untuk mengunci pintu kendaraan.

Ya, itu adalah prosedur standar yang saya terapkan: jika ada masalah di jalan, menepilah jika situasi tidak terlalu rawan; dan selalu kunci pintu mobil. Kebetulan lokasi kejadian sudah dekat dengan kantor, dan pastilah banyak rekan-rekan kantor yang lewat di tempat itu. Jadi saya tidak ragu untuk menepi, dan saya merasa sudah melakukan langkah pengamanan secukupnya dengan mengunci pintu mobil.

Kemudian saya mengeluarkan dongkrak dan mencoba menurunkan ban cadangan. Ketika harus membuka pintu belakang (mobil yang saya pakai jenis mobil penumpang multiguna), saya membuka kuncinya secara manual (bukan dengan central lock). Jadi pintu samping masih aman. Tetapi karena alarm berbunyi (karena pintu belakang dibuka), saya membuka central lock. Kemudian saya mengendorkan baut roda dan mencoba menurunkan ban cadangan. Tetapi ada masalah dengan engkol untuk menurunkan ban cadangan. Jadi saya menelpon rekan kantor untuk minta bantuan. Sambil menunggu datangnya bala bantuan, saya berdiri di belakang mobil dengan posisi menghadap mobil, sehingga saya akan bisa melihat kalau ada orang mendekat.

Sejauh ini belum ada masalah. Saya menggeser ransel saya, yang tadinya ada di jok tengah sebelah kiri, ke lantai sebelah kanan. Tetapi saya tidak mengunci pintu. Karena saya merasa saya dalam posisi siaga mengawasi lingkungan sekitar. Apalagi ketika dua rekan kantor datang dan mulai membantu membongkar ban yang kempes serta menurunkan ban cadangan, saya merasa sudah aman.

Nah di sinilah masalahnya. Ketika satu rekan sedang memasang ban, saya berjongkok sambil mengawasinya. Satu rekan lagi juga sedang jongkok di belakang mobil. Tiba-tiba terasa ada seseorang menaiki mobil karena kedudukan m0bil bergoyang. Rekan yang sedang di belakang tadi segera berdiri dan melihat pintu tengah kanan sudah terbuka, dan dia melihat seseorang berlari dari arah mobil menuju sepeda motor yang menunggu beberapa meter di depan mobil, membawa sesuatu yang seperti ransel. Ransel saya.

Singkat cerita, ransel tersebut raib dengan isi yang cukup berharga dan bernilai.

Yang perlu saya bahas di sini adalah prosesnya. Hanya satu kesalahan saya: tidak mengunci pintu, dan merasa aman dengan adanya teman. Dan satu kesalahan kecil inilah yang menyebabkan musibah tersebut. Bukan karena saya tidak tahu mengenai risiko bahaya kecurian dengan modus seperti itu, tetapi karena saya lalai menerapkan prosedur pencegahannya.

Ada istilah “Murphy’s Law” yang bunyinya kira-kira “Anything that can go wrong, will go wrong“. Maksudnya, kira-kira: jangan menganggap bahwa suatu bencana atau musibah tidak akan terjadi. Kita tidak akan tahu kapan bencana atau musibah terjadi, oleh karena itu kita harus siap siaga setiap saat. Kita harus menetapkan dan melaksanakan prosedur untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun seringkali orang mengabaikan prosedur semacam ini dengan dalih “ah, aman kok. Nggak akan terjadi apa-apa”.

Asas zero tolerance (dalam konteks manajemen risiko)  adalah sikap disiplin dalam menerapkan prosedur, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Ketika suatu prosedur dikompromikan — seperti yang saya lakukan di atas — maka terbuka peluang terjadinya bahaya, yang bisa menimbulkan kerugian materi dan cedera, atau bahkan kematian. Maka itu, marilah kita terapkan sistem zero tolerance ini!

NB: musibah juga bisa terjadi karena faktor luar sepenuhnya, yang di luar kendali kita, sehingga apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, mungkin tidak akan bisa menghindarkan kita dari kejadian itu atau pun mengurangi dampaknya. Bukan berarti kita hanya bisa pasrah, tetapi kita harus terus waspada dan taat kepada prosedur yang sudah ada.

PS: ada satu lagi kelalaian saya dalam kasus ini, yaitu belum membuat cadangan (backup) data di laptop, yang ikut raib bersama ransel saya. Sebelumnya saya sudah mempunyai kebiasaan membuat cadangan data secara teratur. Tetapi, ketika saya menggunakan komputer baru (yang baru saya pakai 2 bulanan), sistem backup yang lama tidak sesuai dan harus dimodifikasi. Dan, saya selalu berpikir: “nanti, kalau sudah ada waktu, saya akan bikin sistem backup untuk komputer yang baru ini“. Sayangnya janji ini terlambat terlaksana… sangat terlambat.

One response

  1. Bro… pa kabar? Tulisan yang bagus… i like this… di samping kontennya, saya suka gaya bahasa penulisannya… good job… makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: