Menentukan nilai drift alat ukur dari sertifikat kalibrasi

14 03 2014

Tanya (dari sebuah email):

Dengan ini, kami mohon pencerahaanya mengenai cara menghitung nilai Drift untuk budget Uncertainty sbb:
1). jika pada Sertifikat Standard yang digunakan tidak ada nilai “U” nya. (Sertifikat Standard masih bawaan dari Maker)
2). jika pada Sertifikat Standard yang terakhir/terupdate ada nilai “U”nya tetapi pada Sertifikat Standard sebelum di Kalibrasi ulang tidak ada nilai “U” nya. (Sertifikat Standard masih bawaan dari Maker)

Jawab:

Drift tidak ada kaitannya dengan nilai ketidakpastian pengukuran dalam sertifikat kalibrasi.

Nilai ketidakpastian pengukuran dalam sertifikat kalibrasi merupakan pengaruh sumber-sumber ketidakpastian yang terdapat atau terjadi pada proses kalibrasi alat itu.

Yang berkaitan dengan drift adalah nilai koreksi atau nilai penyimpangan yang dilaporkan dalam sertifikat itu. Definisi drift sendiri adalah: perubahan nilai koreksi (atau nilai penyimpangan) dari waktu ke waktu. Karena itu, untuk mengetahui nilai drift suatu alat ukur atau standar ukur, kita harus melihat sertifikat kalibrasi alat itu dari 3 kali atau lebih kalibrasi. Idealnya, semua sertifikat kalibrasi itu harus dari laboratorium kalibrasi yang sama. Jika data ini tersedia, maka kita bisa mengestimasi berapa perubahan nilai koreksi per tahun atau per bulan, berdasarkan laju perubahannya.

Yang sering terjadi adalah: suatu alat ukur atau standar ukur masih relatif baru, sehingga riwayat atau sejarah kalibrasinya belum diketahui (misalnya, baru pernah dikalibrasi satu atau dua kali saja). Dalam hal ini, kita bisa mengestimasi nilai drift alat tersebut dari beberapa sumber:

  1. nilai drift untuk alat yang sejenis (dari pabrik yang sama) yang pernah kita miliki
  2. nilai drift tipikal untuk alat sejenis, dari hasil penelitian yang pernah dipublikasikan
  3. nilai drift maksimum yang diperbolehkan untuk alat sejenis itu, berdasarkan suatu standar spesifikasi.

Terkait dengan contoh kasus yang Bapak sampaikan, saya ingin mengingatkan: sertifikat kalibrasi tanpa nilai ketidakpastian pengukuran, tidak sesuai dengan ketentuan standar sistem manajemen mutu laboratorium kalibrasi, sehingga seharusnya tidak digunakan sebagai acuan (dengan demikian, ketertelusuran metrologisnya belum terjamin). Satu-satunya cara untuk menjamin ketertelusuran metrologis suatu hasil pengukuran atau kalibrasi adalah dengan meminta alat tersebut dikalibrasi di laboratorium kalibrasi yang kompeten dan memenuhi syarat-syarat ketertelusuran.

Semoga berguna.





Dua macam ‘colokan’ listrik di Indonesia

16 11 2013

Ada berbagai bentuk tusuk kontak atau “colokan” alias steker listrik di dunia. Setiap negara biasanya mempunyai satu standar; atau paling tidak ada satu yang “dianggap standar”. Tahukah Anda, bahwa di Indonesia ada lebih dari satu jenis yang dianggap “standar”?

Tusuk kontak yang paling umum dipakai di Indonesia mempunyai dua pin atau “kaki”, yang masing-masing berbentuk silindris atau bundar. Namun, sebetulnya ada dua standar yang sama-sama mempunyai dua kaki silindris, tetapi tidak persis sama. Keduanya kerap dipakai di Indonesia.

Yang pertama adalah jenis Schuko (CEE 7/4). Steker jenis ini mempunyai pin atau kaki yang lebih gemuk. Ciri lainnya adalah kepalanya berbentuk bundar, dan ada kontak arde atau ground di sisinya.

Schuko

Steker Schuko dengan lubang arde

Jenis yang kedua adalah Europlug (CEE 7/16). Sama-sama mempunyai dua kaki silindris, tetapi diameter kakinya lebih kecil dibanding Schuko. Selain itu, ciri lain adalah bentuk kepalanya yang pipih dan tidak ada kontak untuk arde.

Europlug

Sepintas memang mirip, tetapi ada perbedaan. Kaki Schuko lebih gemuk (4,8 mm) dibandingkan kaki Europlug (4 mm). Begitu juga dengan jarak antarkaki; Shucko lebih renggang (19 mm) dibandingkan Europlug (18,6 mm di pangkal, 17,5 mm di ujung, alias sedikit tirus).

Dari informasi di atas, ada hal yang perlu diperhatikan jika membeli peralatan listrik (misalnya peranti yang menggunakan listrik, stop kontak, steker, adaptor dan sejenisnya). Secara umum, kedua jenis steker di atas sebetulnya dirancang untuk bisa saling bertukar. Namun, ada beberapa perangkat di pasaran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan standar.

Europlug T-connector non standard

Colokan-T europlug non-standar

Adaptor-T di atas hanya bisa menerima steker Europlug, alias tidak bisa menerima steker Schuko. Jadi, kalau peranti kita menggunakan steker Schuko, maka kita tidak bisa menggunakan adaptor-T seperti di atas.

Sebaliknya, ada stop kontak yang bisa menerima steker Schuko dengan baik, tetapi terminalnya terlalu longgar sehingga jika steker Europlug ditancapkan, kontaknya tidak sempurna. Akibatnya listriknya tidak tersalurkan; atau lebih parah lagi, menimbulkan panas dan bisa melelehkan kepala steker sehingga bisa menimbulkan kebakaran.

Kesimpulannya, berhati-hatilah membeli perangkat listrik khususnya yang berkaitan dengan steker atau stop kontak. Sedapat mungkin belilah perangkat yang sesuai dengan standar.





Melamar jadi PNS? Mengapa tidak.

8 11 2013

Saat ini beberapa kementerian maupun lembaga pemerintah sedang mengadakan penerimaan pegawai baru alias Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Beberapa kementerian/lembaga telah menerapkan sistem penerimaan yang transparan, sehingga tidak ada lagi istilah suap-menyuap atau sogok-menyogok dalam proses tersebut. Termasuk lembaga tempat saya bekerja, LIPI.

Saya tidak ingin bicara tentang prosesnya; saya lebih ingin menyoroti tentang apa yang harus disiapkan seseorang yang ingin melamar jadi PNS.

Motivasi

Yang pertama tentu saja motivasi. Apa tujuan Anda menjadi PNS? Dari beberapa pelamar yang saya wawancarai, motivasi ini bisa dibagi dua:

  • mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri, misalnya jaminan keamanan pekerjaan (dengan anggapan bahwa PNS tidak bisa dipecat, walaupun kenyataannya tidak begitu); jaminan hari tua (uang pensiun); status (di kalangan tertentu, status PNS mempunyai gengsi yang tinggi); kesempatan sekolah; kesempatan mengakses fasilitas;
  • memberikan kontribusi bagi bangsa (alias melayani).

Dalam kenyataannya, tentunya motivasi seseorang bisa berupa gabungan dari kedua macam motivasi di atas. Wajar saja bila seseorang mengharapkan sesuatu keuntungan bagi dirinya. Tetapi yang lebih penting adalah perimbangan antara keduanya. Jika motivasi pribadi terlalu kuat, maka yang terjadi adalah orang itu akan lebih banyak berfokus pada kegiatan yang menguntungkan dirinya saja.

Untuk menjadi PNS, pastikan bahwa Anda mempunyai motivasi utama untuk melayani dan mengabdi kepada bangsa, sedangkan keuntungan pribadi menjadi prioritas kedua. Ini tidak berarti bahwa seorang PNS dilarang kaya; dengan kinerja yang baik dan berada di tempat yang sesuai, seorang PNS bisa mendapat penghasilan yang cukup dan layak. Tetapi, sekali lagi, jika motivasi utama adalah mendapatkan keuntungan pribadi atau mencapai tujuan pribadi, lebih baik tidak usah menjadi PNS.

Kesesuaian dengan tempat kerja

Dunia PNS adalah dunia yang cenderung tidak luwes dalam hal aturan-aturan, termasuk penempatan seorang pegawai. Secara aturan, memang ada kemungkinan seorang PNS untuk pindah ke bagian lain atau bahkan instansi lain yang mungkin lebih sesuai dengan minta dan kompetensinya. Tetapi dalam praktiknya, hal itu sangat sulit. Jadi, strategi yang paling baik adalah: memilih tempat kerja yang sesuai dengan minat dan kompetensi, sejak awal.

Beberapa pelamar yang saya wawancarai, ternyata belum sepenuhnya memahami seperti apa tempat kerja yang mereka lamar. Semestinya mereka mencari tahu cukup banyak tentang apa tugas dan fungsi lembaga atau satuan kerja tempat mereka melamar. Kebanyakan pelamar hanya mencari tahu dari situs web satuan kerja yang mereka minati. Namun situs web semacam itu hanya memuat informasi yang sangat terbatas.

Cara yang terbaik adalah berkomunikasi langsung dengan satuan kerja yang dituju, bahkan kalau bisa, kunjungi satuan kerja tersebut dan diskusi dengan orang-orang yang bekerja di situ, khususnya pejabat yang berwenang dalam hal perekrutan. Dengan demikian, calon pelamar bisa memahami betul tugas dan fungsi lembaga atau satuan kerja tersebut; seperti apa tempat kerja dan fasilitas yang ada; bagaimana suasana kerjanya; bahkan bisa berkenalan langsung dengan calon rekan kerja maupun calon atasannya. Calon pelamar juga bisa mengetahui lebih dalam apa yang diharapkan dari pelamar tersebut, sehingga mereka bisa mempersiapkan diri dengan optimal. Sebaliknya, jika mereka merasa bahwa tempat tersebut tidak sesuai dengan minat maupun kompetensi mereka, maka mereka tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk melamar.

Ada satu cara lagi yang lebih mangkus, yaitu magang atau kerja praktik di tempat kerja tersebut. Cara ini memang membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih lama, tetapi sangat efektif untuk mengukur apakah pelamar akan mendapatkan tempat yang sesuai.

Oh ya, ada satu hal lagi: adanya perjanjian atau kontrak untuk bekerja selama beberapa tahun di instansi tersebut, dengan ancaman denda jika keluar/mengundurkan diri sebelum masa kontrak itu habis. Selain itu, seseorang yang pernah diterima sebagai PNS dan kemudian keluar, tidak bisa melamar lagi sebagai PNS di tempat lain. Karena itu, pastikan bahwa tempat yang dituju adalah tempat yang kemungkinan besar akan sesuai dengan minat dan kemampuan pelamar.

Selanjutnya…

Nah, jika dua hal di atas sudah dipertimbangkan, maka tinggal mengikuti proses formalnya yaitu mendaftar, memasukkan berkas-berkas yang diminta, kemudian mengikuti beberapa tahap tes yaitu tes akademik, tes psikologi, dan wawancara. Tentunya semua tahapan ini harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Banyak instansi yang sudah menerapkan sistem penerimaan CPNS secara elektronik. Sistem ini jauh lebih efisien dan kemungkinan lebih transparan daripada sistem konvensional.

Sekali lagi, pastikan bahwa Anda punya motivasi yang tepat untuk menjadi PNS; dan bahwa Anda sudah mengerti tentang situasi tempat kerja yang dituju. Jika Anda hanya mencoba-coba melamar dengan harapan “siapa tahu diterima”, tanpa motivasi yang jelas, lebih baik tidak usah melamar. Juga, jika Anda harus menyogok atau menyuap untuk bisa diterima, lebih baik tidak usah melamar. Ini berarti bahwa (1) motivasi Anda cenderung untuk mendapat keuntungan pribadi, karena sogokan itu tentunya diperhitungkan sebagai “modal” yang harus kembali; dan (2) tempat kerja yang Anda tuju belum bebas dari KKN. Saat ini sudah banyak instansi yang menerapkan proses penerimaan yang transparan dan jujur serta adil; maka mari kita bangun birokrasi yang jujur dan bersih.





Terkecoh iklan Mentari

24 12 2012

Saya melihat iklan Indosat Mentari di lembaran khusus koran Kompas tanggal 17 Desember 2012, di antaranya menawarkan paket prabayar Mentari untuk smartphone dengan kuota data 3 GB per bulan.

