Mengubah, menerima, atau keluar?

Jika anda tidak suka atau tidak puas dengan suatu kondisi di lingkungan anda (bisa tempat kerja, tempat tinggal, organisasi, komunitas, atau bahkan negara), apa yang bisa anda lakukan? Pada dasarnya, ada tiga macam pilihan: mengubah keadaan tersebut, menerima keadaan tersebut, atau keluar dari lingkungan tersebut.

1. MENGUBAH:

Coba lihat, apa yang salah dengan lingkungan atau komunitas tersebut, sehingga menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan? Ketidaktahuan? Ketidaktaatan? Ketidakpedulian? Keegoisan? Lalu, apa yang bisa diperbuat untuk memperbaiki keadaan tersebut? Cobalah melakukan perubahan dari dan oleh anda sendiri. Kemudian ajaklah orang lain (secara komunal atau melalui struktur organisasi) untuk ikut mewujudkan perubahan itu. Mungkin anda perlu pengetahuan teknik tertentu — carilah orang yang kompeten atau cobalah pelajari bidang tersebut. Mungkin juga anda perlu dukungan politik — sekali lagi, carilah orang yang punya akses politik, atau mungkin anda juga harus belajar berpolitik.

Contohnya: Jika di jalan di depan rumah anda banyak sampah, bagaimana mengubahnya? Mungkin anda sendiri harus membiasakan tidak membuang sampah sembarangan. Kemudian mengajak tetangga-tetangga untuk berbuat hal yang sama. Langkah berikutnya berkoordinasi dengan pengurus lingkungan atau kelurahan untuk mengurus sistem pembuangan sampah.

Oh, ya. Melakukan perubahan mungkin membutuhkan proses yang panjang.

2. MENERIMA:

Seandainya anda sudah mencoba melakukan hal di atas (mengubah), dan ternyata perubahan yang diharapkan itu tidak tercapai, lalu bagaimana? Mungkin anda harus mencoba lagi. Mencoba lebih keras, atau mencari cara lain. Jika tidak tercapai juga, bagaimana?

Atau, jika anda tidak mau mencoba melakukan perubahan, bagaimana?

Ya, anda harus menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah (entah karena memang tidak bisa diubah, atau karena memang anda sendiri tidak mau mencoba mengubahnya). Nah, kalau anda tidak mau menerimanya? Ada satu pilihan lagi, yaitu…

3. KELUAR:

Ya, kalau kondisinya tidak bisa diubah, dan anda tidak bisa hidup nyaman dalam lingkungan dan kondisi seperti itu, mau apa lagi? Keluar dari lingkungan/komunitas tersebut adalah pilihan logis berikutnya. Setelah keluar, ke mana? Mungkin anda bisa pindah ke lingkungan atau komunitas lain. Mungkin anda harus membentuk komunitas yang baru (seperti orang-orang partai yang setiap tahun membuat partai baru karena konflik dengan partainya yang lama).

Keluar dari suatu komunitas dan membentuk komunitas baru tidak selalu bermakna negatif. Barangkali komunitas baru itu akan bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Barangkali anda sendiri bisa lebih berkembang di komunitas yang baru tersebut.

4. MENGGERUTU:

Oh, maaf. Ini sebetulnya bukan pilihan keempat dari pertanyaan di atas. Tapi dalam kenyataannya, inilah yang sering dilakukan orang yang tidak puas dengan kondisi di suatu lingkungan. Mereka tidak mau atau tidak mampu membuat perubahan, tapi tidak mau berbesar hati menerima kondisi itu dan pula tidak berani mengorbankan kenyamanan untuk pergi dan pindah ke lingkungan baru. Sebagai pelepasannya, mereka menggerutu dan bergunjing.

Menggerutu tidak sama dengan memprotes atau mengritik, atau pun mengeluh. Protes dan kritikan adalah bagian dari proses menuju perubahan (lihat pilihan no. 1 di atas). Sedangkan menggerutu sebetulnya bukan sekedar perbuatan, melainkan lebih mencerminkan sikap kejiwaan orang tersebut yang tidak bisa menerima keadaan dan juga tidak mau mengakui ketidakmampuannya mengubah keadaan.

KESIMPULAN:

Anda ingin menjadi agen pengubah, atau berbesar hati menerima kenyataan, atau anda mau menjadi pionir menjajal dunia baru, atau anda cuma mau jadi penggerutu? Saran saya: pilih salah satu dari ketiga pilihan pertama, tapi jangan ambil pilihan keempat.

4 responses

  1. Tidak ada pilihan lain lagi ya mas ? Salam kenal

  2. Kalau ada, lalu apa?🙂

    Kata kuncinya adalah:
    1) mencoba/berikhtiar untuk melakukan suatu perbaikan, dan
    2) berbesar hati untuk menerima fakta jika perbaikan itu ternyata terlalu sulit atau bahkan mustahil untuk dilakukan.

  3. Tapi kebanyakan orang nalurinya coba merubah dulu, baru kalo nggak berhasil, options 2, 3 dan 4 bakal keliatan. 2 3 dan 4 menjadi pilihan kalo perubahan dirasa perlu. Dan kalo perubahan dirasa perlu, biasanya ada usaha buat merubah. Jadi nomer 1 biasanya bukan termasuk pilihan, tapi langkah awal.

  4. Sebetulnya, target tulisan ini adalah orang-orang yang cenderung memilih 4 dan tidak sadar bahwa ada pilihan 1, 2 dan 3. Dan ternyata saya menjumpai cukup banyak orang seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: