Satuan ons dan pons: masih bisakah digunakan di Indonesia?

2 02 2010

Sistem pengukuran di Indonesia mempunyai dasar hukum utama Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal (UUML 2/1981). Pasal 2 undang-undang ini menyatakan “Setiap satuan ukuran yang berlaku sah harus berdasarkan desimal, dengan menggunakan satuan-satuan SI“. SI (singkatan dari le Systeme International d’Unites atau Sistem Internasional Satuan) adalah suatu sistem yang mendefinisikan satuan-satuan pengukuran yang digunakan secara universal oleh negara-negara anggota Konvensi Meter. Dengan begitu, sesuai UUML 2/1981 maka satuan ukuran yang dapat digunakan secara sah di Indonesia adalah satuan-satuan SI, yaitu: meter (untuk besaran panjang), kilogram (massa), sekon (waktu), amper (arus listrik), kelvin (suhu), kandela (kuat cahaya), mole (kuantitas zat). UUML 2/1981 juga menjabarkan kelipatan (multiple) dan pecahan (submultiple) untuk tiap-tiap satuan ukuran, yaitu berupa prefiks mili-, kilo- dan sebagainya.

Di luar SI, kita mengenal sistem satuan lain misalnya sistem Inggris, yang menggunakan satuan foot untuk panjang dan pound untuk berat. Sistem ini diadopsi menjadi sistem pengukuran yang digunakan di Amerika Serikat (AS). Di Inggris sendiri, sistem ini kemudian dimodifikasi menjadi sistem Imperial. Maka ada sedikit perbedaan antara foot dan pound yang digunakan di AS dan di Inggris saat ini, tetapi tidak terlalu jauh berbeda dengan foot dan pound dalam sistem Inggris yang awal: 1 foot kira-kira sama dengan 0,3 meter, dan 1 pound kira-kira sama dengan 0,4 kilogram.

Ada juga sistem pengukuran yang digunakan di Belanda sebelum sistem Metriks, yang menggunakan satuan yang mirip dengan satuan dalam sistem Inggris yaitu “ons” dan “pond”. Satu ons Belanda pada awalnya kira-kira sama dengan 31 g dan satu pond kira-kira sama dengan 0,48 kilogram. Setelah Belanda menggunakan sistem Metriks, secara resmi satuan ons dan pond tidak digunakan; namun dalam praktek sehari-hari, nama satuan ons dan pond masih digunakan dengan nilai yang disesuaikan dengan satuan metrik, yaitu ons menjadi sama dengan 100 gram dan satu pond menjadi sama dengan 0,5 kilogram. Perlu ditegaskan bahwa ini adalah “ons Belanda” dan “pon/pond Belanda”, tidak sama dengan “ons/ounce Inggris” atau “pond/pound Inggris”.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa satuan “ons” dan “pon/pond” tidak termasuk satuan resmi di Indonesia. Mungkin lebih tepat kalau satuan “ons Belanda” dan “pon/pond Belanda” disebut sebagai satuan “tradisional” yang bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari karena aspek sejarahnya, tetapi tidak bisa digunakan untuk keperluan resmi atau hal-hal yang bersifat legal. Contohnya, timbangan yang digunakan untuk keperluan perdagangan harus menggunakan satuan gram atau kilogram, tidak boleh menunjukkan satuan ons. Begitu juga barang-barang yang dijual dalam keadaan terbungkus (BDKT), jika bobotnya dituliskan pada kemasannya, harus dituliskan dalam satuan gram atau kilogram. Hal ini adalah amanat undang-undang yang berlaku saat ini.

Untuk keperluan pendidikan, seyogianya pendidik mengajarkan satuan ukuran yang legal, yaitu satuan SI. Satuan non-SI (dalam hal ini ons dan pon) boleh saja diajarkan sebagai sejarah, dengan penegasan bahwa satuan tersebut bukan satuan yang sah secara hukum.

Rujukan:

[1] Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal
[2] SI Brochure: http://www.bipm.org/en/si/si_brochure/
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_units_of_measurement
[4] Otoritas metrologi





Diproteksi: Daftar Alamat dan Silsilah Anggota Keluarga Besar Partoatmodjo

16 11 2009

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Menambahkan karakter khusus di “formula editor” OpenOffice

30 06 2009

OpenOffice.org adalah sebuah paket program aplikasi perkantoran yang setara dengan Microsoft Office. Setara dalam pengertian bahwa fungsi-fungsi utama Microsoft Office dapat dijalankan oleh OpenOffice.org, yaitu mengedit dokumen perkantoran, membuat lembar hitungan dan membuat/menayangkan bahan presentasi.

Salah satu bagian dari OpenOffice.org adalah Formula Editor, yang kira-kira sama dengan Equation Editor di MS Office. Sama dalam pengertian bahwa fungsinya sama-sama untuk membuat/mengedit persamaan matematis; tetapi berbeda dalam penggunaan. Formula editor di OOo lebih mirip TeX, yaitu menggunakan kode-kode tertentu untuk membangun karakter atau bentuk rumus tertentu. Contohnya, untuk membuat rumus berikut:

formula

kita harus mengetikkan kode berikut pada Formula Editor:

y = {a x^2 + b x^3} over sqrt{sin(%alpha)}

Bagi yang sudah terbiasa menggunakan TeX, mungkin cara membuat rumus seperti di atas tidak terlalu aneh, tetapi mungkin kelihatan rumit bagi yang terbiasa menggunakan Equation Editor di MS Office yang menyediakan editor grafis.

Salah satu hal yang agak ‘kurang’ di OOo adalah palet atau katalog untuk karakter-karakter khusus, misalnya huruf-huruf Yunani dan simbol-simbol matematis. OOo memang menyediakan palet atau katalog untuk menambahkan karakter-karakter khusus tersebut.

pallette

Tampak di atas, palet untuk huruf-huruf Yunani. Ada set lain untuk simbol-simbol matematis. Masalahnya, palet untuk simbol matematis hanya menyediakan sedikit pilihan simbol. Bagaimana kalau kita mau memasukkan simbol yang belum ada di dalam palet? Kita bisa menambahkannya sendiri dengan langkah-langkah berikut. Contohnya, saya mau menambahkan karakter “kira-kira sama dengan” atau “≅”

  1. Dari menu Equation Editor, pilih Tools → Catalog.pallette-symbol
  2. Klik “Special” di bawah “Symbol set”. Klik “Edit…”.edit_symbols
  3. Ketik nama karakter di kotak “Symbol”, misalnya “approx”.
  4. Klik karakter untuk “approx” di tabel karakter.
  5. Karakter yang dipilih akan muncul di kotak kanan bawah.
  6. Klik “Add”
  7. Simbol yang baru sudah masuk ke katalog dan siap digunakan.pallette-symbol_added




Upgrade OpenOffice.org 3.1 di openSUSE 11.1

17 06 2009

openSUSE 11.1 adalah versi terbaru distro tersebut pada saat posting ini dibuat. Distro tersebut sudah menyertakan OpenOffice.org (OOo) versi 3.0. Namun pada saat ini sudah terbit OOo versi 3.1, yang mempunyai beberapa fitur baru dibandingkan 3.0.

Berikut ini adalah langkah-langkah instalasi OOo 3.1 di openSUSE 11.1 dengan menggunakan repository di internet.

Pertama, pastikan bahwa koneksi internet sudah disetel dengan benar. Jika menggunakan proxy, atur dulu di Yast — Network services — Proxy. Centang “Enable proxy”, tulis alamat proxy dan nomor portnya dengan format http://alamat.proxy:nomorport. Masukkan username dan password untuk proxy di tempat yang sesuai. Klik “Finish”.

Langkah berikutnya, kita pergi ke Terminal dan buka ritsluiting alias Zypper. Untuk main di Terminal, kita harus jadi superuser alias root. Urutan perintahnya seperti di bawah ini.

su

zypper ar http://download.opensuse.org/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/ openoffice

zypper mr -r openoffice

zypper up -t package -r openoffice

Kalau alamat repo di atas tidak berfungsi atau susah diakses, bisa coba alamat repo dalam negeri: http://dl2.foss-id.web.id/opensuse/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/

Setelah perintah terakhir diketikkan, ada beberapa prompt yang harus dijawab. Setelah itu proses downOOo3.1load paket dari repo akan berlangsung (sekitar 124 MB). Kalau sambungan internet lancar, proses akan berjalan sendiri hingga tuntas.

Sekarang OOo 3.1 sudah siap dipakai :)

Thanks to bung Vavai dan bung Andi Sugandi untuk petunjuknya di milis id-opensuse.

zypper ar
http://download.opensuse.org/repositories/OpenOffice.org:/STABLE/openSUSE_11.1/openoffice

zypper mr -r openoffice

zypper up -t package -r openoffice





Membuat cadangan data Address Book.app secara otomatis

3 04 2009

Saya kehilangan data alamat di Address Book.app.

Awalnya, ketika sedang mensinkronkan Address Book.app dengan ponsel SE K618, muncul dialog yang mengatakan (kira-kira) “ada konflik data antara Address Book dengan data di ponsel”. Tanpa membaca teliti (karena sebelumnya sudah sering muncul peringatan seperti itu, dan biasanya saya iyakan saja), maka saya iyakan dialog itu.

Hal berikutnya yang saya sadari adalah: data Address Book.app kosong melompong. Dan ketika saya cek ponsel, ternyata phonebook di ponsel pun kosong melompong. Mungkin terjadi konflik data antara Address Book.app dan ponsel, tetapi entah kenapa jadi kedua-duanya disapu habis.

Untungnya, sebelumnya saya pernah mem-backup data Address Book.app; sayangnya, backup terakhir adalah 5 bulan yang lalu. Artinya, saya kehilangan nomor-nomor yang baru saya tambahkan dalam lima bulan terakhir!

Apa lacur? Data sudah hilang, tidak akan kembali. Yang saya pikirkan sekarang: bagaimana cara membuat backup secara rutin dan otomatis. Sayangnya, saya belum pakai Leopard, jadi tidak punya Time Machine. Solusinya, saya bikin sistem otomatis sendiri untuk mem-backup file yang berisi database Address Book.app

Saya mulai dengan membuat workflow di Automator.app yang kira-kira isinya:

  1. Get Specified Finder Items. Finder item yang dipilih adalah file AddressBook.data dan AddressBook.data di folder home/Library/Application Support/AddressBook.
  2. Copy Finder Item ke suatu folder yang terpisah.
  3. Rename file tersebut dengan format “yyyy-dd-mm-filenameasli
  4. Save workflow ini sebagai app.

Lalu buat recurring event di iCal, misalnya seminggu sekali setiap Jumat pagi. Di alarm, pilih “Open file”, kemudian pilih file workflow.app yang dibuat di atas. Voila! Dengan sistem ini, data Address Book saya akan terbackup secara rutin. Jika sewaktu-waktu Address Book.app crash lagi dan menghilangkan data, saya tinggal menyalin file AddressBook.data yang lama.





What’s a birthday?

1 01 2009

To some people, birthdays don’t matter — they see a birthday as just another day in their lives. This makes sense; after all, what’s the difference between a birthday and any other day?

To me, a birthday can be an excuse for making someone feel important and special — just for that day. (Pity those who are born on 29th February — it’s as if they’re only one-fourth as important and special as others).

A birthday is very personal, as opposed to the communal religious holidays or national holidays that are observed (and possibly celebrated) with fellow adherents or citizens. Birthdays are unique to every person (although not absolutely unique –more than one persons can have the same birthday). Saying “happy birthday” to a person is much more personal than saying “happy holiday” during the person’s observed holy day. Remembering a person’s birthday takes more effort than just remembering a commonly celebrated holiday.

It follows that receiving a birthday wish can make a person feel important or special because it shows that people care enough about him or her, regardless of whether he or she expected to be recognized or not. Likewise, if you want to show someone that you respect or care about him/her, give him/her a birthday message. It could be as simple as calling or greeting in person; sending a text message, email or some other form of electronic communication; or you can show your attention by giving gifts — your wallet is the boundary.

So, what’s a birthday? While it’s not mandatory to celebrate or even remember, on the other hand it’s a day when you can make someone feel special and important; that you respect or care about the person. Try to remember the birthdays of people who matters to you — your family, relatives, friends, colleagues, work mates, clients — and send them timely birthday wishes.

If you’re having your birthday, just keep an open mind. People may or may not know your birthday; they might know but forgot or don’t realize it, so don’t expect to get too much attention on that day. However, to those who give you birthday wishes — or even go to the full extent of arranging a party for you — you should appreciate their attention. Even if they got your birth date wrong — it still take some effort from them to send you a birthday wish.





Real vs. virtual birthdays

1 01 2009

I have two birthdays: my real-life birthday, and my virtual birthday.

My real-life birthday is easy to explain: that was the day my biological mother gave birth to me.

My virtual birthday is a bit problematic. It started when some internet sites required their subscribers/users to declare their birth dates when registering to use the services.

Personally, I don’t feel comfortable disclosing my personal details on the internet (unless it is legally required, and even then I would argue first). I don’t mind sharing my personal information with my friends and relatives, or with people with even the slightest acquaitance; but when it’s recorded online, there’s a chance that the information might be leaked to people with whom I don’t have (or don’t wish to have) any business.

I suppose the purpose of asking users’ birth dates is to verify the users’ identity in the case of lost password. Suppose someone registered to xyz.com and then forgot his/her password. He or she can then ask the website administrator to issue a new password, and the administrator can ask him/her some questions to verify that he/she is the genuine person. One of the question might the user’s birth date, with the assumption that only the genuine person would know one’s birth date. This is the only legitimate technical reason that I can imagine as being behind the policy. Still, I don’t think it’s right. Personal information should remain personal, despite the website administrators’ promises not to disclose the information, or the option to display or hide such information.

Therefore I came up with a solution: the virtual birthday. It’s an arbitrary (but consistent) date that I entered as my birth date when registering to a web service. To keep the lie minimum, I chose the same month and year as my real-life birthday (thereby avoiding giving the false perception of my age). So the “birthday” you see on my internet profile might actually be my virtual birthday.

Did I deceive anybody personally? I apologize if I did, and assure you I did not have any malicious intent in doing so. Particularly to those who, in good faith, sincerely wished me a happy birthday and many happy returns on my virtual birthday. I appreciate the attentions and intentions they offered me, as if it was my real birthday. I trust that they would have offered the same well wishes on my real birthday, had they known my real birth date. So please don’t feel deceived if you wished me happy birthday on my virtual birthday; I appreciate it all the same.

Did I violate some terms and conditions? I admit I did, but please don’t tell the website administrators, OK? :)





“Berbahasa jang Satoe”, atau “Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean”?

28 10 2008

Apakah anda ingat teks Sumpah Pemuda?

Mungkin ada yang mengatakan sebagai berikut:

Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku:

berbangsa satu, bangsa Indonesia;

bertanah air satu, tanah air Indonesia;

berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Mungkin urut-urutannya tidak sama, tetapi kebanyakan orang akan mengatakan “berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Benarkah demikian?

Ternyata tidak. Teksi asli Soempah Pemoeda menyebutkan:

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Perhatikan bahwa ada perbedaan substansial antara “menjunjung bahasa persatuan” (teks asli) dan “mengaku berbahasa satu” (teks yang sering diajarkan di sekolah; entah saduran siapa). Perbedaannya: “menjunjung bahasa persatuan” tidak berarti menafikan atau menabukan penggunaan bahasa yang lain. Kita masih bisa menggunakan bahasa daerah, bahasa asing, bahkan bahasa kontemporer atau bahasa ‘gaul’.

Kesalahkaprahan di atas mungkin hasil indoktrinasi Orde Baru yang ingin membuat segalanya serba seragam, termasuk dalam hal berbahasa. Maka itu orang-orang yang pernah mengalami hidup di jaman Orde Baru pasti ingat frasa “berbahasa yang baik dan benar”, yang kemudian diartikan bahwa bahasa yang “baik dan benar” itu adalah yang seperti di buku teks resmi pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Karena adanya indoktrinasi “bahasa yang baik dan benar” itu, banyak orang lantas menjadi latah untuk berbahasa. Di satu sisi, harus diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih berkembang, tidak seperti bahasa-bahasa lain yang telah mapan, terdokumentasi dengan baik dan terbakukan. Di sisi lain, penutur Bahasa Indonesia pun sebenarnya banyak yang masih belajar bahasa tersebut. Atau lebih tepatnya: banyak penutur Bahasa Indonesia yang sebenarnya belum fasih berbahasa Indonesia. Mereka merasa menggunakan Bahasa Indonesia (yang berbeda dari bahasa asing maupun bahasa daerah), tetapi sebenarnya yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dengan pengaruh-pengaruh lokal dan asing, serta “improvisasi” bahasa yang terjadi secara lokal dan temporer.

Akibat ketidakfasihan berbahasa Indonesia tersebut, timbullah kegagapan ketika orang dipaksa berbahasa baku; misalnya ketika menjawab pertanyaan ujian di sekolah atau perguruan tinggi, memberikan sambutan dalam forum resmi, menyapa orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi atau dihormati, menulis atau berbicara di media massa arus utama, dan lain-lain. Bentuk-bentuk kegagapan di antaranya:

  • menggunakan kata-kata yang kedengarannya “baku”, tetapi tidak pada tempatnya. Misalnya menggunakan untuk menghindari akhiran “-in”, maka menggunakan akhiran “-kan” dan “-i” tetapi terbalik-balik penempatannya
  • mati-matian menghindari istilah asing, walaupun istilah asing yang dihindari sebetulnya sudah menjadi istilah serapan yang baku
  • mengindonesiakan istilah asing secara mengada-ada, misalnya “garden” menjadi “gardena” pada nama-nama properti.

Contoh-contoh kegagapan tersebut mestinya bisa diatasi jika kita memahami intisari bahasa: bahasa adalah alat komunikasi. Pembakuan tatabahasa dan istilah dilakukan agar ada kesamaan pemahaman, sehingga tujuan komunikasi tersebut tercapai. Mengindonesiakan istilah-istilah asing saja tidak menjadikan suatu tuturan atau tulisan menjadi “Bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Demikian juga dengan penafian terhadap istilah-istilah dari bahasa daerah. Maka istilah “bahasa yang baik” adalah bahasa yang sesuai dengan konteks dan latar belakang penutur/pendengar atau penulis/pembacanya. Sedangkan “bahasa yang benar” adalah bahasa yang tatabahasanya mengacu kepada tatanan yang sudah dibakukan dan diterima secara umum. Therefore, using foreign languages in part of a speech is not a taboo, as long as it still uses the proper grammar in its own context. (Catatan: penggunaan kalimat berbahasa Inggris tadi tidaklah terlalu perlu, namun dilakukan hanya sebagai contoh saja.)

Kembali ke topik awal. Sekali lagi, kita menjunjung bahasa persatuan, tetapi tidak membinasakan bahasa daerah dan tidak menjauhi bahasa asing. Lebih jauh lagi, yang disebut bahasa persatuan itu — Bahasa Indonesia — adalah bahasa yang dinamis dan masih berkembang. Interaksi dengan bahasa asing dan bahasa daerah akan memperkaya Bahasa Indonesia, oleh karena itu tidak perlu ditabukan. Di sisi lain, penggunaan tatabahasa dan kosakata yang logis adalah hal yang utama; janganlah merusak bahasa dengan penggunaan kata-kata yang tidak tepat makna, atau susunan kalimat yang tidak runtut.

Selamat berbahasa dengan baik dan benar.





Artikel tentang Metrologi di Koran Hari Ini

24 10 2008




Upgrade Memory Macbook

30 09 2008

Setelah sekian lama menggunakan Macbook 1st gen (1,8 GHz) dengan RAM standar (512MiB), saya merasakan bahwa konfigurasi ini terlalu cémén untuk menjalankan beberapa aplikasi besar secara simultan. Aplikasi yang rutin saya gunakan bersamaan adalah Camino, Thunderbird dan OpenOffice, plus beberapa utility. Terasa sekali kalau sudah membuka dokumen yang agak besar di OpenOffice dan kemudian ingin pindah ke aplikasi lain, ada jeda waktu yang cukup mengganggu. Hal ini saya perkirakan karena memori yang kurang besar, sehingga prosesor harus memindah-mindahkan data dari RAM ke HD.

Jadi, sudah saatnya tambah RAM.

Saya mulai dengan mengamati diskusi di milis id-mac dan id-apple. Dari situ saya mempelajari spesifikasi RAM yang cocok untuk Macbook. Selain itu saya juga mengetahui bahwa supaya kerja RAM optimal, maka harus dipasang dua keping yang identik. Jadi untuk membuat kapasitas total RAM menjadi 2GiB, maka harus dipasang dua keping masing-masing 1GiB.

Kemudian saya melihat-lihat beberapa toko online untuk mengetahui kisaran harga. Harga SODIMM 1GiB berkisar di USD 22. Jadi untuk menjadi 2 GiB, saya perlu dana kira-kira Rp 500 ribuan. Dari beberapa website saya juga mempelajari cara membongkar Macbook untuk mengganti RAM. Cukup sederhana, kelihatannya. Tapi… saya masih agak ragu mau membongkar Macbook. Kalau komputer desktop saya sudah biasa; kalau laptop, saya belum pernah membongkar.

Akhirnya saya putuskan pergi ke Ratu Plaza saja. Di sana ada beberapa toko penjual produk Apple. Toko pertama saya datangi dan saya tanyai, “Punya memori buat Macbook?” Dijawab, ada. Berapa? 759 ribu rupiah. Mereknya apa? V-gen. “OK, saya lihat-lihat dulu ya” saya berbasa-basi. Lalu saya ke toko Apple yang lain. Di sebuah toko, saya mengulang pertanyaan di atas. Anehnya, jawabannya sama persis! Saya timbang-timbang, 759 ribu masih di atas anggaran yang saya siapkan. Jadi saya mau mencoba menawar.

Saya kembali ke toko pertama. “Yang tadi, barangnya ada?” Ada. Bisa kurang nggak? “Wah nggak bisa kurang. Tapi kalau mau coba, kita cariin di toko. Kalo kita yang datang, biasanya dikasi murah”. OK, boleh juga dicoba, saya pikir. Lalu salah satu teknisi toko itu pergi ke toko yang menjual komponen komputer generik. Tidak jauh-jauh, toko sebelahnya saja.

Di toko ini, ada memory Kingston 1 GiB dengan spesifikasi yang sesuai untuk Macbook. Berapa duit? Tertulis di label harganya: Rp 265.000. Tapi si engkoh pemilik toko memberikan harga Rp 210.000 sekeping. Deal? Deal! Saya bayar Rp 420.000 untuk 2 keping Kingston 1 GiB, lalu kembali ke toko Apple tadi. Saya berikan Macbook saya dan memori yang baru dibeli tadi ke si teknisi tadi. Nggak lama, dia keluar lagi dari bengkelnya. Si putih Macbook saya sudah 4 kali lebih pintar. “Nih, periksa dulu system profilenya. Sudah 2 GiB kan?” Dan sesuai tampilan di layar, memang sudah terpasang memori 2 x 1 GiB. Si teknisi meminta 100 ribu rupiah sebagai jasa. Fair enough, saya pikir. Kalau saya tahu cara memasangnya, tentu saya bisa menghemat 100 ribu rupiah. Tetapi kalau bukan karena teknisi itu, belum tentu saya bisa dapat harga murah untuk RAMnya. Jadi, total saya menghabiskan Rp 520.000 dan waktu setengah jam saja untuk menggembungkan RAM dari 512 MiB menjadi 2 GiB.

Sekarang menjalankan beberapa aplikasi sekaligus menjadi ringan. Saya bisa berpindah-pindah dari OpenOffice, Thunderbird dan Camino tanpa jeda waktu. Waktu startup untuk OpenOffice 3.0 RC1 juga menjadi jauh lebih cepat.

NB. Parkir di Ratu Plaza sucks (parkir basement ditutup).