Iklan Indosat Mentari di Kompas 17 Desember 2012

Iklan Indosat Mentari di Kompas 17 Desember 2012

Tertarik dengan iklan tersebut, saya mencari informasi lebih rinci di situs web Indosat dan menemukan laman berikut.

Tangkapan layar situs Indosat Mentari, direkam 24/12/2012

Tangkapan layar situs Indosat Mentari, direkam 24/12/2012

Saya tertarik dengan “Paket Smartphone untuk iPhone, Android dll”. Di situ disebutkan, untuk paket Rp99ribu per 30 hari, fasilitasnya adalah kuota data 3.0 GB, voice onnet 150 menit, voice offnet 50 menit, SMS 500, Super Wifi, dan gratis Whatsapp 12 bulan. Buat saya yang paling menarik adalah paket data, urutan kedua adalah paket voice. Selebihnya bonus saja karena saya tidak terlalu banyak mengirim SMS dan belum ingin menggunakan Whatsapp. Paket ini menarik buat saya karena selama ini dengan pemakaian tidak terlalu intensif (bicara paling 15 menit sehari, data tidak lebih dari 200MB sebulan, SMS rata-rata 10 kali sehari) dengan paket Mentari Hebat Berlima, saya menghabiskan 200ribu sebulan. Saya pikir, dengan paket yang 99ribu (kuota data 3 GB), saya bisa lebih bebas memanfaatkan aplikasi berbasis jaringan di ponsel saya.

Perhatikan bahwa di laman tersebut tidak ada informasi lain-lain seperti “syarat dan ketentuan berlaku”. Ada satu asterisk (*) pada kolom data 3GB, tetapi keterangan di bawahnya hanya menyebut aturan pindah paket. Tidak ada keterangan pembatasan waktu atau batasan lain-lain.

Maka saya melakukan pendaftaran dengan menekan *123*2*2# (setelah sebelumnya mengisi pulsa Rp100ribu). Lalu saya memilih paket “MentariSmartphoneBaru”, “SP bulanan99″. Setelah itu saya mendapat SMS dari 2020 dengan pesan:

Selamat, Anda aktif di Mentari Baru. GratisWhatsApp s/d 12 bln, kuota data s/d 3GB, kecepatan s/d 7.2 Mbps mulai dari Rp 5rb. Pilih paketnya di *123*2*2#. Indosat Super3G+ 25rb/bln 500MB+Bonus1,5GB.Kec sd 3,6Mbps.tkn*123*4*1*1#

Lalu ada SMS lagi dari 123:

Selamat! Nikmati Gratis Whatsapp 12bln cek *555*1# //Data 3GB(1.5GB jam00-06), telp200mnt(50mnt ke OprLain)&500SMS ke nmr Indosat s/d 19/01/2013 20:46 cek *557#

LHO????

WTF?

WTF?

Perhatikan bagian yang saya tebalkan:

  1. Kuota data 3 GB terbagi atas dua periode waktu: 00-06 dan 06-00, masing-masing 1,5 GB. Hal ini tidak disebutkan di iklannya (baik cetak maupun di situs web).
  2. Gratis SMS hanya berlaku untuk nomor Indosat. Ini juga tidak disebutkan di iklannya.

Lalu, ada kejutan lain. Ketika saya cek sisa kuota di *557#, ini yang tampil:

Screenshot_2012-12-21-20-36-44Perhatikan bahwa jatah bicara dan SMS dibatasi hanya jam 00-17. Di luar periode itu (17-00) berlaku tarif normal. LHO??? Lagi-lagi, informasi ini tidak ada di iklannya.

Saya merasa terkecoh dan rugi karena:

  1. Saya butuh koneksi data terutama pada saat saya di luar rumah. Jam 00-06, hampir pasti saya ada di rumah (kecuali sedang liburan atau tugas ke luar kota), dan kalau pun tidak di rumah, umumnya jam segitu saya tidur. Kalau saya di rumah, saya tidak butuh akses data lewat ponsel karena sudah punya sambungan internet lewat kabel. Dan kalau pun tidak di rumah, jam segitu saya hampir pasti tidak butuh koneksi data — mimpi saya masih analog, belum digital.
  2. Pukul 17-00, saya melakukan cukup banyak panggilan telepon (umumnya setelah pulang kantor tapi belum sampai atau tidak langsung ke rumah), namun saya tidak bisa menggunakan jatah menelepon dalam paket ini.

Kepada Indosat, saya mohon penjelasan. Terima kasih.

Update (1/2/2013): koreksi ketikan: tertulis 30GB, seharusnya 3.0 GB.





Mengubah dan Menggabungkan Beberapa Berkas JPG menjadi Satu Berkas PDF

12 12 2012

Kadang kita perlu mengubah beberapa berkas gambar (misalnya dalam format JPG) menjadi satu berkas PDF agar lebih mudah membacanya. Misalnya hasil pindaian dokumen atau komik yang diunduh dari internet. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana dengan fasilitas yang sudah tersedia di Mac OS.

Pertama, tentunya siapkan dulu berkas gambarnya. Diasumsikan bahwa Anda sudah memindai dokumen tersebut dan menyimpannya dalam format gambar (JPG, PNG dll). Atau Anda mengunduh berkas gambarnya dari internet. Sebagai contoh di sini, saya pakai komik H2O yang bisa diunduh gratis di http://kolamkomik.com/.

Screenshot 2012-12-12 at 16.51.16

Setiap berkas JPG adalah satu halaman komik. Perhatikan bahwa penamaan berkas sudah diatur supaya halamannya urut. Berkas paling atas adalah halaman sampulnya.

Di jendela Finder tersebut, ketik Cmd-A (select All). Atau kalau di folder tersebut ada berkas lain yang tidak mau digabungkan, pilih berkas yang mau digabungkan dengan tetikus.

Lalu buka berkas-berkas tersebut dengan Preview. Kalau Preview adalah aplikasi default untuk membuka berkas JPG, Anda tinggal mengetik Cmd-O. Kalau tidak, klik-kanan pada berkas yang dipilih, lalu pilih “Open with…” dan pilih Preview.

Screenshot 2012-12-12 at 16.56.02Preview akan membuka semua berkas tadi dalam satu jendela. Langkah berikutnya, ubah berkas tersebut menjadi PDF. Klik di kolom thumbnail (kolom kiri) atau klik salah satu thumbnail, lalu tekan Cmd-A (select All).

Sebelum lanjut ke langkah berikutnya, kita perlu pastikan dulu bahwa semua berkas gambar mempunyai resolusi yang sama. Kalau tidak, ketika diubah menjadi PDF nanti ukuran halamannya bisa bervariasi, walaupun ukuran pikselnya sama. Pilih menu Tools –> Adjust size… Jika berkas-berkas gambar tadi mempunyai resolusi yang tidak seragam, maka kotak “Resolution” akan berisi tulisan “Multiple Values”. Kotak ini harus berisi suatu nilai. Masukkan suatu nilai antara 50 s.d. 200 — cobalah bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang paling nyaman dilihat.

Lalu pilih menu File –> Export Selected Images… Pilih “PDF” untuk formatnya, dan pilih folder untuk menyimpan berkas PDF (bisa di folder yang sama dengan berkas aslinya). Sekarang semua berkas telah berubah menjadi PDF, tetapi masih terpisah-pisah. Tutup jendela Preview (Cmd-W atau File–>Close).

Untuk menyatukan berkas-berkas PDF tadi, buka folder tempat menyimpan berkas PDF tadi. Pilih semua berkas (Cmd-A), lalu klik-kanan, pilih “Open with…” dan pilih Preview.app. (Kalau aplikasi default di komputer Anda untuk membuka berkas PDF adalah Preview.app, maka pada langkah di atas Anda tinggal tekan Cmd-O).

Sekarang semua berkas PDF akan terbuka dalam satu jendela Preview.app. Ingat bahwa semua berkas masih terpisah-pisah. Klik ikon di kiri atas dan pilih “Contact Sheet”.

Screenshot 2012-12-12 at 17.06.48Tekan Cmd-A. Lalu tekan tombol Command dan klik di berkas pertama (yang nantinya akan menjadi halaman pertama buku komik ini).

Screenshot 2012-12-12 at 17.10.46

Sekarang, seret (click-drag) berkas mana saja (kecuali berkas pertama), lalu jatuhkan di thumbnail berkas pertama. Perhatikan bahwa ikon pointer tetikus akan berubah menjadi tanda tambah, yang artinya ada proses salin-rekat terhadap berkas pertama.

Screenshot 2012-12-12 at 17.13.43

Perhatikan bahwa berkas pertama sekarang berisi sekian banyak halaman. Secara default (untuk versi Preview.app sejak Mac OS Lion) berkas tersebut sudah disimpan sebagai berkas PDF multi-halaman. (Saya tidak tahu apakah trik ini berlaku di Preview.app pra-Mac OS Lion; seandainya iya, mungkin masih harus Save-as secara manual).

Selesai. Tutup jendela Preview.app tadi, lalu kembali ke folder tempat penyimpan berkas PDF tadi. Berkas pertama sudah berisi halaman-halaman dari berkas yang lainnya. Anda bisa menghapus berkas PDF selain berkas halaman pertama tadi, yang sekarang sudah menjadi buku yang lengkap.

NB: terima kasih untuk para pembuat komik H2O yang menyediakan komik gratis ini.





“Zero Tolerance”

20 06 2012

Pagi ini, sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi terhadap saya.

Dalam perjalanan ke kantor, ban mobil saya kempis. Saya merasakan getaran yang tidak biasa di ban belakang sebelah kanan, dan kemudian ada pengendara motor yang menunjuk ke arah ban saya. Segera saya menepi, keluar dari mobil dan mengecek ban. Ternyata ban sudah kempis total. Entah kempis perlahan-lahan, atau tiba-tiba langsung kempis total. Saat itu, saya masih ingat untuk mengunci pintu kendaraan.

Ya, itu adalah prosedur standar yang saya terapkan: jika ada masalah di jalan, menepilah jika situasi tidak terlalu rawan; dan selalu kunci pintu mobil. Kebetulan lokasi kejadian sudah dekat dengan kantor, dan pastilah banyak rekan-rekan kantor yang lewat di tempat itu. Jadi saya tidak ragu untuk menepi, dan saya merasa sudah melakukan langkah pengamanan secukupnya dengan mengunci pintu mobil.

Kemudian saya mengeluarkan dongkrak dan mencoba menurunkan ban cadangan. Ketika harus membuka pintu belakang (mobil yang saya pakai jenis mobil penumpang multiguna), saya membuka kuncinya secara manual (bukan dengan central lock). Jadi pintu samping masih aman. Tetapi karena alarm berbunyi (karena pintu belakang dibuka), saya membuka central lock. Kemudian saya mengendorkan baut roda dan mencoba menurunkan ban cadangan. Tetapi ada masalah dengan engkol untuk menurunkan ban cadangan. Jadi saya menelpon rekan kantor untuk minta bantuan. Sambil menunggu datangnya bala bantuan, saya berdiri di belakang mobil dengan posisi menghadap mobil, sehingga saya akan bisa melihat kalau ada orang mendekat.

Sejauh ini belum ada masalah. Saya menggeser ransel saya, yang tadinya ada di jok tengah sebelah kiri, ke lantai sebelah kanan. Tetapi saya tidak mengunci pintu. Karena saya merasa saya dalam posisi siaga mengawasi lingkungan sekitar. Apalagi ketika dua rekan kantor datang dan mulai membantu membongkar ban yang kempes serta menurunkan ban cadangan, saya merasa sudah aman.

Nah di sinilah masalahnya. Ketika satu rekan sedang memasang ban, saya berjongkok sambil mengawasinya. Satu rekan lagi juga sedang jongkok di belakang mobil. Tiba-tiba terasa ada seseorang menaiki mobil karena kedudukan m0bil bergoyang. Rekan yang sedang di belakang tadi segera berdiri dan melihat pintu tengah kanan sudah terbuka, dan dia melihat seseorang berlari dari arah mobil menuju sepeda motor yang menunggu beberapa meter di depan mobil, membawa sesuatu yang seperti ransel. Ransel saya.

Singkat cerita, ransel tersebut raib dengan isi yang cukup berharga dan bernilai.

Yang perlu saya bahas di sini adalah prosesnya. Hanya satu kesalahan saya: tidak mengunci pintu, dan merasa aman dengan adanya teman. Dan satu kesalahan kecil inilah yang menyebabkan musibah tersebut. Bukan karena saya tidak tahu mengenai risiko bahaya kecurian dengan modus seperti itu, tetapi karena saya lalai menerapkan prosedur pencegahannya.

Ada istilah “Murphy’s Law” yang bunyinya kira-kira “Anything that can go wrong, will go wrong“. Maksudnya, kira-kira: jangan menganggap bahwa suatu bencana atau musibah tidak akan terjadi. Kita tidak akan tahu kapan bencana atau musibah terjadi, oleh karena itu kita harus siap siaga setiap saat. Kita harus menetapkan dan melaksanakan prosedur untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun seringkali orang mengabaikan prosedur semacam ini dengan dalih “ah, aman kok. Nggak akan terjadi apa-apa”.

Asas zero tolerance (dalam konteks manajemen risiko)  adalah sikap disiplin dalam menerapkan prosedur, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Ketika suatu prosedur dikompromikan — seperti yang saya lakukan di atas — maka terbuka peluang terjadinya bahaya, yang bisa menimbulkan kerugian materi dan cedera, atau bahkan kematian. Maka itu, marilah kita terapkan sistem zero tolerance ini!

NB: musibah juga bisa terjadi karena faktor luar sepenuhnya, yang di luar kendali kita, sehingga apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, mungkin tidak akan bisa menghindarkan kita dari kejadian itu atau pun mengurangi dampaknya. Bukan berarti kita hanya bisa pasrah, tetapi kita harus terus waspada dan taat kepada prosedur yang sudah ada.

PS: ada satu lagi kelalaian saya dalam kasus ini, yaitu belum membuat cadangan (backup) data di laptop, yang ikut raib bersama ransel saya. Sebelumnya saya sudah mempunyai kebiasaan membuat cadangan data secara teratur. Tetapi, ketika saya menggunakan komputer baru (yang baru saya pakai 2 bulanan), sistem backup yang lama tidak sesuai dan harus dimodifikasi. Dan, saya selalu berpikir: “nanti, kalau sudah ada waktu, saya akan bikin sistem backup untuk komputer yang baru ini“. Sayangnya janji ini terlambat terlaksana… sangat terlambat.





Convert scanned documents to editable text – For Free!

12 06 2012

Sometimes you have scanned documents and want to convert the image into text for easy editing. “Optical Character Recognition” (OCR) softwares have been available for a long time for this purpose. However, the effectiveness of OCR software is usually proportional to the price — better result, higher price and v.v.

There’s one free alternative, though. Google docs. Here’s how.

1. Have a Google account (you can borrow someone else’s, but really, why not create your own if you don’t have one?)

2. After logging in to your Google account, go to https://docs.google.com

3. Click the “upload” button

You can upload single files or folders containing several files. For now let’s try just one file.

4. After you select your file(s), a dialog box will appear.

Check the “Convert text from PDF and image files to Google documents” option which starts the magic.

5. When the upload is successful and finished, it will appear in your list of documents.

6. Now initiate download. Check the checkbox in front of the file’s name. Then click the “More” button (it would be invisible if no files are selected). Choose “Download” from the drop-down menu.

7. Another dialog will appear to confirm the download and choose the format. Since you’d want to edit the file in a text editor or word processor, choose the format that you prefer (there are plain text, rich text, HTML,  MS Word and Open Document formats). Then click Download.

8. Voila, your document is ready for text editing! (Look in your browser’s default download folder.)

Caveat:

  1. With any OCR software, the success rate depends on the quality of the scan, in particular the contrast, sharpness, resolution, and alignment.
  2. There are limits on how big and how many files you can upload at a time.
  3. If you’re concerned about your file’s secrecy, delete the document from Google doc after you’ve downloaded the OCR-ed file. However, I can’t guarantee that Google will not keep a copy in its cache, and whether it will not make it public. If this doesn’t comfort you, then you’d better buy your own OCR software.

Update 2012/08/06

Google docs has slightly changed the interface during upload. Now there’s no more confirmation dialog for the upload settings; instead, it will upload your files right away. While the upload is still in process, you’ll see the upload progress window; there on the top bar of this window you’ll see “Settings”, if you click on this, a drop down menu will appear with three options. Check the “Convert text from uploaded PDF and image files” option for the OCR.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.