Terkecoh iklan Mentari

24 12 2012

Saya melihat iklan Indosat Mentari di lembaran khusus koran Kompas tanggal 17 Desember 2012, di antaranya menawarkan paket prabayar Mentari untuk smartphone dengan kuota data 3 GB per bulan.

Iklan Indosat Mentari di Kompas 17 Desember 2012

Iklan Indosat Mentari di Kompas 17 Desember 2012

Tertarik dengan iklan tersebut, saya mencari informasi lebih rinci di situs web Indosat dan menemukan laman berikut.

Tangkapan layar situs Indosat Mentari, direkam 24/12/2012

Tangkapan layar situs Indosat Mentari, direkam 24/12/2012

Saya tertarik dengan “Paket Smartphone untuk iPhone, Android dll”. Di situ disebutkan, untuk paket Rp99ribu per 30 hari, fasilitasnya adalah kuota data 3.0 GB, voice onnet 150 menit, voice offnet 50 menit, SMS 500, Super Wifi, dan gratis Whatsapp 12 bulan. Buat saya yang paling menarik adalah paket data, urutan kedua adalah paket voice. Selebihnya bonus saja karena saya tidak terlalu banyak mengirim SMS dan belum ingin menggunakan Whatsapp. Paket ini menarik buat saya karena selama ini dengan pemakaian tidak terlalu intensif (bicara paling 15 menit sehari, data tidak lebih dari 200MB sebulan, SMS rata-rata 10 kali sehari) dengan paket Mentari Hebat Berlima, saya menghabiskan 200ribu sebulan. Saya pikir, dengan paket yang 99ribu (kuota data 3 GB), saya bisa lebih bebas memanfaatkan aplikasi berbasis jaringan di ponsel saya.

Perhatikan bahwa di laman tersebut tidak ada informasi lain-lain seperti “syarat dan ketentuan berlaku”. Ada satu asterisk (*) pada kolom data 3GB, tetapi keterangan di bawahnya hanya menyebut aturan pindah paket. Tidak ada keterangan pembatasan waktu atau batasan lain-lain.

Maka saya melakukan pendaftaran dengan menekan *123*2*2# (setelah sebelumnya mengisi pulsa Rp100ribu). Lalu saya memilih paket “MentariSmartphoneBaru”, “SP bulanan99″. Setelah itu saya mendapat SMS dari 2020 dengan pesan:

Selamat, Anda aktif di Mentari Baru. GratisWhatsApp s/d 12 bln, kuota data s/d 3GB, kecepatan s/d 7.2 Mbps mulai dari Rp 5rb. Pilih paketnya di *123*2*2#. Indosat Super3G+ 25rb/bln 500MB+Bonus1,5GB.Kec sd 3,6Mbps.tkn*123*4*1*1#

Lalu ada SMS lagi dari 123:

Selamat! Nikmati Gratis Whatsapp 12bln cek *555*1# //Data 3GB(1.5GB jam00-06), telp200mnt(50mnt ke OprLain)&500SMS ke nmr Indosat s/d 19/01/2013 20:46 cek *557#

LHO????

WTF?

WTF?

Perhatikan bagian yang saya tebalkan:

  1. Kuota data 3 GB terbagi atas dua periode waktu: 00-06 dan 06-00, masing-masing 1,5 GB. Hal ini tidak disebutkan di iklannya (baik cetak maupun di situs web).
  2. Gratis SMS hanya berlaku untuk nomor Indosat. Ini juga tidak disebutkan di iklannya.

Lalu, ada kejutan lain. Ketika saya cek sisa kuota di *557#, ini yang tampil:

Screenshot_2012-12-21-20-36-44Perhatikan bahwa jatah bicara dan SMS dibatasi hanya jam 00-17. Di luar periode itu (17-00) berlaku tarif normal. LHO??? Lagi-lagi, informasi ini tidak ada di iklannya.

Saya merasa terkecoh dan rugi karena:

  1. Saya butuh koneksi data terutama pada saat saya di luar rumah. Jam 00-06, hampir pasti saya ada di rumah (kecuali sedang liburan atau tugas ke luar kota), dan kalau pun tidak di rumah, umumnya jam segitu saya tidur. Kalau saya di rumah, saya tidak butuh akses data lewat ponsel karena sudah punya sambungan internet lewat kabel. Dan kalau pun tidak di rumah, jam segitu saya hampir pasti tidak butuh koneksi data — mimpi saya masih analog, belum digital.
  2. Pukul 17-00, saya melakukan cukup banyak panggilan telepon (umumnya setelah pulang kantor tapi belum sampai atau tidak langsung ke rumah), namun saya tidak bisa menggunakan jatah menelepon dalam paket ini.

Kepada Indosat, saya mohon penjelasan. Terima kasih.

Update (1/2/2013): koreksi ketikan: tertulis 30GB, seharusnya 3.0 GB.





Mengubah dan Menggabungkan Beberapa Berkas JPG menjadi Satu Berkas PDF

12 12 2012

Kadang kita perlu mengubah beberapa berkas gambar (misalnya dalam format JPG) menjadi satu berkas PDF agar lebih mudah membacanya. Misalnya hasil pindaian dokumen atau komik yang diunduh dari internet. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana dengan fasilitas yang sudah tersedia di Mac OS.

Pertama, tentunya siapkan dulu berkas gambarnya. Diasumsikan bahwa Anda sudah memindai dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format gambar (JPG, PNG dll). Atau Anda mengunduh berkas gambarnya dari internet. Sebagai contoh di sini, saya pakai komik H2O yang bisa diunduh gratis di http://kolamkomik.com/.

Screenshot 2012-12-12 at 16.51.16

Setiap berkas JPG adalah satu halaman komik. Perhatikan bahwa penamaan berkas sudah diatur supaya halamannya urut. Berkas paling atas adalah halaman sampulnya.

Di jendela Finder tersebut, ketik Cmd-A (select All). Atau kalau di folder tersebut ada berkas lain yang tidak mau digabungkan, pilih berkas yang mau digabungkan dengan tetikus.

Lalu buka berkas-berkas tersebut dengan Preview. Kalau Preview adalah aplikasi default untuk membuka berkas JPG, Anda tinggal mengetik Cmd-O. Kalau tidak, klik-kanan pada berkas yang dipilih, lalu pilih “Open with…” dan pilih Preview.

Screenshot 2012-12-12 at 16.56.02Preview akan membuka semua berkas tadi dalam satu jendela. Langkah berikutnya, ubah berkas tersebut menjadi PDF. Klik di kolom thumbnail (kolom kiri) atau klik salah satu thumbnail, lalu tekan Cmd-A (select All).

Sebelum lanjut ke langkah berikutnya, kita perlu pastikan dulu bahwa semua berkas gambar mempunyai resolusi yang sama. Kalau tidak, ketika diubah menjadi PDF nanti ukuran halamannya bisa bervariasi, walaupun ukuran pikselnya sama. Pilih menu Tools –> Adjust size… Jika berkas-berkas gambar tadi mempunyai resolusi yang tidak seragam, maka kotak “Resolution” akan berisi tulisan “Multiple Values”. Kotak ini harus berisi suatu nilai. Masukkan suatu nilai antara 50 s.d. 200 — cobalah bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang paling nyaman dilihat.

Lalu pilih menu File –> Export Selected Images… Pilih “PDF” untuk formatnya, dan pilih folder untuk menyimpan berkas PDF (bisa di folder yang sama dengan berkas aslinya). Sekarang semua berkas telah berubah menjadi PDF, tetapi masih terpisah-pisah. Tutup jendela Preview (Cmd-W atau File–>Close).

Untuk menyatukan berkas-berkas PDF tadi, buka folder tempat menyimpan berkas PDF tadi. Pilih semua berkas (Cmd-A), lalu klik-kanan, pilih “Open with…” dan pilih Preview.app. (Kalau aplikasi default di komputer Anda untuk membuka berkas PDF adalah Preview.app, maka pada langkah di atas Anda tinggal tekan Cmd-O).

Sekarang semua berkas PDF akan terbuka dalam satu jendela Preview.app. Ingat bahwa semua berkas masih terpisah-pisah. Klik ikon di kiri atas dan pilih “Contact Sheet”.

Screenshot 2012-12-12 at 17.06.48Tekan Cmd-A. Lalu tekan tombol Command dan klik di berkas pertama (yang nantinya akan menjadi halaman pertama buku komik ini).

Screenshot 2012-12-12 at 17.10.46

Sekarang, seret (click-drag) berkas mana saja (kecuali berkas pertama), lalu jatuhkan di thumbnail berkas pertama. Perhatikan bahwa ikon pointer tetikus akan berubah menjadi tanda tambah, yang artinya ada proses salin-rekat terhadap berkas pertama.

Screenshot 2012-12-12 at 17.13.43

Perhatikan bahwa berkas pertama sekarang berisi sekian banyak halaman. Secara default (untuk versi Preview.app sejak Mac OS Lion) berkas tersebut sudah disimpan sebagai berkas PDF multi-halaman. (Saya tidak tahu apakah trik ini berlaku di Preview.app pra-Mac OS Lion; seandainya iya, mungkin masih harus Save-as secara manual).

Selesai. Tutup jendela Preview.app tadi, lalu kembali ke folder tempat penyimpan berkas PDF tadi. Berkas pertama sudah berisi halaman-halaman dari berkas yang lainnya. Anda bisa menghapus berkas PDF selain berkas halaman pertama tadi, yang sekarang sudah menjadi buku yang lengkap.

NB: terima kasih untuk para pembuat komik H2O yang menyediakan komik gratis ini.





“Zero Tolerance”

20 06 2012

Pagi ini, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi terhadap saya.

Dalam perjalanan ke kantor, ban mobil saya kempis. Saya merasakan getaran yang tidak biasa di ban belakang sebelah kanan, dan kemudian ada pengendara motor yang menunjuk ke arah ban saya. Segera saya menepi, keluar dari mobil dan mengecek ban. Ternyata ban sudah kempis total. Entah kempis perlahan-lahan, atau tiba-tiba langsung kempis total. Saat itu, saya masih ingat untuk mengunci pintu kendaraan.

Ya, itu adalah prosedur standar yang saya terapkan: jika ada masalah di jalan, menepilah jika situasi tidak terlalu rawan; dan selalu kunci pintu mobil. Kebetulan lokasi kejadian sudah dekat dengan kantor, dan pastilah banyak rekan-rekan kantor yang lewat di tempat itu. Jadi saya tidak ragu untuk menepi, dan saya merasa sudah melakukan langkah pengamanan secukupnya dengan mengunci pintu mobil.

Kemudian saya mengeluarkan dongkrak dan mencoba menurunkan ban cadangan. Ketika harus membuka pintu belakang (mobil yang saya pakai jenis mobil penumpang multiguna), saya membuka kuncinya secara manual (bukan dengan central lock). Jadi pintu samping masih aman. Tetapi karena alarm berbunyi (karena pintu belakang dibuka), saya membuka central lock. Kemudian saya mengendorkan baut roda dan mencoba menurunkan ban cadangan. Tetapi ada masalah dengan engkol untuk menurunkan ban cadangan. Jadi saya menelpon rekan kantor untuk minta bantuan. Sambil menunggu datangnya bala bantuan, saya berdiri di belakang mobil dengan posisi menghadap mobil, sehingga saya akan bisa melihat kalau ada orang mendekat.

Sejauh ini belum ada masalah. Saya menggeser ransel saya, yang tadinya ada di jok tengah sebelah kiri, ke lantai sebelah kanan. Tetapi saya tidak mengunci pintu. Karena saya merasa saya dalam posisi siaga mengawasi lingkungan sekitar. Apalagi ketika dua rekan kantor datang dan mulai membantu membongkar ban yang kempes serta menurunkan ban cadangan, saya merasa sudah aman.

Nah di sinilah masalahnya. Ketika satu rekan sedang memasang ban, saya berjongkok sambil mengawasinya. Satu rekan lagi juga sedang jongkok di belakang mobil. Tiba-tiba terasa ada seseorang menaiki mobil karena kedudukan m0bil bergoyang. Rekan yang sedang di belakang tadi segera berdiri dan melihat pintu tengah kanan sudah terbuka, dan dia melihat seseorang berlari dari arah mobil menuju sepeda motor yang menunggu beberapa meter di depan mobil, membawa sesuatu yang seperti ransel. Ransel saya.

Singkat cerita, ransel tersebut raib dengan isi yang cukup berharga dan bernilai.

Yang perlu saya bahas di sini adalah prosesnya. Hanya satu kesalahan saya: tidak mengunci pintu, dan merasa aman dengan adanya teman. Dan satu kesalahan kecil inilah yang menyebabkan musibah tersebut. Bukan karena saya tidak tahu mengenai risiko bahaya kecurian dengan modus seperti itu, tetapi karena saya lalai menerapkan prosedur pencegahannya.

Ada istilah “Murphy’s Law” yang bunyinya kira-kira “Anything that can go wrong, will go wrong“. Maksudnya, kira-kira: jangan menganggap bahwa suatu bencana atau musibah tidak akan terjadi. Kita tidak akan tahu kapan bencana atau musibah terjadi, oleh karena itu kita harus siap siaga setiap saat. Kita harus menetapkan dan melaksanakan prosedur untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun seringkali orang mengabaikan prosedur semacam ini dengan dalih “ah, aman kok. Nggak akan terjadi apa-apa”.

Asas zero tolerance (dalam konteks manajemen risiko)  adalah sikap disiplin dalam menerapkan prosedur, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Ketika suatu prosedur dikompromikan — seperti yang saya lakukan di atas — maka terbuka peluang terjadinya bahaya, yang bisa menimbulkan kerugian materi dan cedera, atau bahkan kematian. Maka itu, marilah kita terapkan sistem zero tolerance ini!

NB: musibah juga bisa terjadi karena faktor luar sepenuhnya, yang di luar kendali kita, sehingga apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, mungkin tidak akan bisa menghindarkan kita dari kejadian itu atau pun mengurangi dampaknya. Bukan berarti kita hanya bisa pasrah, tetapi kita harus terus waspada dan taat kepada prosedur yang sudah ada.

PS: ada satu lagi kelalaian saya dalam kasus ini, yaitu belum membuat cadangan (backup) data di laptop, yang ikut raib bersama ransel saya. Sebelumnya saya sudah mempunyai kebiasaan membuat cadangan data secara teratur. Tetapi, ketika saya menggunakan komputer baru (yang baru saya pakai 2 bulanan), sistem backup yang lama tidak sesuai dan harus dimodifikasi. Dan, saya selalu berpikir: “nanti, kalau sudah ada waktu, saya akan bikin sistem backup untuk komputer yang baru ini“. Sayangnya janji ini terlambat terlaksana… sangat terlambat.





Convert scanned documents to editable text – For Free!

12 06 2012

Sometimes you have scanned documents and want to convert the image into text for easy editing. “Optical Character Recognition” (OCR) softwares have been available for a long time for this purpose. However, the effectiveness of OCR software is usually proportional to the price — better result, higher price and v.v.

There’s one free alternative, though. Google docs. Here’s how.

1. Have a Google account (you can borrow someone else’s, but really, why not create your own if you don’t have one?)

2. After logging in to your Google account, go to https://docs.google.com

3. Click the “upload” button

You can upload single files or folders containing several files. For now let’s try just one file.

4. After you select your file(s), a dialog box will appear.

Check the “Convert text from PDF and image files to Google documents” option which starts the magic.

5. When the upload is successful and finished, it will appear in your list of documents.

6. Now initiate download. Check the checkbox in front of the file’s name. Then click the “More” button (it would be invisible if no files are selected). Choose “Download” from the drop-down menu.

7. Another dialog will appear to confirm the download and choose the format. Since you’d want to edit the file in a text editor or word processor, choose the format that you prefer (there are plain text, rich text, HTML,  MS Word and Open Document formats). Then click Download.

8. Voila, your document is ready for text editing! (Look in your browser’s default download folder.)

Caveat:

  1. With any OCR software, the success rate depends on the quality of the scan, in particular the contrast, sharpness, resolution, and alignment.
  2. There are limits on how big and how many files you can upload at a time.
  3. If you’re concerned about your file’s secrecy, delete the document from Google doc after you’ve downloaded the OCR-ed file. However, I can’t guarantee that Google will not keep a copy in its cache, and whether it will not make it public. If this doesn’t comfort you, then you’d better buy your own OCR software.

Update 2012/08/06

Google docs has slightly changed the interface during upload. Now there’s no more confirmation dialog for the upload settings; instead, it will upload your files right away. While the upload is still in process, you’ll see the upload progress window; there on the top bar of this window you’ll see “Settings”, if you click on this, a drop down menu will appear with three options. Check the “Convert text from uploaded PDF and image files” option for the OCR.





Menentukan ‘toleransi’ alat ukur

24 10 2011

Di milis forumkalibrasi@yahoogroups.com muncul sebuah pertanyaan: “bagaimana cara menentukan toleransi alat jika alat tersebut benar2 baru dan baru akan dikalibrasi?”

Sebelum membahas “bagaimana menentukan toleransi alat ukur”, kita bahas dulu makna “toleransi”.

Tolerate yang menjadi akar kata tolerance (toleransi), oleh New Oxford American Dictionary diartikan kira-kira “mampu menanggung sesuatu (yang buruk) tanpa efek buruk”. Kalau diartikan lebih bebas, toleransi berarti: kemampuan menerima suatu penyimpangan (dari kondisi ideal) tanpa terjadinya efek yang buruk.

Dalam dunia industri, toleransi merupakan bagian dari spesifikasi suatu produk. Dalam konteks ini, toleransi dapat diartikan “besarnya perbedaan antara kondisi aktual dibandingkan kondisi ideal, sejauh bahwa perbedaan tersebut tidak sampai mengakibatkan kegagalan fungsi maupun penurunan fungsi yang signifikan”. Misalkan sebuah komponen mesin mempunyai spesifikasi ukuran 90 mm dengan toleransi ±0,1 mm. Ini berarti bahwa komponen tersebut masih dapat berfungsi dengan baik asalkan ukurannya di antara 89,9 mm dan 90,1 mm.

Setelah melalui proses produksi, hasil yang diharapkan adalah suatu produk yang memiliki ukuran atau sifat-sifat lain sesuai spesifikasi dan toleransi yang telah ditetapkan. Karena itu dilakukan pengujian mutu terhadap produk tersebut, dengan cara melakukan pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan spesifikasi tadi. Jika hasil pengukuran menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai ukuran sesuai dengan spesifikasi, maka produk tersebut dinyatakan “sesuai dengan spesifikasi”.

Di dalam proses pengukuran tadi, terdapat sumber-sumber ketidakpastian pengukuran, sehingga hasil pengukuran pun mempunyai nilai ketidakpastian pengukuran. Maka dalam paradigma terbaru, penilaian kesesuaian (conformity assessment) harus memperhitungkan nilai ketidakpastian dan nilai pengukuran. Suatu produk baru dapat dikatakan “sesuai dengan spesifikasi” jika memenuhi ketentuan:

E + U ≤ T

dengan:

  • E = penyimpangan dari spesifikasi (absolut)
  • U = nilai ketidakpastian pengukuran (pada tingkat kepercayaan 95 persen)
  • T = toleransi untuk produk tersebut (absolut)

Dengan kata lain, nilai ketidakpastian pengukuran harus lebih kecil daripada toleransi yang diberikan untuk produk yang diukur. Idealnya nilai ketidakpastian pengukuran besarnya sepersepuluh dari toleransi, atau dalam kondisi terburuk, nilai ketidakpastian pengukuran diharapkan tidak lebih dari sepertiga toleransi.

Uraian di atas menunjukkan bahwa “toleransi” berkaitan dengan produk yang diukur, bukan dengan alat ukurnya. Untuk alat ukur, VIM (kosakata metrologi internasional) 2008 memberikan istilah maximum permissible error (MPE). Antara MPE dan toleransi memang ada kesamaan makna, tetapi dianjurkan untuk tidak dicampuraduk.

Kembali ke proses di atas, maka seharusnya urutan yang benar adalah:

  • spesifikasi dan toleransi (T1) untuk sebuah produk ditetapkan;
  • pengukuran terhadap produk tersebut dilakukan dengan sistem pengukuran yang mempunyai ketidakpastian pengukuran (U1) cukup kecil dibandingkan toleransi T1;
  • alat ukur yang dipakai dalam sistem pengukuran tersebut dikalibrasi menggunakan sistem kalibrasi yang dapat memberikan nilai ketidakpastian pengukuran (U2) lebih kecil daripada U1;
  • dan seterusnya.

Jadi, pada saat kita akan mengalibrasi alat ukur, harus sudah jelas dulu berapa MPE (bukan toleransi) untuk alat ukur tersebut. Baru kita mengevaluasi ketidakpastian pengukuran dari kalibrasi tersebut, supaya kita bisa menilai apakah ketidakpastian pengukuran tersebut memadai (cukup kecil) dibandingkan MPE-nya.

Ibaratnya, kalau mau mengemudikan sebuah kendaraan, tentukan dulu tujuannya! Jangan mulai menjalankan kendaraan kalau kita belum tahu ke mana tujuannya. “Toleransi objek ukur” adalah tujuan yang ingin dicapai; pengukuran atau kalibrasi alat ukur dan evaluasi ketidakpastian adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.





How my Gmail account got hacked into

10 06 2011

My Gmail account got hacked into.

You’ve probably received a number of emails from people you know or people with whom you have exchanged emails, but the content of the emails is suspicious. This is a common occurrence in which someone’s email account has been used without his/her consent by someone else, often with malicious intent. In short, we say his/her email account has been hacked into. The hacker uses the hacked account to (1) spread spam messages, or (2) spread malware (commonly known as “virus”, although not all malwares are virus). Either way, it’s unpleasant for both the original email account owner and the recipients of such emails.

This can happen in several ways:

  1. The hacker sends an email to the target, posing as an “administrator” of the email provider; tricking the account owner to disclose their account name and password (and also other irrelevant information such as age, phone number, mother’s maiden name etc.). The target, not being able to distinguish a legit notice from a bogus one, dutifully disclosed the said information. The hacker then gains the target’s email account name and password, and can now log in to the account and send spam emails. This method is commonly known as “phishing”.
  2. The victim’s computer has been infiltrated by “spyware program”, which is a program designed to record the victim’s activity on the computer; especially what internet address he/she visits and what keys are pressed on the keyboard. With this method, it is possible for the spyware to record the victim’s email password when the victim attempts to log in to his/her email account. The spyware then send this information to its owner, who then gains control of the victim’s email account. Else, the spyware may send email from within the victim’s computer, using the credentials it gained from the victim. How did the spyware got in the victim’s computer in the first place? As any malware, it can enter the victim’s computer when somebody installs or downloads unsecured program on the computer.

Back to my story: so how did I found out that my account has been hacked, and what did I do about it?

This morning when I tried to check my Gmail account, it says that an “unusual activity” has been detected on my account. Gmail  wouldn’t allow me to check my inbox right away; instead it asked me to verify my account by sending a code to my phone through SMS; I then had to enter this code through Gmail. When the verification passed, Gmail asked me to change my password, which I did. After that I was able to enter my Gmail account.

Upon checking my inbox, I found one email supposedly sent by me, to a number of email addresses to which I have sent email in the recent weeks. My Gmail activity log shows one access from Argentina around the time that email was sent. The content of the email was meaningless sentences with one link to a web page, which I did not bother to open. The most pleasant discovery was that Gmail blocked all these outgoing email! So none of these spams were delivered to the intended recipients.

Gmail 1, hacker 0.

So how did I got hacked? Since I normally only access my Gmail from my macbook (which I did not share with anybody except my wife, and that is very rarely; and I still believe that macs are malware proof) and my mobile phone (which I never lend to anybody either), there’s little chance anybody could have snooped on my password. But I recall that two days ago, I accessed my Gmail from my wife’s computer, and that’s the only instance in the past 30 days that I accessed my Gmail other than through my macbook or my phone. I’ve used my wife’s computer a few times before to access my Gmail, and knowing that my wife is not the type of person who likes to experiment with software, it’s not likely that she is directly responsible for letting in the spyware in her computer. But what about other people who used her computer?

So I checked my wife’s computer, and sure enough: someone installed a software, which is not familiar to me, and not likely to be related to my wife’s activity. I also checked the download history, and found out that someone had been accessing a website which hosts movie files, and a movie (looks like an anime) had been downloaded to the computer. Then I asked my wife, and she confirmed that two days ago someone (a member of our extended family) had borrowed her computer.

Though I cannot ascertain that this person is the culprit, there is a large probability that he might have been. Maybe the software he downloaded was contaminated with malwares. I can’t be sure, but it’s possible.

For now, I advised my wife not to use her computer to check her email for a while, whilst I learn how to get rid of the spyware. I’m not a Windows user, so I’m not used to dealing with malwares like this.

Lessons from this story:

  1. Be careful with spywares and any malware in general. If you use a malware-prone operating system, exercise care by not downloading or installing softwares except the ones you trust. Pirated softwares and media files (movies and music) are one of the most vulnerable entry point of malwares. Use a software to detect, block and remove malwares; or change to a malware-proof operating system.
  2. Use an email provider with good protection. In my case, I have proven that Gmail is good at preventing spam through its system. Another popular free email provider, however, is notorious for letting such attack goes on and on (look at your inbox, and you might observe that such email that you receive are all, if not mostly, from that email provider).

Note 1: I use the term “hacker” in neutral tone; there are good hackers and bad hackers. Obviously I’m talking about bad hackers here.

Note 2: I’m not affiliated to  Gmail/Google nor Apple.





Mencegah Tabel Terpotong di Dokumen

3 06 2011

Jika dalam sebuah dokumen word processor terdapat tabel, terkadang tabel itu terpotong batas halaman sehingga bagian atas tabel itu muncul di bagian bawah halaman, dan bagian bawah tabel muncul di awal halaman berikutnya. Hal ini seringkali tidak diinginkan, karena mengurangi estetika dokumen. Kecuali jika tabel itu memang sangat panjang sehingga terpaksa harus dilanjutkan di halaman berikutnya. Ada cara untuk mencegah pemenggalan tabel dalam dokumen, seperti diuraikan di bawah ini.

NB: Jangan lakukan langkah di bawah ini untuk tabel panjang yang memang tidak bisa muat dalam satu halaman, karena bisa menyebabkan bagian bawah tabel tidak kelihatan sama sekali.

OpenOffice.org Write

OOo Write memberikan opsi untuk mencegah pemenggalan tabel. Caranya, klik pada tabel, lalu buka menu “Tabel” — “Tabel Properties…”. Di bawah tab “Text flow”, kosongkan pilihan “Allow table to split accross pages and columns”, lalu klik OK. Maka secara otomatis tabel ini akan dijaga supaya tidak terpenggal.

Microsoft Word

MS Word agak sedikit kurang praktis dalam hal ini, karena tidak ada opsi seperti pada OOo Write yang diuraikan di atas. Jalan keluarnya adalah dengan menggunakan opsi format paragraf. Caranya: pilih baris pertama hingga baris kedua dari bawah pada tabel. Lalu buka menu “Format” — “Paragraph”. Di bawah tab “Line and Page Breaks”, centang pilihan “Keep with next”. Pilihan “Keep with next” pada suatu paragraf menyebabkan paragraf tersebut selalu bersatu dengan paragraf di bawahnya. Dengan demikian, baris-baris dalam tabel itu selalu bersatu dengan baris di bawahnya. Awas, baris terakhir dalam tabel jangan diformat “Keep with next”, karena ini akan menyebabkan keseluruhan tabel tergandeng dengan paragraf di bawah tabel.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.