Jerman, April 2010

Bagaimana bisa sampai ke Jerman

Saya tergabung dalam sebuah kelompok riset antarnegara yang dipimpin seorang peneliti dari NMIJ-AIST Jepang dan melibatkan peneliti dari NIMT Thailand serta KIM-LIPI Indonesia. Kelompok ini mempunyai kerja sama penelitian yang didanai oleh NEDO, salah satu lembaga sponsor penelitian di Jepang. Kerja sama ini berlangsung dari tahun 2008 dan akan berlangsung hingga awal 2011. Topik penelitian yang sedang dikerjakan adalah pembuatan sistem standar sudut dengan ketelitian sangat tinggi (<0,3″). Sebetulnya penelitian ini sudah dilakukan oleh si pemimpin kelompok (Dr. Watanabe) dan hasilnya sudah dipatenkan. Yang dilakukan dalam kerja sama ini adalah pembuatan duplikat instrumen standar yang sudah dirancang; duplikat ini diberikan masing-masing ke NIMT dan KIM-LIPI dan menjadi basis uji banding antarnegara. Dengan adanya instrumen standar ini, maka NIMT dan KIM-LIPI dapat melakukan kalibrasi besaran sudut dengan tingkat ketelitian yang hampir menyamai NMIJ, dan menjadi salah satu lembaga metrologi dengan kemampuan pengukuran tertinggi di dunia untuk besaran sudut.

Salah satu kegiatan dalam kerja sama ini adalah melakukan eksibisi di Pekan Raya Hannover atau Hannover Messe. Sesuai namanya, pameran ini diadakan di kota Hannover, Jerman dan berlangsung pada tanggal 19 hingga 23 April 2010. Semua anggota kelompok ini hadir dalam pameran ini — Watanabe-san, Watcharin dan Ketsaya dari NIMT, serta saya sendiri. Seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh NEDO. Keikutsertaan kami di acara ini bukan sesuatu yang sama sekali terpisah — AIST (lembaga induk NMIJ) secara rutin ikut dalam pameran ini, dan tahun ini pun AIST hadir memamerkan hasil-hasil penelitian dari berbagai lembaga penelitian di bawah naungannya.

Keikutsertaan kami dalam pameran ini adalah suatu kebetulan yang baik, karena kami dapat menyempatkan untuk menyambangi lembaga mitra kami di Jerman, yaitu PTB. Kampus PTB terletak di kota Braunschweig yang tidak jauh dari Hannover. Karena itu rencana perjalanan kami dibuat agar tiba di Jerman tanggal 15 April sehingga kami dapat berkunjung ke PTB di Brauschweig pada tanggal 16 April. Rute penerbangan saya adalah Jakarta-Frankfurt (tiba tanggal 15 April pagi) dan transfer pesawat terbang untuk Frankfurt-Hannover, dilanjutkan dengan mobil ke Braunschweig. Sedangkan rekan-rekan dari Jepang dan Thailand dijadwalkan tiba dari Tokyo dan Bangkok (secara terpisah) ke Muenchen pada tanggal 15 April sore, kemudian pindah pesawat ke Hannover dan selanjutnya menyusul ke Braunschweig.

Gunung berapi

Apa lacur, ternyata terjadi peristiwa letusan gunung berapi di Islandia yang menyebabkan gangguan pada lalu lintas penerbangan. Gunung berapi tersebut memuntahkan abu yang melayang di udara dan tertiup angin hingga ke melintasi daerah Eropa utara. Abu itu tidak menghalangi pandangan, tetapi jika terhisap mesin jet pesawat, dapat menyebabkan kemacetan. Selain itu, abu tersebut bersifat abrasif sehingga dapat merusak badan pesawat. Karena itu, otoritas penerbangan di beberapa negara Eropa utara melarang penerbangan di wilayahnya. Saya beruntung bahwa saya bisa menjalani rute perjalanan saya sesuai rencana hingga tiba di Braunschweig, dan baru tahu tentang musibah tersebut dari mitra kerja yang saya temui di PTB pada siang hari tanggal 15 April. Saya jadi bertanya-tanya tentang nasib rekan-rekan saya dari Jepang dan Thailand.

Di depan gerbang PTB

Di depan gerbang PTB

Benar saja, besok paginya tanggal 16 (sedianya kami merencanakan untuk berangkat dari hotel di Braunschweig ke PTB pukul 10.00), saya mendapat telpon dari Watanabe-san, mengabarkan bahwa dia dan rekan-rekan dari Thailand sudah tiba di Muenchen, tetapi tidak bisa melanjutkan ke Hannover dengan pesawat terbang, karena penerbangannya dibatalkan. Akibatnya mereka menginap di Muenchen dan pagi tanggal 16 berangkat ke Braunschweig naik kereta. Kereta itu penuh sesak karena demikian banyaknya penerbangan di Eropa yang dibatalkan. Akhirnya mereka tiba di Braunschweig pukul 14.00. Walaupun agak sedikit terlambat, agenda hari itu (kunjungan dan diskusi dengan kolega di PTB) bisa terlaksana juga.

Tanggal 17 (hari Sabtu) kami meninggalkan Braunschweig menuju Hannover. Kami akan mengikuti pekan raya Hannover dari Senin hingga Jumat, dan dijadwalkan pulang hari Sabtu tanggal 24 April.

Ketika pekan raya dimulai, ternyata rombongan dari AIST (selain Watanabe-san) belum tiba. Mereka direncanakan tiba hari Minggu tanggal 18, tetapi karena penutupan bandara, maka mereka tidak bisa berangkat ke Jerman atau bahkan ke Eropa. Maka kelompok kami berempat mendapat tugas dadakan: menyiapkan anjungan AIST selain barang-barang pameran kelompok kami sendiri. Untungnya anjungan AIST tidak memamerkan banyak alat-alat peraga; kebanyakan yang dipamerkan adalah poster dan brosur. Barang-barang ini sudah dipaketkan dari Jepang jauh hari sebelumnya, sehingga bisa tiba di tempat pameran pada waktunya. Maka sepanjang pameran, kelompok kami merangkap tugas menjadi duta AIST yang menjaga anjungan ini.

Hannover Messe

Ini adalah sebuah pameran dagang (trade fair), yang konon adalah pekan raya dagang terbesar sejagad. Saya tidak punya data berupa angka, tetapi jika dibandingkan dengan bangsal pameran yang ada di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, maka Hannover Messe ini menggunakan total ruangan seluas 20 kali bangsal di PRJ. Ada ratusan peserta dari Jerman dan mancanegara. Bukan hanya industri atau badan usaha yang ikut pameran, tetapi juga lembaga pendidikan dan lembaga nirlaba lainnya.

Begitu besarnya area pameran ini, mungkin perlu sedikitnya dua hari penuh untuk bisa melihat semua anjungan pameran. Memang belum tentu semua anjungan akan menarik perhatian pengunjung tertentu, karena orang yang datang ke pameran dagang umumnya sudah mempunyai bidang minat tertentu. Yang datang ke pekan raya ini tampaknya kebanyakan pebisnis; di luar itu, tampak pula kalangan akademik dan beberapa rombongan anak sekolah. Karena luasnya tempat pameran, banyak pengunjung berkeliling naik skuter alias otopet.

Karena Jerman bisa dibilang salah satu pusat teknologi maju dunia, maka pameran ini memperlihatkan berbagai teknologi termaju di bidangnya masing-masing. Namun yang dipamerkan tidak semata-mata teknologi canggih. Anjungan dan bilik peserta pameran umumnya diisi dengan prototipe atau contoh produk; dari per dan sekrup berukuran milimeter, hingga komponen mesin dan peralatan pabrik produk besi tuang berdiameter 3 meter!

Banyak anjungan berlomba menarik minat pengunjung, salah satu caranya dengan menawarkan barang-barang promosi. Yang paling banyak ditawarkan adalah pena dan permen, selain tentu saja katalog (baik yang berupa buku maupun cakram digital). Banyak juga yang menawarkan “gimmick” berupa permainan. Ada juga yang menawarkan minuman dan kudapan gratis, bahkan beberapa anjungan dilengkapi bar yang menyediakan bir dan anggur.

Anjungan AIST tempat kami berpameran, seperti saya ceritakan di atas, tidak menampilkan banyak hal selain poster dan brosur. Maka tidak banyak yang kami lakukan sementara menjaga anjungan, kecuali untuk pengunjung yang khusus bertanya tentang hasil riset yang dipamerkan kelompok kami. Dan karena tidak terlalu banyak yang mampir bertanya, maka kami berempat bisa bergantian berkeliling melihat-lihat pameran yang lain.

Braunschweig

Kita kembali dulu ke Braunschweig. Ini adalah sebuah kota yang tidak terlalu besar (penduduknya sekitar 280.000 jiwa). Saya mendapat kesempatan berkeliling di kotanya pada hari Sabtu tanggal 17 (sebelum berangkat ke Hannover). Pusat kotanya tidak terlalu luas, sehingga bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Seperti lazimnya kota-kota tua di Jerman atau Eropa pada umumnya, banyak gedung-gedung tua berumur ratusan tahun seperti gedung pemerintahan dan gereja. Gedung-gedung itu bukan hanya khas dalam bentuknya, tetapi terutama dalam ukurannya. Saya melihat beberapa gereja yang menara dan atapnya sangat tinggi dan temboknya amat tebal, padahal kapasitas jemaatnya tidak terlalu besar. Artinya, gereja-gereja itu memang dirancang dengan megah, bukan sekedar untuk menampung sebanyak mungkin jemaat. Bukan cuma ukuran dan bentuk, hiasan-hiasannya pun sangat kaya dan indah, baik berupa kaca berwarna, ukiran-ukiran dan patung, maupun lukisan-lukisan. Mungkin ini dapat menjadi cermin religiusitas orang Jerman pada jaman dahulu.

Sebuah gedung tua di Braunschweig

Sebuah gedung tua di Braunschweig

Transportasi di Braunschweig tampak sangat teratur. Alat pengangkut publik berupa tram dan bus kota beroperasi dengan jadwal teratur dan kondisinya sangat baik. Walaupun Jerman terkenal sebagai penghasil mobil-mobil berkualitas tinggi, bukan berarti penduduknya bergantung kepada kendaraan bermotor. Cukup banyak penduduknya yang tidak canggung menggunakan sepeda untuk bepergian di sekeliling kota. Di semua tempat umum dan kantor hampir pasti ada banyak sepeda yang terparkir rapi. Jalur-jalur sepeda telah disediakan berdampingan dengan trotoar dan jalan mobil. Di pusat kota, beberapa jalan ditutup untuk kendaraan pada umumnya (kecuali kendaraan tertentu) sehingga pejalan kaki merasa nyaman.

Makanan

Iskender kebab

Iskender kebab

Makanan paling khas Jerman adalah daging panggang dan sosis, dan lebih khusus lagi, porsinya cukup besar. Salah satu variannya adalah “currywurst”, sosis besar dengan kuah dan bumbu kari. Tentu saja ada banyak macam makanan yang lain di sana. Untuk makan siang, saya paling suka roti baguet (roti bundar besar berkulit agak keras) yang diisi potongan daging dan sayur-sayuran. Relatif murah dan cukup mengenyangkan. Sempat juga merasakan makanan Turki berupa Iskender Kebab (daging kambing yang dipanggang vertikal, diiris-iris dan disiram kuah dan yoghurt). Memang, banyak sekali warga keturunan Turki sehingga banyak juga restoran dan kios makanan Turki.

Kawasan Turki di Braunscweig

Kawasan Turki di Braunscweig

Saya mendapat teh gratis – mungkin karena saya bisa mengucapkan “çay” (teh dalam bahasa Turki). Saya juga sempat merasakan makanan Yunani, yang agak mirip makanan Turki (maklumlah negaranya tidak terpisah jauh). Selain itu semua, tentunya ada juga makanan Asia (beberapa kali “terpaksa” makan makanan Asia karena rekan dari Thailand tidak suka makanan Eropa).

Satu lagi yang khas Jerman adalah bir. Walaupun saya tidak terlalu suka bir, saya sempat mencoba bir yang dibuat di sebuah bar di Braunschweig (bukan buatan pabrik). Ya karena saya bukan penggemar bir, maka saya tidak bisa berkomentar tentang rasanya.

Gereja

Di Hannover, karena masuk hari Minggu, saya menyempatkan diri mengikuti Misa di Gereja St. Elisabeth. Seperti yang saya ceritakan di atas, gereja ini juga mempunyai arsitektur yang sangat megah walaupun ukurannya tidak terlalu besar (lebih kecil daripada Gereja Katedral Bogor). Saya mengikuti misa pagi jam 9.30. Umat yang menghadiri misa ini mungkin tidak sampai 200 orang. Banyak orang-orang tua, tetapi ada juga beberapa keluarga muda dengan anak-anak mereka. Jadi walaupun (konon) jumlah umat beragama di Eropa cenderung turun, tetapi ada harapan bahwa masih ada generasi penerusnya.

Pasar

Di pusat kota Braunschweig maupun Hannover, saya tidak menemukan hipermarket besar yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari secara lengkap. Yang saya perhatikan, ada banyak toko yang ragam barangnya lebih sedikit, tetapi saling melengkapi. Selain itu, masih ada pasar tradisional tempat penduduk berbelanja. Ya, pasar tradisional dalam pengertian adanya penjual-penjual yang membuka lapak-lapak dengan jenis dagangan yang khusus. Hanya saja, lapak-lapak itu berupa gerobak (trailer) atau mobil bak yang diparkir di sebuah lapangan. Di sinilah orang membeli sayur-mayur dan buah-buahan segar, daging, roti, bumbu-bumbu dan bahan pangan lainnya. Pasar ini terasa sangat hidup, tidak seperti hipermarket yang efisien tetapi seperti tanpa nyawa.

Telekomunikasi

Fasilitas telekomunikasi tentu saja bukan masalah di negara maju seperti Jerman. Yang menjad masalah — bagi saya — adalah biayanya. Hotel tidak menyediakan fasilitas internet secara gratis di kamar, dan biayanya (khususnya di hotel yang saya tempati di Braunschweig) cukup mahal. Untuk bertelepon, penyedia layanan ponsel yang saya gunakan di Indonesia tidak mempunyai fasilitas jelajah (roaming), dan kalau pun bisa jelajah, mungkin biayanya cukup tinggi juga. Karena itu saya membeli kartu prabayar di Jerman. Saya membeli paket prabayar dari penyedia jaringan O2 seharga €5 dan kemudian menambahkan ‘pulsa’ senilai €15. Dengan kartu prabayar ini, saya bisa menelpon gratis ke sesama pengguna O2 dan juga ke telepon sambungan tetap (fixed line) di Jerman. Ada beberapa paket internet yang ditawarkan: 9ct per menit, €3,50 per hari, atau €10 per bulan. Yang paling penting buat saya, saya masih bisa tetap mengakses internet dari ponsel dan juga bisa menelpon ke nomor lokal dengan biaya lebih murah daripada menggunakan fasilitas jelajah kartu telepon Indonesia.

Episode berikutnya:

Apakah saya akan bisa pulang naik pesawat seperti dijadwalkan tanggal 24 April?

Bersambung… (kalau sempat)

Glosarium

NMIJ – National Metrology Institute of Japan, lembaga metrologi nasional Jepang

AIST – National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, lembaga riset pemerintah Jepang yang menaungi berbagai pusat penelitian

NIMT – National Institute of Metrology, Thailand, lembaga metrologi nasional Thailand

KIM-LIPI – Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrology – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga metrologi ilmiah nasional Indonesia

PTB – Physikalisch Technische Bundesanstalt, lembaga metrologi nasional Jerman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: